Sukses

Sensasi Tamasya Pagi di Agrowisata Kampung Flory

Liputan6.com, Yogyakarta - Satu lagi alternatif wisata hadir di Yogyakarta. Kampung Flory hadir sejak 2016 menawarkan tiga sensasi wisata sekaligus.

Memang kemunculan ketiganya tidak sekaligus. Satu persatu, tetapi kini bersinergi dan membuat pengunjung merasakan kelengkapan dalam berwisata.

Tidak sulit mencari lokasi Kampung Flory. Jika sudah berada di Kompleks Pemkab Sleman hanya meneruskan perjalanan ke barat sampai bertemu papan petunjuk menuju Kampung Flory. Kalau ingin praktis, cukup buka Google Maps dan temukan Kampung Flory sesuai arahan aplikasi itu.

Seusai namanya, Kampung Flory dikelilingi ribuan tanaman. Tumbuhan, bunga, dan pohon mengelilingi kawasan seluas 6,5 hektare. Tanaman pun tidak sebatas yang ditemui di Sleman, melainkan juga Gunungkidul, misal pohon pule.

Memasuki areal ini seperti memasuki hutan lindung yang tertata rapi. Setiap tepi jalan dikelilingi tumbuhan rindang dan menyegarkan mata. Beberapa tempat juga ditata sehingga menarik untuk dijadikan spot berswafoto.

Aliran sungai Bedog juga menambah kesan asri dengan gemericik air jernih yang mengalir. Masuk ke Kampung Flory juga sampai saat ini tidak dikenakan biaya alias gratis.

"Pengunjung cukup membayar tarif parkir kendaraan saja," ujar Redy Nurhadi, pengelola Kampung Flory, beberapa waktu lalu.

Kampung Flory juga menyediakan fasilitas outbound. Wisata outbound lahir karena banyaknya kunjungan siswa TK dan SD di tempat ini.

Bukan sebatas permainan mengasah kekompakan dan keseimbangan fisik, outbound di Kampung Flory juga dilengkapi dengan edukasi tanaman.

"Jadi harapannya di tempat wisata ini bisa refreshing sekaligus mendapatkan pengalaman yang berbeda," ucapnya.

2 dari 3 halaman

Kuliner Juga Eksis

Kampung Flory juga menyediakan tempat makan yang bisa dipilih pengunjung sesuai selera dan kebutuhan. Kampung Flory dikenal justru setelah Iwak Kalen viral.

Resto yang menyediakan aneka makanan termasuk ikan air tawar itu kerap menjadi tujuan wisatawan.

Kemudian bermunculan tempat makan lainnya, seperti Kopi Keceh dan Mbali Ndeso. Harga menu yang ditawarkan bervariasi, tergantung jenis makanan dan paket yang dipesan.

"Untuk ukuran wisatawan lokal harga menu makan relatif terjangkau, mulai dari Rp10.000," kata Redy.

Kopi Keceh juga memiliki minuman andalan yang bernama kopi keceh. Racikannya berbeda dari kopi kebanyakan.

Ada komposisi rahasia yang disiapkan pengelola ketika menyajikan minuman yang satu ini.

Pengunjung bisa membayar makanan secara terpisah atau dalam bentuk paket outbound. Rentang harganya bervariasi, tergantung kelengkapan paket yang dipilih, mulai dari Rp 45.000 per orang.

"Jumlah kunjungan pada akhir pekan bisa mencapai 1.000 sampai 2.000 orang per hari," tutur Redi.

3 dari 3 halaman

Berawal dari Kelompok Ronda

Kampung Flory digagas oleh kelompok ronda di Jugang, Tridadi, Sleman. Kebanyakan pemuda di sana keluar dari Yogyakarta untuk bekerja, sebagian juga masih ada yang menganggur.

"Kemudian kami punya mimpi untuk membangun sesuatu," ujar Redy.

Konsep awal sebenarnya berupa pengembangan tanaman hias dan buah untuk menyuplai kebutuhan di Yogyakarta. Ide yang muncul pada pertengahan 2014 itu dieksekusi satu tahun kemudian.

Mereka membentuk kelompok Taruna Tani Flory. Semula tanaman dikembangkan di halaman rumah masing-masing. Keterbatasan lahan membuat mereka memutuskan untuk menyewa lahan seluas satu hektare untuk pembibitan.

"Setelah berjalan, kami kembali melihat ternyata tidak cukup mengembangkan dengan satu usaha saja, akhirnya bekerja sama dengan Iwak Kalen sebagai tempat kuliner," ucapnya.

Dari situlah Kampung Flory mulai dikenal. Diversifikasi usaha membuat mereka memecahnya menjadi beberapa manajemen. Pengelola outbound dan kuliner pun berbeda, namun tetap berinduk di Kampung Flory

Banteng Tabrak Kerumunan Massa Partai Politik, 7 Orang Terluka
Loading
Artikel Selanjutnya
Saat Sutera Singkong Yogyakarta Menembus Eropa
Artikel Selanjutnya
Pengalaman Gaib di Sudut Gunung, dari Misteri Pasar Bubrah hingga Banaspati