Sukses

Sukses Optimalkan Vaksinasi, Akademisi Unud Yakin Bali Bisa Buka Pariwisata

Liputan6.com, Denpasar - Untuk membuka pariwisata selama masa pandemi Covid-19, Provinsi Bali harus bisa melaksanakan vaksinasi hingga 70 persen dari total penduduk Bali.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahli Virologi dari Universitas Udayana (Unud) Bali, Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika, saat bincang santai di Kubu Kopi Bali, Minggu (20/6/2021).

Menurutnya, 70 persen vaksinasi Covid-19 harus diprioritaskan untuk kelompok berisiko, yaitu yang berusia 18 tahun ke atas.

“Tidak hanya bagi lanjut usia (lansia). Namun juga diprioritaskan bagi mereka yang masuk kelompok sosial aktif, seperti mahasiswa dan pelajar SMA," katanya.

Mahardika mengatakan, jika pelaksanaan vaksinasi sudah mencapai 70 persen, kasus baru Covid-19 akan melandai.

Sehingga, akan memberi kenyamanan bagi masyarakat setempat dan juga wisatawan yang datang. Hal itu juga diyakininya, bisa membuat kepercayaan wisatawan asing berani datang lagi ke Bali.

"Di Inggris, cakupan vaksinasi mencapai 50 persen. Sementara ini, sudah berhasil mengendalikan kasus. Dari yang sebelumnya hingga 70.000 kasus per hari pada Januari 2021, kini menjadi sekitar 2.000-3.000 kasus per hari," ucap akademisi Unud ini.

Diungkapkannya, Bali sudah harus harus mempercepat pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Terutama untuk dosis kedua, hingga mencapai lebih dari 50 persen.

"Baru nanti akan terlihat dampak dari vaksinasi tersebut," ungkapnya.

 

2 dari 4 halaman

Target Vaksinasi Covid-19

Untuk diketahui, hingga Jumat (18/6/2021), warga di Bali yang sudah mendapatkan vaksin untuk dosis pertama sebanyak 1.874.213 orang. Serta vaksin untuk dosis kedua, sebanyak 706.089 orang.

Vaksinasi tersebut ditargetkan ke 3 juta orang, untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity sebanyak 70 persen. Yaitu dari total populasi masyarakat Bali yang berjumlah sekitar 4,3 juta jiwa.

"Wisatawan ketika masuk ke Bali pun, harus diseleksi dengan uji swab PCR. Tidak bisa ditawar-tawar hanya menggunakan rapid antibodi, rapid antigen ataupun Genose,” ujarnya.

3 dari 4 halaman

Uji, Lacak dan Isolasi

Karena menurutnya, sensitivitas tes Covid-19 tersebut, hanya sekitar 75-80 persen. Sehingga penanganannya menjadi tidak maksimal.

Ia berharap, pemerintah daerah lebih menggencarkan Uji, Lacak dan Isolasi (ULI), untuk menekan penyebaran Covid-19 di Bali.

"Fluktuasi kasus baru Covid-19, masih sering terjadi. Karena ULI tidak pernah dilakukan dengan cara intensif, akibat berbagai keterbatasan yang terjadi di lapangan," ucapnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :