Eks Jubir Dokter Terawan Oktafiandi Jadi Wadir Representatif TPN Ganjar-Mahfud

Menurut Oktafiandi, Megawati merupakan simbol perlawanan Orde Baru. Dia merasakan betul kerasnya perjuangan di zaman itu, sehingga membuahkan sebuah kemenangan, yaitu reformasi, dan melahirkan sistem demokrasi yang mestinya kita bisa nikmati sekarang.

Diperbarui 01 Desember 2023, 16:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud mengumumkan deretan tokoh yang akan menjadi juru kampanye bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 3 tersebut. 

Berdasarkan salinan dokumen, calon anggota legislatif (caleg) PDI Perjuangan Dapil Jawa Barat X, Oktafiandi masuk dalam jajaran Direktorat Juru Kampanye TPN Ganjar-Mahfud. Oktafiandi menjelaskan, ini adalah amanah baru yang siap dia emban untuk memenangkan Ganjar-Mahfud. 

"Pidato Ibu Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri) kemarin membakar semangat rakyat, dan mengingatkan kita pada zaman sebelum reformasi," kata Megawati. 

Menurut Oktafiandi, Megawati merupakan simbol perlawanan Orde Baru. Dia merasakan betul kerasnya perjuangan di zaman itu, sehingga membuahkan sebuah kemenangan, yaitu reformasi, dan melahirkan sistem demokrasi yang mestinya kita bisa nikmati sekarang. 

"Akhir-akhir ini Ibu Mega mulai tidak nyaman dengan kondisi negara dan demokrasi kita, terlebih setelah Putusan MK. Kekuatan Negara kita adalah sistem hukum, tapi itu sepertinya diciderai dan dipertontonkan secara telanjang," jelasnya. 

Lebih lanjut, mantan Kepala Sekretariat Direktoran Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf ini mengatakan, saat ini di kanal media sosial sudah banyak para tokoh yang meluapkan kekecewaannya. 

"Ini menjadi pengingat bagi millenial untuk kembali membaca sejarah. Bagaimana susahnya memperjuangkan reformasi," ungkapnya. 

"Dikampus-kampus sudah mulai banyak panggung mimbar bebas yang digagas oleh para dosen, akedemisi, mahasiswa, guru besar, hingga para budayawan dan tokoh-tokoh lainnya," pungkasnya. 

 

Sejumlah Nama di TPN Ganjar

Diketahui dalam dokumen itu disebutkan bahwa posisi Direktur Eksekutif Direktorat Juru Kampanye diisi oleh Laksamana Madya (Purn) Suyono Thamrin, sedangkan Anam menjabat sebagai direktur. 

Lalu, ada tujuh orang yang mengisi posisi wakil direktur eksekutif, yakni Brigjen TNI (Purn) A.A. Ngurah Alit Narapati, Amris Hassan, Enda Nasution, Mohammad Marhaendra Putra, S.H., M.H. 

Kemudian, Drs. Henky Kurniadi, S.H., M.H, Piet Cintya Mawar S.Par, dan Mathius Eko Purwanto. 

Selanjutnya, ada 14 orang yang menduduki posisi wakil direktur representatif, yaitu Oktafiandi, Anang Hermansyah, Ellfonda Mekel (Once Mekel), Denny Wahyudi (Denny Cagur), Ali Syakieb, Marcellius Kirana H. S. (Marcell Siahaan).

Lalu, Idy Muzayyad, Dr. Hj. Ariza Agustina, G.K.R. Ayu Koes Indriyah, Drs. Zulhendri Chaniago, Irjen Pol. (purn) Drs. Syahrizal Ahiar, Limbad, Muhammad Thoriq Halilintar, dan Lucky Perdana. 

Sebelumnya diketahui juga, Oktafiandi merupakan jubir dr Terawan dan pernah menjadi Kepala Sekretariat Direktorat Relawan Jokowi-Ma'ruf. Jay Octa begitu ia dikenal di kalangan relawan, saat ini juga masuk dalam TKRPP Ganjar-Mahfud Divisi Jaringan.

Singgung Ada Pihak Lakukan Intimidasi

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri singgung pihak-pihak yang mengintimidasi rakyat jelang Pemilu 2024. Megawati meminta praktik intimidasi itu dihentikan.

Hal tersebut, disampaikan saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Relawan Ganjar-Mahfud yang dihadiri pimpinan organ relawan pendukung se-Pulau Jawa di Jakarta International Expo, Senin, 27 November 2023. 

Awalnya, Megawati bercerita soal maraknya intimidasi yang terjadi menjelang Pemilu 2024.

"Bayangin, mengintimidasi, dia itu siapa sih? Kalau dia berani, loh kenapa saya enggak boleh. Kamu mesti lihat perundangannya, kamu sebagai apa, bolehkah kamu menekan rakyat?" Kata Megawati.

Megawati mempertanyakan dasar intimidasi yang dilakukan karena menurutnya tidak boleh ada pihak-pihak yang bisa memerintah rakyat tanpa melalui peraturan perundang-undangan.

Presiden ke-5 RI ini mengaku jengkel karena menurutnya praktik intimidasi tersebut seolah-olah ingin mengulangi apa yang pernah terjadi pada masa Orde Baru.

"Mestinya Ibu enggak boleh ngomong gitu tapi Ibu jengkel. Karena republik ini penuh pengorbanan tahu tidak? Kenapa sekarang kalian yang pada penguasa itu mau bertindak seperti waktu jaman Orde Baru?" ujar Megawati.

Tak hanya itu, dia pun berbagi pengalamannya yang berkali-kali diinterogasi oleh aparat kepolisian dan kejaksaan semasa pemerintahan Presiden kedua RI, Soeharto.

Dia menegaskan, masa-masa seperti itu tidak boleh terulang lagi dan meminta agar perbuatan intimidatif harus segera dihentikan.