Sukses

Benarkah Pendaratan di Bulan adalah Kebohongan?

Liputan6.com, Yogyakarta Pada Juli 2019 NASA merayakan 50 tahun pendaratan di bulan. Kabar Apollo 11 tiba di permukaan bulan pada 20 Juli 1969 dan Neil Armstrong melangkah kecil yang sekaligus membuatnya dicap sebagai manusia pertama mendarat di bulan, menjadi informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, apakah manusia benar-benar sudah melakukan pendaratan di bulan? Berbicara soal luar angkasa menjadi menarik karena penuh dengan misteri dan informasi yang tidak pernah utuh.

Penggagas Indonesia Space Science Society (ISSS) yang berada di bawah naungan House of Natural Fiber (HONF) Foundation, Venzha Christ, menjelaskan ada dua pandangan tentang pendaratan manusia di bulan, percaya dengan pendaratan di bulan dan tidak percaya dengan peristiwa itu.

"Saya pribadi tidak memercayai pendaratan di bulan," ujarnya seusai jumpa pers Konferensi Internasional Search for Extra-Terrestrial Intelligence (SETI) di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, Jumat (19/7/2019).

Bukan tanpa alasan Venzha mengemukakan pendapatnya. Ia menilai secara teknologi saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi jarak jauh, apalagi dengan teknologi roket. Secara logika, ia mencoba menalar, seandainya pendaratan di bulan benar-benar terjadi, mengapa pendaratan selanjutnya tidak pernah ada?

Meskipun demikian, ia memiliki penjelasan historis mengapa pendaratan di bulan selalu dirayakan. Simbol menjadi penting bagi peradaban dan kabar pendaratan manusia di bulan menjadi momentum yang membanggakan manusia kala itu.

Ia juga meyakini momentum itu memicu perkembangan teknologi saat ini. "Kalau tidak ada momentum itu, mungkin teknologi ponsel tidak berkembang seperti sekarang ini, bisa jadi lebih lambat," ucapnya.

Terkait kemungkinan adanya kebohongan untuk publik dari pendaratan di bulan, Venzha menanggapi dengan positif. Menurutnya, kebohongan selalu terjadi di segala lini sepanjang kehidupan manusia. Kebohongan positif dibangun untuk memicu perkembangan yang lebih baik.

 

2 dari 3 halaman

Orang Indonesia Pertama yang Ikut Pelatihan NASA

Venzha Christ awalnya dikenal sebagai seniman dari Yogyakarta. Ketertarikannya terhadap antariksa dan luar angkasa sudah dirasakan sejak kecil. Ia gemar mengoleksi beragam barang, komik, dan pernak-pernik yang membahas soal luar angkasa.

Ia pun mempelajari astronomi dan luar angkasa secara autodidak. Pada April 2018, Venzha terpilih mengikuti pelatihan NASA.

Venzha menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mengikuti pelatihan simulasi bertahan hidup di Planet Mars melalui Mars Desert Research Station (MDRS). Simulasi itu dilakukannya bersama dengan empat orang Jepang di Gurun Utah, Amerika Serikat.

"Saya diisolasi satu bulan dengan jadwal makan teratur, saya sarapan pukul 00.00, makan siang pukul 06.00, dan makan malam pukul 12.00," ucapnya.

Pada tahun ini, ia juga mengikuti pelatihan simulasi di kapal pemecah es di Jepang. Perbedaan dengan simulasi pertama, pelatihan ini seolah-olah mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Mars.

Ia mengungkapkan, Mars memang kerap dijadikan objek pelatihan luar angkasa karena jaraknya yang terdekat dengan bumi. Padahal, planet itu tidak pas jika dihuni manusia dari segala unsur.

"Sebenarnya ada satu tempat di antariksa yang kemungkinan besar mirip dengan bumi, yakni salah satu bulan di Planet Jupiter, bernama Europa, tapi jaraknya sangat jauh dari bumi," kata Venzha.

 

3 dari 3 halaman

Penyelenggaraan SETI

Penyelenggaran SETI Conference #04 2019 akan bekerja sama dengan Lembaga Indonesia Prancis, IFI - LIP, Kedutaan Besar Perancis, serta Program Doktor Kajian Budaya (S3) Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta pada 20 sampai 21 Juli 2019. Perhelatan ini juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun HONF Foundation.

SETI menghadirkan para pembicara yang sangat ahli di bidang Aerospace maupun Astrofisika, seperti, Ilham Habibie (The Habibie Center), Premadi W Premana (Institut Teknologi Bandung - ITB dan Observatorium BOSSCHA), Yusuke Murakami (MARS Society), dan salah satu pakar dari LAM (Laboratoire d’Astrophysique de Marseille), yakni Frederic Zamkotsian.

Pada kesempatan ini juga akan dideklarasikan platform baru bernama Indonesia UFO Network, yakni sebuah wadah untuk bertemunya semua komunitas dan periset di bidang ET, UFO, SETI, dan Space Art di Indonesia. Lewat deklarasi ini dicanangkan 21 Juli sebagai Hari UFO Nasional.

"Kami ingin mengumpulkan komunitas dan periset untuk sharing dan berbagi data supaya bisa dibaca banyak orang," kata Venzha.

Ia juga tidak bermaksud memperdebatkan keberadaan UFO melalui acara ini, sebab fokusnya adalah pengumpulan data  dan mencari kemungkinan-kemungkinan ada atau tidaknya kehidupan selain di bumi. "Kami pakai kata UFO karena itu istilah yang populer digunakan," ucapnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Kapas Amerika Serikat Serbu Industri Tekstil Indonesia, Efek Perang Dagang?
Artikel Selanjutnya
Tarik Tambang Biasa, di Yogyakarta Ada Lomba Tarik Lokomotif