Sukses

Menyemai Solidaritas di Pasar Gratis Bandung

Liputan6.com, Bandung - Minggu sore  (15/11/2020) di bawah Jalan Layang Pasupati, Bandung Wetan, tampak ramai. Seorang wanita paruh baya terlihat sibuk memilih beberapa lembar pakaian. Matanya nyalang ke tumpukan baju yang masih laik pakai di depannya. Ia terus memperhatikan baju tersebut, memperkirakan ukuran pakaian itu.

Beberapa lembar baju ia rentangkan lebar-lebar. Jika tak cocok, tangannya akan kembali menggali tumpukan yang lainnya.

Wanita paruh baya itu tak sendirian. Beberapa wanita lain juga berupaya keras mencari baju atau celana yang pas di tubuh mereka. Semua pakaian yang dihamparkan di atas spanduk bekas itu bebas diambil siapa saja.

Tak hanya kaum ibu, beberapa pria pun ikut memburu pakaian yang disediakan. Uniknya, semua yang datang tidak perlu merogoh kocek. Mereka tinggal mengambil mana yang disuka. Semuanya gratis.

Selain orang dewasa, anak-anak kecil juga ada yang ikut berpartisipasi memilih baju. Tangan-tangan mungil itu bahkan lebih cekatan, mereka meraih pakaian lebih banyak dibanding orang dewasa.

Begitulah suasana Pasar Gratis Bandung yang diinisiasi sejumlah pemuda. Pasar yang digelar di bawah Jembatan Pasupati, Kota Bandung, itu mengusung semangat 'satu hari tanpa uang'.

Semua barang yang tersedia di Pasar Gratis Bandung ini disediakan secara gratis untuk masyarakat dan siapa saja yang datang pada acara tersebut. Selain pakaian, ada makanan gratis, lapakan pangkas rambut secara cuma-cuma, dan kegiatan mewarnai gratis untuk anak-anak. Pengunjung pun bisa membaca buku di tempat dan mengambil secara gratis buku pelajaran.

Salah satu pengunjung Pasar Gratis Bandung, Entin (45) mengaku bersyukur bisa mendapatkan tiga potong baju yang masih sangat laik pakai.

"Ya senang ada lapakan gratis mah. Lumayan bajunya masih bisa terpakai," ucap ibu dua anak itu.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Tak Sekadar Pasar

Salah satu penyelenggara Pasar Gratis Bandung yang biasa dipanggil Bara mengakui, semua barang di lapaknya dijajakan gratis. Ia bersama beberapa pemuda yang menggelar acara ini membolehkan siapa saja untuk datang dan bergabung.

Bara menjelaskan bahwa Pasar Gratis ini bukan acara amal, tetapi bentuk kritik terhadap pemerintah yang melihat kemiskinan hanya dari angka. Nyatanya, masih terdapat ketimpangan dan banyak orang yang mengalami kesulitan.

"Kami bukan bikin aksi amal, tetapi ini adalah bentuk protes kami kepada pemerintah," kata Bara.

Lapakan yang dimulai pada pukul 16.00 WIB ini memang terlihat dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan muda, hingga lanjut usia. Ada yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, juru parkir, dan pedagang asongan.

Bara mengatakan, gagasan membuat Pasar Gratis muncul ketika ia membuka dapur umum dan menggelar donasi makanan pada bulan Ramadan lalu. Kemudian, ia dan temannya berinisiatif untuk menggelar lapakan tersebut.

"Semakin lama kan pada bulan puasa itu intensitas orang untuk membeli baju makin banyak, sedangkan orang yang tunawisma tidak bisa merasakan itu. Untuk makan saja mereka masih mikir dua kali. Makanya kita berinisiatif lapakannya bukan hanya makanan saja," ungkap Bara.

Di masa pandemi Covid-19 ini, Bara melihat permasalahan yang dihadapi masyarakat semakin kompleks. Tidak sedikit ia menemukan orang yang datang ke Pasar Gratis adalah mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ia tak menampik jika pemerintah sudah mendistribusikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Namun, nyatanya di lapangan masih ada banyak masyarakat yang mengalami kesulitan seperti mendapatkan sandang dan pangan.

Bara bersama rekannya berinisiatif untuk terus menumbuhkan solidaritas antar komunitas dan bisa membantu rakyat yang sedang membutuhkan. Ia berharap Pasar Gratis ini dilaksanakan secara rutin dan informasinya bisa menyebar secara luas agar banyak masyarakat bisa terbantu.

"Kami menerima apapun donasinya dari masyarakat. Kita salurkan bentuknya dalam bentuk lapakan ini. Biasanya, kita mengumpulkan apa saja yang telah disumbangkan, kemudian menyusun semua barang dan makanan seperti orang berjualan tapi semua gratis," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini