Sukses

Skenario Terbaik Menghadapi Situasi Terburuk Pandemi Corona Covid-19 di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Per 31 Maret 2020, kasus positif Virus Corona Covid-19 nyaris telah terkonfirmasi di seluruh provinsi Indonesia. Semuanya kini dalam kondisi waspada tinggi Corona, tak terkecuali di Cilacap, Jawa Tengah.

Cilacap boleh jadi adalah salah satu wilayah paling berisiko. Kabupaten pesisir selatan yang berimpitan dengan Samudera Hindia ini punya pekerja migran yang sangat banyak, baik domestik maupun luar negeri.

Tilik data ini. Akhir Maret 2020, Pemerintah Kabupaten Cilacap mencatat sebanyak 15.463 orang mudik, terbanyak dari Jakarta, kota di mana kasus positif Corona Covid-19 terkonfirmasi paling tinggi di Indonesia.

Risiko ini tak main-main. Pasalnya, kasus orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) hingga positif Corona Cilacap didominasi oleh orang yang tinggal di daerah endemis, atau sempat singgah dan atau berinteraksi dengan penduduk dari wilayah endemis.

Jumlah orang dalam pemantauan per 31 Maret 2020 mencapai 683, dengan rincian 80 selesai pemantauan dan 603 lainnya masih dalam pemantauan. Kemudian, tercatat 34 PDP, dengan rincian 10 negatif, 24 menunggu tes swab dan tiga orang meninggal dunia.

Adapun kasus positif adalah dua orang. Dengan rincian satu dirawat, satu lainnya meninggal dunia.

Berbagai persiapan sedang digenjot oleh Pemkab Cilacap, melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Cilacap. Fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur pendukungnya terus diadakan untuk mengantisipasi skenario terburuk wabah virus Corona Covid-19 di Cilacap.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Cilacap, Farid Ma’ruf mengatakan Pemkab menyiapkan menyiapkan satu gedung atau blok khusus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap sebagai pusat perawatan pasien dalam pengawasan (PDP) virus Corona Covid-19.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

6 RS Perawatan Covid-19 Cilacap

Gedung perawatan penyakit paru-paru itu dialihfungsikan menjadi gedung khusus perawatan pasien Covid-19. Gedung dua lantai itu akan total digunakan untuk perawatan Covid-19, dengan kapasitas total mencapai 40 tempat tidur.

“Sementara ini yang sudah siap 20 bed. Yang lantai bawah,” kata Farid.

Persiapan untuk penanganan Covid-19 mencakup infrastruktur pendukung. Di antaranya ventilator yang sangat diperlukan oleh pasien Covid-19 dengan gejala parah. Meski belum sepenuhnya lengkap, dia berjanji akan segera memaksimalkan seluruh fasilitas demi perawatan Covid-19.

Selain RSUD Cilacap yang disiapkan sebagai RS rujukan lini dua, Cilacap juga menyiapkan lima rumah sakit lini tiga. Masing-masing rumah sakit akan menyiapkan ruang isolasi untuk perawatan Covid-19, jika situasi memburuk.

Rumah sakit tersebut yakni, RSUD Majenang, RS St Maria, RSPC, RSIF, RS Agisna Sidareja. Di kelima rumah sakit tersebut, ada sebanyak 22 tempat tidur (TT) isolasi untuk pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Bahkan, jika dibutuhkan lagi maka Dinkes dan Gugus Tugas Covid-19 Cilacap akan menyiapkan rumah sakit lini 3 tahap kedua, dengan jumlah tiga rumah sakit. Tiga rumah sakit tersebut berkapasitas 15 tempat tidur.

Tak hanya faskes dan pendukungnya, Pemkab Cilacap mempersiapkan penginapan khusus untuk menampung para dokter dan perawat yang bertugas menanangani pasien Covid-19. Gedung diklat dan wisma Darussalam disiapkan sebagai penginapan untuk tenaga medis Covid-19.

Farid menerangkan, tenaga medis adalah kelompok rentan yang harus diperhatikan. Karenanya, pemkab berupaya agar tenaga medis dalam kondisi terbaik. Pasalnya, mereka lah garda terdepan penanganan wabah Covid-19.

 

3 dari 3 halaman

Tenaga Medis dan Anggaran Penanganan Covid-19

“Jangan sampai tenaga medisnya ikut sakit. Kita sediakan makanannya juga dari pemda,” ucapnya.

Dalam penanganan Covid-19 ini, selain tenaga medis yang tersedia di RSUD Cilacap, Pemkab juga meminta agar seluruh Puskesmas mengirimkan perwakilannya. Sebab, tim medis tidak boleh sampai kelelahan. Karenanya butuh tenaga medis tambahan agar jam kerja masing-masing tenaga medis tidak melebihi standar.

“Setidaknya ada tambahan 38 tenaga medis, kalau melihat jumlah puskesmas di seluruh Cilacap,” ujarnya.

Betapa seriusnya Cilacap menangani Covid-19 juga tampak dari anggaran yang disiapkan. Pemkab menganggarkan sebanyak Rp28 miliar untuk percepatan penanggulangan wabah Covid-19.

Farid mengatakan dana tersebut berasal dari pergeseran atau pengalihan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) di bidang kesehatan. Selain itu, ada sejumlah proyek infrastruktur fasilitas kesehatan yang ditunda pembangunannya.

Semua anggaran itu, kata dia, difokuskan untuk penanganan Covid-19. Namun, dia pun mengklaim hal itu tak akan mengganggu pos anggaran kesehatan atau pelayanan sosial lainnya.

“Terus kita kan harus ada ambulans khusus, harus ada ruangan khusus, untuk APD, untuk insentif tenaga kesehatan, semuanya ada di situ,” dia menerangkan.

Dengan bantuan Badan Amil Zakat Nasional (baznas), Cilacap juga mulai memproduksi ribuan Alat Pelindung Diri (APD) baju hazmat secara mandiri. Itu dilakukan lantaran hazmat sulit diperoleh di pasaran dan berharga sangat mahal.

Simak video pilihan berikut ini: