Sukses

Suka Duka Belajar Bahasa Indonesia di Mata Mahasiswa Asing UGM

Liputan6.com, Yogyakarta - Belajar Bahasa Indonesia ternyata melahirkan suka dan duka bagi sebagian orang. Seperti kisah-kisah yang terekam dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (KIPBIPA) XI di UGM pada 7 sampai 9 Agustus 2019.

Daniel Ortiz, mahasiswa asal Kolombia ini berniat untuk melanjutkan pendidikan S2 jurusan Teknik Kimia di UGM. Namun, kendala bahasa membuatnya harus mempelajari bahasa Indonesia terlebih dulu. Lebih dari enam bulan ia belajar bahasa Indonesia di Indonesian Culture and Language Learning Service (INCULS). Lembaga bahasa ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Usahanya belajar bahasa ini juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Daniel kerap berinteraksi dengan teman-teman dari Indonesia.

"Kerap berbicara teman dari Indonesia ternyata cukup membantu banyak," ujar Daniel, Rabu, 7 Agustus lalu.

Tata bahasa menjadi persoalan yang sampai saat ini masih dihadapinya. Ia sulit mempelajari tata bahasa Indonesia yang dirasa berbeda dengan bahasa Spanyol.

Akan tetapi, untuk pengucapan justru ia nyaris tidak mengalami kendala. Menurut Daniel, pengucapan dalam bahasa Indonesia dan Spanyol mirip. "Hanya huruf C dan J saja yang berbeda," tuturnya.

Pisei Mean, mahasiswi dari Kamboja yang berniat mengenyam pendidikan S2 Teknik Arsitektur UGM ini juga belajar bahasa Indonesia di INCULS.

"Untuk persiapan S2 di UGM memang perlu belajar kosakata dan tata bahasa Indonesia," ucapnya.

 

2 dari 2 halaman

Sulit Mengikuti Percakapan

Pengalaman Kem Sokvicheaodom, mahasiswa dari Kamboja, belajar bahasa Indonesia juga menguras emosi. Ia belajar di INCULS karena akan melanjutkan studi S2 Peternakan UGM.

Ada masa ia merasa mudah menerima pembelajaran bahasa Indonesia, ada kala ia merasa gemas karena tidak paham sama sekali.

"Struktur bahasanya sebenarnya hampir sama antara bahasa Indonesia dan Kamboja, itu yang bikin saya semangat selama tujuh bulan ini belajar bahasa Indonesia," kata Kem.

Ia mengaku kerap jengkel saat belajar bahasa Indonesia terutama ketika mempraktikkan percakapan dengan teman-teman dari Indonesia. Ilmu yang diperolehnya seolah menjadi tidak berarti saat bercakap-cakap karena sebagian besar teman-temannya berbincang menggunakan bahasa daerah.

"Mereka berbicara bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa daerah dan tidak memungkinkan untuk saya cek langsung di Google Translate karena terlalu cepat," ujarnya.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Dengarlah Ketika Gamelan Bercerita tentang Instagram
Artikel Selanjutnya
Ketika Generasi Milenial Borong Buku untuk Dipajang di Medsos