Sukses

Densus 88 Gelar Operasi Senyap di Bengkulu, 6 Anggota JAD Ditangkap

Liputan6.com, Bengkulu - Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror menggelar operasi senyap di Kota Bengkulu sejak Jumat pagi. Enam orang anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) berhasil diamankan.

Kabid Humas Polda Bengkulu AKBP Sudarno membenarkan operasi tersebut. Pihaknya tidak bisa memberikan komentar terlalu jauh, karena operasi dilakukan langsung oleh tim Densus 88.

"Rilis yang diberikan Densus 88 ada 6 orang diamankan. Mereka merupakan anggota Jamaah Asharut Daulah," ujar Sudarno di Bengkulu, Sabtu (11/8/2018).

Informasi yang berhasil dihimpun Liputan6.com, enam orang yang diamankan tersebut adalah Wi, warga Jl M Hasan Kelurahan Pasar Baru, SA warga Jl Meranti 4 Kelurahan Sawah Lebar, AY warga Jalan Merapi Ujung Kelurahan Dusun Besar, AS warga Kelurahan Panorama, dan dua orang lagi yang masih belum diketahui identitasnya.

Salah satu dari dua orang tersebut ditangkap di Kelurahan Kebun Geran dan berprofesi sebagai tukang ojek.

Novianto, salah ketua RT di Kelurahan Lingkar Timur mengaku tidak mengetahui alasan warganya dibawa dan oleh siapa. Sebab, pihak Densus 88 tidak berkoordinasi dan pemberitahuan kepada pihak RT setempat.

"Kami hanya menyaksikan mereka menggeledah dan membawa beberapa barang, termasuk buku dan laptop," terang Novianto.

 

2 dari 2 halaman

Tim Densus 88 Sempat Pesan Kopi

Penangkapan yang dilakukan tim Densus 88 di rumah terduga Wi pada Jumat pagi, 10 Agustus 2018, diwarnai kericuhan. Wi yang melawan saat akan dibawa membuat salah satu etalase tempat menaruh kue dagangan istrinya pecah.

Menurut Umi Beti, istri Wi, suaminya sempat masuk ke dalam rumah saat empat orang tamu datang dan memesan kopi. Dari dalam rumah, dia lalu mendengar kegaduhan dan membawa Wi secara paksa ke dalam kendaraan yang menunggu di pinggir jalan.

"Tiba tiba mereka main ciduk saja suami saya. Laknatullah mereka main ciduk saja," ungkap Umi Beti.

Semua yang datang ke rumahnya itu mengenakan pakaian biasa seperti tamu yang cari sarapan membeli kue. Bahkan, salah seorang diantaranya mengenakan pakaian seperti seorang ustaz.

Tim yang datang ke rumahnya itu berjumlah lebih dari enam orang menggunakan satu mobil jenis Kijang kapsul dan dua sepeda motor. Umi Beti mengaku tidak mengetahui ke mana suaminya dibawa dan apa alasannya. Hingga hari ini, dia tidak bisa berkomunikasi dengan sang suami.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
KPU Bengkulu Buka Keran Uji Publik Caleg 2019
Artikel Selanjutnya
Polemik Aturan BPJS Kesehatan, RSUD Bengkulu Pastikan Tetap Layani Pasien