Sukses

Buah Manis Bisnis Bos Sido Muncul dari Pemberian Pengobatan Gratis

Liputan6.com, Yogyakarta - Anggapan bisnis dan sosial harus sejalan tentu berlawanan konsep berbisnis yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun, bagi Irwan Hidayat, Direktur PT Sido Muncul, bisnis dan sosial justru menjadi kesatuan yang baik dalam perusahaan.

"Kami terus melakukan apa saja, kami bisnis sembari berbuat sosial. Ada yang bilang keduanya tidak bisa digabungkan. Tapi saya buktikan bahwa teori itu tidak benar," katanya saat menghadiri Operasi Katarak Gratis 2020 4000 Mata di RSUD Nyia Ageng Serang, Kamis (27/2/2020).

Irwan mengaku selalu ingin berkontribusi bagi masyarakat dengan berbagai cara, salah satunya dengan menyediakan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Namun, dana CSR ini hanya sekitar 2 persen, baginya tidak akan menjangkau semua kalangan. Sehingga, ia memakai dana lain agar bisa berbuat banyak secara sosial.

"Bukan pakai dana CSR tapi pakai dana iklan dan promosi sembari menyumbang, orang Jogja bilang itu kan pamer-pamer masuk TV, diundang wartawan," katanya.

Irwan Hidayat mengaku teringat dengan pesan ibunda agar ketika melakukan aksi sosial tidak perlu diketahui banyak orang. Namun, ia mengabaikan pesan itu dan tetap melakukan ini demi membantu orang banyak.

"Pesan mama saya, kalau tangan memberi, maka tangan kiri tidak boleh tahu. Lalu saya cari tahu, saya tahu, Sido Muncul (perusahaan) tidak beragama, ya kami boleh pamer," katanya.

Irwan menjelaskan yang dilakukan untuk aksi sosialnya dengan uang iklan. Hal ini agar aksi sosialnya dapat lebih luas dan dirasakan banyak orang.

"Saya tanya Pak Kiai, (jawabnya) Sido Muncul ora ono agamanya ora opo makanya yang digunakan adalah dana iklan. Supaya kami membantu yang dibantu seneng kami juga tumbuh," katanya.

Ia menjelaskan khusus operasi katarak ini, pihaknya telah membantu 54 ribu orang sejak tahun 2011 lalu. Tahun pertama susah mencari pasien, tahun 2012 ia meminta Nila F Moeloek menjadi bintang iklan operasi katarak.

"Inginnya dapat 5.000 pasien katarak yang datang 2.000, ya mungkin takut. Banyak ibu-ibu yang nganter temennya lalu berhasil, tahun besoknya baru mau. Terus bertambah pasiennya," katanya.

Tidak hanya di bidang kesehatan, aksi sosial juga dilakukan di bidang pariwisata melalui iklan. Iklan pariwisata yang dimulai dari Papua hingga Labuhan Bajo kini berimbas di masyarakat.

"Tahun 2010 di Labuan Bajo 18 ribu hotel cuma dua sekarang hotel 30 turis tahun lalu 200 ribu orang sana sudah berbeda. Kami spend Rp65 miliar untuk iklan pariwisata dari Papua sampai Labuhan Bajo," katanya.

Ia memiliki alasan sendiri memulai iklan pariwisata ini dari Papua atau sisi timur Indonesia. Menurutnya, semua hal dimulai dari timur seperti matahari terbit, sehingga ia tidak mau menyalahi kodrat alam tersebut. 

"Pas peletakan pertama itu batu. Bentuknya kepala burung. Jadi kayak terbang. Tapi bener lho kita maju gara-gara dari hal kayak gini. Dari hal sepele-sepele seperti ini," katanya.

Hingga saat ini, operasi katarak gratis telah memasuki tahun ke-10 dan telah dilaksanakan di 27 provinsi, 211 kota/kabupaten, 242 rumah sakit/klinik di seluruh Indonesia.

"Total yang dioperasi hingga Desember 2019 lalu berjumlah 54.000 mata," kata Irwan Hidayat.

2 dari 2 halaman

Banyak yang Operasi Katarak

Irwan juga mengapresiasi kepada para dokter mata dan Perdami yang ikut ambil bagian dalam kegiatan bakti sosisal operasi katarak ini. Menurutnya, sumbangsih dokter mata sangat tinggi dibandingkan apa yang dilakukannya.

"Penyumbang terbesar adalah dokter mata karena biasanya 10 juta tapi ini tidak dibayar. Untuk itu, kami melakukan penandatangan nota kesepahaman untuk 4.000 mata bersama Perdami. Saya senang, harapannya penderita katarak bisa beraktivitas kembali," katanya.

Dewan Penasihat Seksi Pemberantasan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Nila F Moeloek mengatakan saat ini mulai banyak yang operasi katarak. Hal ini juga karena keterlibatan dari bos Sido Muncul.

"Alhamdulillah ketemu Pak Irwan, lalu menawarkan 12 ribu per tahun," katanya.

Mantan Menteri Kesehatan mengatakan katarak bukan penyakit, tetapi memang karena usia. Layaknya orang beruban begitu juga lensa mata, yang kini kondisi itu bisa diatasi atas kemajuan teknologi.

"Harapan saya yang lain bisa memberikan tidak hanya tolak angin. Saya hargai alumni FK UGM 83 yang ikut acara ini, melakukan tindakan kemanusiaan," katanya. 

Menurutnya jumlah manusia lansia di Indonesia saat ini meningkat. Sehingga setidaknya ada 1 jutaan kebutuhan operasi katarak. 

"Empat tahun lalu kami asses 1,5 dari jumlah penduduk yang berbeda. Tertinggi di Jatim," katanya.

Sandrawati Said Direktur RSUD Nyi Ageng Serang mengatakan pihaknya sering menggelar bakti sosial operasi katarak. Tahun ini, target pasien katarak 75 orang dari kerja sama antara Sido Muncul dan alumni FK UGM angkatan 1983.

"Ini bukan kali pertama tapi tidak hanya katarak tapi juga bibir sumbing," katanya.

Sandra mengatakan kasus katarak di Kulon Progo cukup banyak. Banyak kasus buta karena katarak juga tinggi sehingga masyarakat senang dengan baksos operasi katarak. "Ini dua hari pelaksanaan 27-28 Februari 2020, rata-rata usia 40-an ke atas," katanya.

Pihaknya kerja sama dengan Puskesmas untuk menangani kasus katarak yang tinggi di Kulon Progo. Banyak warga yang datang untuk memeriksakan matanya saat mengeluh sakit.

"Yang periksa mata ketika tidak mengeluhkan sakit masih rendah. Kebanyakan ketika mengeluhkan sakit. Ini terhitung rendah masyarakat untuk periksa matanya," katanya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading