Sukses

Pelajar Tunanetra di Ponorogo Butuh Penerjemah Saat Ujian

Liputan6.com, Ponorogo - Salah satu pelajar SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Nabil Gholi Azhumi, yang menderita tunanetra mengharapkan ada penerjemah saat menghadapi ujian. Baik ujian sekolah maupun ujian nasional.

Pasalnya, siswa kelas XII IPS ini mengaku kesulitan jika harus mengerjakan soal sendiri meski soalnya sudah diterjemahkan ke huruf braille.

"Apalagi soal matematika, meski sudah diterjemahkan ke huruf braille. Saya tetap kesulitan membaca," tutur Nabil saat ditemui di sekolahnya, Jumat 9 Maret 2018.

Nabil menambahkan dirinya ingin ada penerjemah yang mendampinginya saat mengerjakan soal. "Kalau ada penerjemah saya lebih mudah memahami soal," ujarnya.

Bagi Nabil, soal matematika memang sulit jika dibaca sendiri meski sudah diterjemahkan ke huruf braille.

"Dulu saya dari kelas X sampai kelas XII ini ada guru matematika yang menerjemahkan ada pula yang membacakan soal, kalau saya lebih senang dibacakan," terang Nabil.

Sementara itu, Kepala Sekolah Muh. Kholil mengaku pihaknya bakal menyediakan penerjemah bagi Nabil. "Nanti akan kami sediakan, sesuai dengan kebutuhan siswa," jelas Kholil.

Kholil menerangkan tanggal 12 Maret 2018 nanti, pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandart Nasional (USBN) Berbasis Komputer (BK) tingkat SMA/SMK akan digelar. SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo) juga mengikutinya.

"Bahkan SMA Muhipo termasuk salah satu SMA pertama semenjak ada sistem ujian berbasis komputer tahun 2016 lalu menjadi salah satu sekolah penyelenggara pertama yang dengan berjalan baik dan lancar," imbuh Kholil.

Kholil menambahkan pihaknya mengimbau para siswa untuk berprestasi namun dengan nilai kejujuran. Karena roh dari pelaksanaan ujian ini adalah nilai kejujuran.

"Di mana tidak bisa lagi ditemukan soal bocor, karena semuanya (di Ponorogo) terintegrasi lewat komputer sebelum mengerjakan baru bisa diunduh soalnya," katanya.

 

1 dari 2 halaman

Komputer Siap untuk Ujian

SMA Muhipo selain memiliki 90 unit komputer yang siap dipakai dan memiliki lima server dengan rincian, tiga server utama dan dua server cadangan.

"Server pun sudah kita rancang jadi tidak ada masalah," ucapnya.

Kholil menjelaskan total jumlah siswa kelas XII sebanyak 268 siswa saat ujian pun sudah terpenuhi dengan rasio 1:3. "Artinya satu komputer bisa digunakan sebanyak tiga sesi," katanya.

Namun terkadang meski dalam persiapannya sudah baik, ada saja masalah yang ditemui saat pelaksanaan ujian menggunakan komputer. Mulai dari komputer error atau rusaknya komponen komputer.

"Kemarin ada satu komputer yang rusak, tapi karena ada cadangannya kita juga tidak bingung," katanya.

Artikel Selanjutnya
Siswa SMP Berkebutuhan Khusus di Sukoharjo Tak Ikut UNBK
Artikel Selanjutnya
Warga Binaan LPAK Rutan Yogyakarta Ikut UNBK