Sukses

Menyesal Bunuh Istri, Pria di Kebumen Cium Kaki Ayah

Liputan6.com, Kebumen - Percaya lah, selalu ada sisi kemanusiaan dari orang sejahat apapun, bahkan seseorang yang dianggap sadis lantaran membunuh istrinya sendiri. Hanya saja, penyesalan itu memang datang belakangan.

Rasa sesal itu begitu nampak ketika DR (38) tersangka pembunuh istri yang lantas berupaya bunuh diri ini menjalani rekonstruksi pembunuhan itu di rumahnya sendiri, di Desa Bonorowo, Kebumen, akhir November 2018 lalu.

DR berulang kali mengungkap betapa ia sangat menyesali perbuatannya. Bahkan, ia pun benar-benar mencintai istrinya.

Pada sebuah momen ayah tersangka mendekati DR. Mendadak, tersangka pembunuh istri ini bersujud dan mencium kaki ayahnya. Tangis keduanya pun tumpah ruah tak lagi bisa dibendung.

Drama mengharukan ini pun menyita perhatian warga setempat. Mereka menyaksikan bapak dan anak yang tengah menyesali nasib dan mesti menghadapi risiko perbuatannya.

Warga tidak menyangka DR tega membunuh istrinya. Sebabnya, dia dikenal pendiam di lingkungan sekitar.

Dalam rekonstruksi ini, DR beberapa kali terus menangis hingga harus berkali-kali menyeka air mata. Dan itu terjadi sepanjang rekonstruksi di mana tersangka pembunuhan istri ini melakukan 15 adegan penganiayaan kepada Eni Hermawati (27), istrinya hingga meninggal.

2 dari 2 halaman

Istri Meludah ke Tembok Picu Suami Kalap

Kasat Reskrim Polres Kebumen AKP Aji Darmawan langsung memimpin rekontruksi atau reka ulang adegan ini.

"Reka ulang ini untuk melengkapi berkas penyidikan. Dari reka ulang ini kita bisa mengetahui gambaran bagaimana tersangka melakukan penganiayaan kepada istrinya," ucap AKP Aji Darmawan, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (6/12/2018).

Adegan pertama, terlihat tersangka memasuki rumahnya sepulang ronda malam. Selanjutnya tersangka tidur di samping istrinya di depan televisi, namun saling membelakangi lantaran sedang tak akur.

Kemudian, adegan selanjutnya, Eni meludah ke tembok dan ditegur suami karena dianggap tidak sopan. Pada adegan ini, suami mulai tersinggung dan sakit hati.

Usai peristiwa ini, DR sempat keluar dari ruangan untuk buang air besar. Namun, ia tak langsung kembali ke dalam rumah.

Keluar dari toilet, tersangka justru memasuki gudang dan mengambil sebilah sabit yang biasa digunakan untuk menyabit rumput untuk pakan ternak. Kemudian, ia menganiaya istrinya hingga putus nyawa.

"Dari hasil pemeriksaan di lapangan, korban menderita 18 sabetan sabit. Korban juga sempat menghalangi perbuatan tersangka dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya," Aji menjelaskan.

Rupanya, DR begitu menyesali perbuatannya. Ia pun takut menghadapi risiko hukum yang mesti dihadapi seusai membunuh istrinya.

Setelah Eni meninggal dunia, tersangka kembali pergi ke gudang dan mencari racun pembasmi serangga, Lenit. Tersangka berupaya bunuh diri dengan menenggak racun itu.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Video Populer Regional

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Ada Cekcok Sebelum Penembakan yang Tewaskan 3 Orang di Prabumulih
Artikel Selanjutnya
4 Fakta Keji yang Dilakukan KKB pada Pekerja Trans Papua