Sukses

Video Hamparan Salju Muncul di Dieng Beredar, Hoax atau Fakta?

Liputan6.com, Banjarnegara – Video fenomena munculnya bun upas di hamparan rumput yang menyerupai salju menghebohkan warganet jelang gelaran akbar Dieng Culture Festival VIII 2017.

Video berdurasi 47 detik di akun Instagram @mountnesia itu diputar lebih dari 200 ribu kali dan mendapatkan lebih dari 1000 komentar sejak diunggah Kamis, 28 Juli 2017.

Pemilik akun menuliskan caption, "Dieng pagi ini. Yang mau datang ke DIENG CULTURE FESTIVAL bulan agustus besok jangan lupa bawa jaket biar nggak beku 😅. Dok. video @losmenbudjono_dieng, colek @wonosobozone."

Warganet heboh bukan kepalang. Beberapa akun penasaran ingin menyaksikan fenomena hamparan bun upas mirip salju tersebut. Apalagi, video ini muncul menjelang Dieng Culture Festival pada 4-6 Agustus 2017 mendatang.

Misalnya saja, akun @hanny. Dia mengaku ingin menyaksikan Dieng dalam kondisi bersalju semacam itu. "@imam_panca pingin liat dieng yang kaya gini wkwkkwkwkw," ujar dia.

Namun, ada pula akun yang memperingatkan ekstremnya suhu kala Dataran Tinggi Dieng diliputi bun upas. Hal ini diungkapkan oleh akun @debykenian. "Extreme memang suhune @yaniarnaufal," tulisnya.

Soal fenomena munculnya bun upas yang menghebohkan warganet itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surip mengungkapkan, sejauh pengamatannya pada Juli 2017 ini, fenomena itu belum muncul di Dieng.

Namun begitu, dia tak lantas memastikan bahwa video hamparan salju di rerumputan yang diunggah netizen itu adalah berita bohong. Sebab, dia belum menontonnya. Namun, dia pun memastikan selama Juli ini belum muncul bun upas yang mirip hamparan salju itu.

"Karena bun upas itu harus memenuhi beberapa syarat, antara lain suhu Dieng mencapai titik beku. Antara 0 derajat atau minus. Sedangkan sekarang, suhu rata-rata di Dieng berkisar 8-9 derajat Celsius saat malam hari," tutur Surip kepada Liputan6.com, Jumat (28/7/2017) pagi.

Surip menerangkan, bun upas adalah fenomena membekunya embun yang tercipta karena konsentrasi awan yang berarak dekat permukaan tanah. Lantas, tanaman, rerumputan, bebatuan yang basah oleh embun tebal itu membeku karena suhu turun sampai titik beku.

"Makanya biasanya kelihatan pagi. Saat suhu sedang dingin-dinginnya. Siangnya, bisa jadi mencair lagi," ujarnya.

Surip menambahkan, bun upas biasanya terjadi pada puncak kemarau, antara pertengahan Agustus atau awal September. Saat masih ada gerimis, bun upas sulit terbentuk karena suhu udara masih berada di kisaran 7 derajat Celsius. Pada tahun lalu, saat terjadi kemarau basah, bun upas hanya terpantau muncul sekali di Dieng, yakni di akhir Agustus.

 

Saksikan video menarik di bawah ini: