Sukses

Embun Es Dieng Muncul pada Musim Penghujan, Pertanda Apa?

Liputan6.com, Banjarnegara - Usai viral Keraton Agung Sejagat yang ternyata penobatan rajanya dilakukan di Dieng, tanah para dewa itu kembali bikin heboh dengan munculnya embun es alias bun upas, Sabtu pagi, 18 Januari 2020.

Anehnya, embun es Dieng itu muncul pada musim hujan. Dan ini adalah kali pertama bun beku yang mematikan tanaman kentang itu muncul pada bulan-bulan basah.

Lazimnya, embun es Dieng muncul pada kemarau, saat suhu benar-benar rendah. Suhu rendah, hanya tercapai saat langit tanpa tutupan awan.

Kepala UPTD Objek Wisata Dieng, Aryadi Darwanto mengaku kaget dengan munculnya embun es ini. Dia tak menyangka embun es akan muncul pada Januari.

“Ini yang pertama tahun ini dan yang pertama terjadi pada musim hujan,” ucapnya, lewat sambungan telepon.

Aryadi bilang, pada musim kemarau pun embun es tak mesti muncul tiap hari. Pada puncak suhu dingin, kisaran Juli hingga September, embun es terkadang muncul, tapi lebih banyak alpa.

Pasalnya, kemunculan embun es banyak dipengaruhi oleh kondisi cuaca di sekitarnya. Saat langit tanpa tutupan awan, bisa jadi dinihari atau pagi harinya akan muncul embun es.

“Malamnya biasanya sudah terasa sangat dingin. Suhu kemudian menurun sampai titik beku,” dia menjelaskan.

2 dari 3 halaman

Tanda-Tanda Sebelum Kemunculan Embun Es

Aryadi bercerita, malam sebelum muncul embun es, dia melihat termometer menunjukkan angka 10 derajat Celsius. Saat itu lah dia meyakini pada pagi hari suhu akan kembali turun.

Pagi sekitar pukul 04.00 WIB, termometer menunjukkan bahwa suhu dalam rumah adalah enam derajat Celsius. Mengobati penasarannya, ia lantas keluar rumah dan menuju kompleks Candi Arjuna.

Ternyata dugaannya benar. Suhu enam derajat Celsius di dalam rumah dan kisaran dan tiga atau empat derajat lebih rendah di luar ruangan memunculkan embun es. Meski tipis, fenomena embun es pada musim penghujan ini di luar kebiasaan.

Embun es membuat beberapa bagian candi memutih. Embun es tipis juga tampak menyelimuti tanaman perdu dan rerumputan di sekitar kompleks candi.

“Siangnya itu kan panas, cerah. Sorenya juga cerah. Kalau paginya itu di kompleks Candi Arjuna sekitar satu derajat,” dia mengungkapkan.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Setyo Ajie Prayodhie mengatakan berdasar hasil analisa BMKG, saat ini Provinsi Jawa Tengah memang sudah masuk musim hujan. Namun begitu, peluang terjadinya hujan sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan banyak faktor, baik regional maupun lokal.

Fenomena frost yang terjadi pada Sabtu pagi disebabkan oleh turunnya suhu ke titik beku. Suhu turun ke titik beku akibat tidak banyaknya tutupan awan yang berpotensi hujan.

3 dari 3 halaman

Baik dan Buruk Embun Es Dieng

Energi panas matahari yang terpantul dari bumi langsung hilang ke atmosfer, sehingga tidak ada pantulan balik ke bumi. Kondisi ini jika terjadi terus menerus menyebabkan udara semakin dingin.

“Perlu diketahui bahwa tanah lebih mudah menyerap panas dan lebih mudah melepaskan panas, ditambah lagi dengan topografi Dieng yang berupa dataran tinggi,” kata Setyo Ajie.

Setyo Ajie pun tak membantah embun es lebih berpotensi muncul pada kemarau. Pasalnya, saat kemarau langit cenderung tanpa tutupan awan. Akibatnya, panas akan lepas tanpa pantulan.

“Fenomena ini acap kali muncul pada dinihari. Menjelang pagi hari biasanya sudah kembali normal,” ucapnya.

Menurut dia, beberapa hari terakhir Dieng memang lebih cerah dari biasanya. Kondisi ini memungkinkan panas permukaan bumi terlepas dan berakibat menurunnya suhu. Jika terjadi terus menerus, maka suhu akan semakin turun hingga titik beku.

“Masyarakat jawa mengenalnya dengan istilah musim Bediding, di mana terjadi perubahan signifikan suhu,” dia menerangkan.

Setyo Aji mengungkapkan, banyak petani mengeluhkan munculnya bun upas lantaran berdampak buruk bagi petani sayuran di Dieng. Embun es menyebabkan bibit tanaman menguning dan mati.

Untuk mengantisipasi dampak buruk embun es, petani diimbau untuk mengatur pola tanam dengan memanfaatkan info iklim BMKG dengan memilih varietas tanaman yang resisten terhadap embun es.

“Tentunya juga aktif berkonsultasi dengan PPL pertanian bagaimana memperlakukan tanaman sehingga dapat meminimalisir dampak kerugian akibat bun upas bagi petani di Dieng,” ucapnya.

Tetapi, di luar dampak negatifnya, fenomena bun upas berdampak positif untuk pariwisata Dieng. Embun es menarik para pelancong yang ingin mengabadikan fenomena langka ini. Kunjungan di objek wisata Dieng pun meningkat.

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Embun Es Mewarnai Penobatan Raja Keraton Agung Sejagat di Dieng