Sukses

KH Abbas, Komandan Perang Surabaya dari Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Kiai Abbas menjadi salah satu tokoh sentral dalam perang melawan penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya Jawa Timur. Kiai asal Ponpes Buntet Cirebon tersebut merupakan sosok berpengaruh dalam perang melawan gabungan tentara sekutu itu. Sejumlah kiai dan santri dari penjuru Jawa pun ikut terlibat untuk menjaga kemerdekaan NKRI setelah merdeka.

"Kiai Abbas putera dari Kiai Abdul Jamil di Buntet pesantren menurut penuturan sesepuh peran beliau sangat besar," kata salah satu keluarga Ponpes Buntet Cirebon Ahmad Rovahan, Kamis, 8 November 2018.

Menurut Rovahan, Kiai Abbas konon bukan hanya menjadi komandan perang pada peristiwa itu. Kiai Abbas juga yang menentukan hari, tanggal dan waktu dimulainya peperangan. Informasi tersebut didapatnya saat mengikuti napak tilas perjuangan santri oleh PCNU Kabupaten Cirebon.

Pengurus berziarah ke makam Kiai Abbas di Komplek Pemakaman Gajah Ngambung Buntet Pesantren.

"Saat berziarah ke makam Kiai Abbas, tahlil dipimpin langsung oleh KH Jaelani Imam. Beliau memang salah satu kiai sepuh, yang juga cukup menguasai tentang sejarah dan cerita lama salah satunya, mengenai peran Kiai Abbas dalam perang 10 November," katanya. 

Dia mengatakan, berdasarkan penuturan Kiai Jaelani, salah satu alasan Kiai Hasyim Ashari menunjuk Kiai Abbas sebagai komandan perang 10 November karena musuh yakni Jendral Malabby memiliki kemampuan yang diluar nalar manusia.

Simak video menarik berikut di bawah: 

2 dari 2 halaman

Ilmu Hitam Jendral Malaby

 Jendral Mallaby bukan hanya sosok yang ahli dalam berperang. Jendral Malabby diketahui memiliki ilmu hitam yang sangat tinggi.

"Bahkan, sebelum peristiwa 10 November Jendral Malabby menunjukkan kesaktiannya di depan umum. Ditembak menggunakan senjata hebat saat itu, namun tidak apa-apa," kata Rovahan seraya menyampaikan cerita dari Kiai Jaelani.

Mendapatkan informasi tersebut, akhirnya Kiai Hasyim Asyari menyerahkan masalah tersebut kepada Kiai Abbas. Menurutnya, Kiai Hasyim memiliki pertimbangan lain menunjuk Kiai Abbas sebagai pemimpin perang di Surabaya.

"Kata Kiai Hasyim, kalau urusan yang begini, biar Kiai Abbas yang nangani," sambung dia.

Dia mengungkapkan, sebelum berperang melawan Jendral Malabby, Kiai Abbas memberikan amalan kepada para santri yang ikut berperang. Amalan tersebut diucapkan langsung oleh Kiai Abbas.

Dia menyebutkan, Kiai Abbas membacakan amalan sebanyak tiga kali kepada para santri sebelum berperang. Namun, amalan tersebut harus langsung dihafal oleh para santri.

Dari sejumlah santri yang diberi amalan oleh Kiai Abbas, hanya sekitar 80 santri yang lulus.

Santri yang lulus amalan Kiai Abbas pun ikut berperang. Bahkan, dalam peperangan mereka, salah satu santri  menembak mati Jendral Malabby sebelum perang 10 November terjadi.

"Kalau santri mana kurang tahu tapi yang jelas santri yang menembak Jendral Malabby mendapat amalan dari Kiai Abbas," kata dia.

Artikel Selanjutnya
Diet dan Tradisi Ngapem Ala Keraton Kanoman Cirebon
Artikel Selanjutnya
Strategi Pemkot Cirebon Genjot Layanan Smart City