Sukses

Atlantis dan Catatan Seorang Filsuf Yunani Kuno

Liputan6.com, Jakarta - Keberadaan Atlantis masih menjadi perhatian para peneliti antropolog. Beragam spekulasi muncul yang mengklaim tentang keberadaan Atlantis yang belum terungkap ini.

Atlantis disebut sebagai sebuah kota yang sudah menerapkan teknologi sangat canggih. Bahkan, Atlantis disebut-sebut sebagai kota yang hilang.

Dari berbagai data yang dihimpun, kota tersebut pertama kali disebutkan oleh seorang filsuf Yunani Kono Plato lebih dari 2.300 tahun yang lalu.

Atlantis juga dikenal sebagai salah satu misteri tertua dan terbesar di dunia. Belakangan, sejumlah ilmuan dikabarkan menemukan bukti-bukti yang mengarah kepada keberadaan Atlantis.

Beberapa spekulasi menyebutkan atlantis tenggelam di Kepulauan Mediterania, Gurun Sahara, Amerika Tengah, Antartika, Spanyol, bahkan Indonesia.

Dalam sebuah cerita, Plato menggambarkan atlantis sebagai kota raksasa. Namun, belum ada informasi spesifik tentang ukuran kota tersebut.

Dari cerita legenda, Atlantis dibangun oleh Dewa Laut, Poseidon. Bahkan, rumah baru yang dibangun oleh Poseidon atas cintanya di Kota Atlantis dikelilingi oleh cincin air dan tanah.

Beberapa hasil penelitian lain juga menyebutkan bahwa atlantis terletak di pulau Yunani kuno, Thera. Daerah tersebut saat ini menjadi Santorini. Ahli geologi mengatakan bahwa topografi Santorini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Plato.

Indikasi lain temuan atlantis adanya temuan Antikythera, yaitu alat misterius yang ditemukan di dalam kapal karam 1.000 tahun sebelum Masehi.

2 dari 3 halaman

Laut Jawa

Ahli komputer Jerman, Michael Hubner mengaku punya hipotesis lain soal Atlantis. Menurut dia, bisa jadi Atlantis hanya tenggelam sementara oleh tsunami dahsyat.

Kota kuno yang porak poranda itu lalu kembali muncul setelah ombak surut dan kembali ke laut. Hubner yakin, reruntuhan Atlantis tidak berada di dalam lautan melainkan berupa daratan yang berada di pesisir Maroko.

Hipotesis Hubner dicatat dalam buku anyar berjudul, 'Meet Me in Atlantis' karya penulis Mark Adams -- yang bahkan menyebutnya sebagai teori yang paling masuk akal.

Tak seperti para 'Atlantologists' -- para ahli Atlantis -- yang mengarahkan Adams ke Malta, Pulau Santorini di Yunani dan Andalusia di Spanyol, Teori Hubner mendukung keyakinan sang penulis.

Hubner, yang berasal dari Bonn, Jerman, mengkompilasikan sejumlah ciri geografis Atlantis yang diambil dari dialog Plato, 'Timaeus' dan 'Critias' -- dua tulisan di mana sang filsuf besar mendeskripsikan kota yang ajaib dan teramat canggih di masanya itu.

Hubner lalu menggunakan atribut-atribut tersebut, yang jumlah totalnya 51 buah, untuk analisis statistik dalam program pemetaan.

Sementara itu, penelitian Ahli Teknik Hidrologi Dhani Irwanto memperkirakan lokasi Atlantis berada di laut Jawa, di lepas pantai Kalimantan.

Ibu kota Atlantis identik dengan terumbu karang Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Gosong Gia terletak 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Sebagaimana catatan Plato yakni ibukota Atlantis ada di laut yang dikelilingi benua tak terbatas, yang lainnya adalah samudera yang sebenarnya. Bekas kotanya sekarang berada di bawah laut. Tak dapat dilayari dan ditembus karena tertutup terumbu karang.

Bahkan, menurut catatan Plato yang lain menyebutkan, ciri-ciri atlantasi terdapat mata air panas dan dingin. Batu berwarna putih, hitam dan merah. Bebatuannya dilubangi untuk atap galangan (kapal) ganda.

Menurut Dhani, catatan plato tersebut mirip dengan Pulau Bawean, Gresik. Ada mata air panas dan dingin, hingga bebatuan beku berwarna merah, putih dan hitam.

Di bawah bebatuan tersebut bisa dijadikan tempat penyimpanan kapal-kapal.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: