Sukses

3 Sungai di Kota Garut Penuh Limbah Industri Kulit

Liputan6.com, Garut - Tiga sungai di kawasan perkotaan Kabupaten Garut, Jawa Barat, sudah tercemari cairan limbah industri kulit, bahkan kondisinya sudah mengendap banyak bercampur dengan sampah rumah tangga.

"Terdapat sedikitnya lima kelurahan di wilayah Kecamatan Garut Kota yang teraliri sungai yang terdampak limbah cairan dari penyamakan kulit," kata Wakil Ketua Bidang Pemerintahan APKI Garut, Sukandar saat kegiatan normalisasi Sungai Cigulampeng di kawasan Sukaregang, Kecamatan Garut Kota, Selasa, 14 Agustus 2018, dilansir Antara.

Ia menuturkan, sungai yang terdampak langsung limbah industri penyamakan kulit yakni Sungai Ciwalen, Cikaengan, dan Sungai Cikendi. Tak hanya limbah industri kulit, sungai-sungai itu juga banyak tumpukan sampah rumah tangga.

Tingginya endapan limbah cairan kulit juga sampah rumah tangga di sungai perkotaan Garut itu, kata dia, menyebabkan aliran air tersumbat, sehingga pihaknya beranggung jawab untuk menormalisasi sungai.

"Yang paling parah saat normalisasi sungai tahap dua yang dilakukan tiga bulan yang lalu. Saat itu, kami bisa mengangkat 13 truk sampah rumah tangga yang menjadi penyebab terjadinya pengendapan," katanya.

Ia menyampaikan, normalisasi sungai yang dilakukan jajarannya sebagai wujud kepedulian para pengusaha penyamakan kulit di Garut terhadap lingkungan yang terdampak limbah kulit.

Kegiatan yang digelar setiap tiga bulan sekali itu, lanjut dia, menggunakan anggaran dari para pengusaha yang tergabung dalam APKI Garut. Tujuannya agar aliran sungai bisa kembali mengalir dengan lancar tanpa endapan limbah kulit.

"Melalui kegiatan ini diharapkan selain bisa menormalkan aliran air sungai dan mengurangi tingkat pengendapan limbah, juga menjadikan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai," katanya.

Ia mengungkapkan, pengusaha tidak menginginkan adanya pencemaran lingkungan, sehingga pihaknya terus berusaha agar kondisi tersebut tidak terus terjadi dengan menerapkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Sukandar menyebut belum seluruh pengusaha mampu menerapkan IPAL untuk mengelola limbah kulit karena berbiaya tinggi. Namun, ia mengingatkan upaya tersebut dapat meminimalisasi pencemaran limbah cairan kulit.

"Tapi sudah lumayan banyak juga (pengusaha) yang telah memiliki IPAL. Hal ini bisa dimaklumi mengingat anggaran untuk pembuatan IPAL yang cukup besar," katanya.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Serapan Anggaran Pemda Garut Baru 60 Persen, Kok Bisa?
Artikel Selanjutnya
Belasan Warga 'Asgar' Kembali ke Kampung Halaman Usai Kerusuhan Wamena