Sukses

Legitnya 'Goblok' Bikin Meleleh di Mulut

Liputan6.com, Malang - Hampir sebagian orang yang suka berpelesir akan selalu menempatkan Malang sebagai salah satu tujuan favorit. Menikmati beragam objek wisata sampai menikmati berbagai sajian kuliner khas Malang.

Tidak sedikit makanan yang bakal mengingatkan kita ke Malang begitu menikmatinya. Ada pula kuliner khas Malang bernama unik. Karena mengasosiasikan pada kata umpatan kasar. Bukan karena namanya saja, tapi juga pembuatan dan momen penyajiannya.

Bila bertanya nama kuliner ini, jangan merah telinga begitu mendengar jawabannya disampaikan dengan intonasi tinggi. Kuliner itu bernama kolak Goblok atau kolak Kluntung. Kudapan khas di Desa Poncokusumo di timur Kabupaten Malang.

Kolak Goblok merupakan kudapan turun temurun dari para leluhur. Meski nama kudapan seperti makian, tapi menonjol rasa manisnya. Biasa dibuat serta disajikan pada hari-hari tertentu seperti hari ketujuh lebaran dan 1 Suro.

“Sejak kecil saya tahu namanya ya kolak Kluntung atau kolak Goblok. Orang-orang tua kami menyebutnya begitu,” kata Choirul Anam, warga Desa Poncokusumo, beberapa waktu lalu.

Bahannya terdiri dari labu, parutan kelapa dan gula Aren. Cara membuatnya, kulit labu dikupas sampai bersih. Bagian atas labu dibuat berlubang, kemudian parutan kelapa dan gula aren dimasukkan sekaligus di dalamnya. Terakhir, tinggal dikukus sampai matang.

Bagi penyuka makanan manis, kudapan ini sangat cocok untuk dinikmati. Perpaduan kelembutan labu dan parutan kelapa nan legit seolah meleleh begitu masuk mulut. Di dalam labu ada kuah hasil proses kukus. Menjadikan kudapan ini salah satu kuliner khas Malang.

“Itu resep warisan orang tua sejak dulu. Ini sebenarnya makanan istimewa di sini,” ucap Anam.

2 dari 3 halaman

Sajian Tradisi Rojo Koyo

Tradisi masyarakat Desa Poncokusumo, kolak ini selalu disajikan pada hari-hari istimewa. Selalu jadi sajian wajib dibuat dan dihidangkan di meja rumah pada saat hari ketujuh lebaran Idul Fitri. Disantap bersama maupun disuguhkan kepada kerabat yang bertandang.

“Biasanya dihidangkan di meja bersama ketupat segitiga saat lebaran ketupat,” tutur Choirul Anam yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Poncokusumo.

Tidak hanya di lebaran Idul Fitri, kolak ini juga jadi salah satu sajian khusus ketika tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro dalam sistem kalender Jawa. Di momen ini, kolak sekaligus jadi satu media ritual rasa syukur warga terhadap hewan ternak milik mereka.

Hewan ternak seperti sapi dan kerbau jadi simbol kekayaan pemiliknya alias rojo koyo. Sebuah kolak yang sudah dibuat, separuh di antaranya diberikan ke ternak mereka. Sedangkan sisanya dikonsumsi sendiri oleh pemiliknya.

Tradisi itu sudah turun temurun berlangsung. Bagi warga, berbagi dengan ternak itu ungkapan rasa syukur atas anugerah kekayaan mereka. Bila Grebeg Suro, kolak dan rojo koyo dibawa ke lapangan desa bersama berbagai makanan lainnya.

“Itu sudah jadi tradisi istimewa di sini. Semua yang punya ternak pasti menerapkan tradisi itu,” ucap Anam.

3 dari 3 halaman

Suguhan Wisatawan

Nah, sekarang kudapan manis ini bisa dibuat dan disajikan tidak hanya di dua momen istimewa tersebut. Tapi juga disiapkan sebagai hidangan istimewa untuk tamu – tamu yang datang berpelesir di desa.

“Kalau ada rombongan wisatawan dan sudah menghubungi kami lebih dulu, pasti disiapkan biar bisa menikmati hidangan khas desa kami,” ujar Anam.

Kepala Desa Poncokusumo, Mochamad Irwan mengatakan, kuliner khas di desanya itu jadi salah satu potensi unggulan yang bisa dinikmati siapa saja. Tidak perlu menunggu lebaran maupun Suro.

“Sudah kami tetapkan jadi salah satu produk unggulan yang bisa dinikmati siapa saja yang berwisata di sini,” kata Irwan.

Pelancong yang hendak menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari Malang pasti melewati Desa Poncokusumo. Sebab desa ini salah satu pintu masuk bagi siapa saja yang hendak ke Gunung Bromo atau menaklukkan Mahameru.

Simak video pilihan berikut ini:

Loading