Mobil China Kuasai Pasar Inggris, Tarif Impor Kini Jadi Ancaman

Uni Eropa diketahui tengah mendorong kebijakan "Made in Europe" yang bertujuan memperkuat industri dan rantai pasok otomotif

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 18:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Invasi mobil buatan Tiongkok ke pasar otomotif Inggris terus menunjukkan perkembangan signifikan. Namun, laju tersebut kini berpotensi menghadapi tantangan baru setelah Pemerintah Inggris mempertimbangkan penerapan tarif impor terhadap kendaraan asal Negeri Tirai Bambu.

Dilansir dari Carscoops, Rabu (7/10/2026), Menteri Perdagangan Inggris Jonathan Reynolds tengah mempertimbangkan skema tarif baru untuk kendaraan asal Tiongkok. Wacana tersebut muncul di tengah tekanan Uni Eropa agar Inggris menyelaraskan kebijakan perdagangan otomotifnya dengan regulasi kawasan tersebut.

Uni Eropa diketahui tengah mendorong kebijakan "Made in Europe" yang bertujuan memperkuat industri dan rantai pasok otomotif di kawasan tersebut. Inggris berpotensi menghadapi hambatan perdagangan jika tidak mengikuti arah kebijakan tersebut.

Bagi Inggris, keputusan ini menjadi dilema. Di satu sisi, mobil China menawarkan harga kompetitif dan semakin diminati konsumen. Di sisi lain, hubungan perdagangan dengan Uni Eropa tetap penting bagi industri otomotif Inggris.

The Guardian melaporkan, Uni Eropa telah mengangkat isu tarif mobil China dalam pembahasan mengenai aturan "Made in Europe". Kebijakan tersebut dapat berdampak terhadap akses produsen Inggris ke pasar Eropa apabila Inggris tidak mengambil langkah yang dianggap selaras.

Wacana tarif muncul ketika merek-merek China justru tengah menikmati momentum besar di pasar Inggris.

Data awal Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) menunjukkan pasar mobil baru Inggris mencapai sekitar 350.500 unit pada September 2026. Angka tersebut naik sekitar 12 persen secara tahunan dan menjadi performa September terbaik sejak 2017.

Merek-merek asal China mengambil porsi signifikan dari pasar tersebut. Sejumlah laporan menyebut pangsanya telah berada di kisaran 23 persen pada September.

Salah satu model yang menjadi simbol kesuksesan tersebut adalah Jaecoo 7. SUV yang diproduksi oleh Chery tersebut mencatat 10.813 unit registrasi pada September 2026 dan menjadi mobil terlaris di Inggris pada bulan tersebut.

Pencapaian tersebut bahkan mengungguli Tesla Model 3 yang mencatat 9.929 unit.

Jaecoo 7 juga bukan pertama kali menempati posisi teratas. Model tersebut sebelumnya berhasil menjadi mobil terlaris Inggris pada Maret 2026.

Kesuksesan Jaecoo 7 membuat SUV tersebut mendapat julukan "Temu Range Rover" di sejumlah media Inggris karena desainnya yang dianggap memiliki nuansa SUV premium, tetapi ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.

Perkembangan merek China di Inggris juga tidak hanya mengandalkan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).

Kendaraan plug-in hybrid (PHEV) turut menjadi bagian penting dari strategi sejumlah produsen China untuk memperluas pasar global. Langkah ini menjadi semakin relevan setelah Uni Eropa menerapkan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China.

Sementara itu, Inggris sendiri hingga kini belum menerapkan tarif khusus seperti Uni Eropa terhadap mobil listrik China. Pemerintah Inggris masih mempertimbangkan dampak kebijakan tersebut terhadap industri dalam negeri dan hubungan perdagangan dengan China.

Financial Times melaporkan, Inggris saat ini mengenakan bea masuk 10 persen untuk mobil listrik China, jauh lebih rendah dibandingkan tarif Uni Eropa yang dapat mencapai 45 persen.

Kondisi tersebut membuat Inggris berpotensi menjadi pasar yang semakin menarik bagi produsen China.

 

Dilema Industri Otomotif Inggris

Penerapan tarif terhadap mobil China juga bukan keputusan sederhana bagi Inggris.

Jika tarif diberlakukan, harga mobil China berpotensi meningkat sehingga dapat mengurangi keunggulan harga yang selama ini menjadi salah satu daya tariknya. Namun, kebijakan tersebut juga berisiko memicu respons perdagangan dari China.

Pemerintah Inggris sebelumnya telah menyatakan belum menetapkan tarif khusus terhadap kendaraan listrik China dan masih mempertimbangkan kepentingan sektor otomotif serta ekonomi nasional.

Di sisi lain, industri otomotif Inggris membutuhkan akses ke pasar Eropa. Aturan "Made in Europe" yang tengah dibahas Uni Eropa dinilai dapat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan ekspor kendaraan buatan Inggris ke kawasan tersebut.

SMMT juga menilai hubungan perdagangan dengan Eropa memiliki arti penting bagi industri otomotif Inggris.

Situasi tersebut membuat Pemerintah Inggris harus menyeimbangkan kepentingan konsumen, produsen lokal, investasi perusahaan China, serta akses perdagangan dengan Uni Eropa.

Jika paket tarif impor akhirnya disahkan, merek seperti Chery, Jaecoo, Omoda, BYD, hingga Leapmotor kemungkinan perlu menyesuaikan strategi harga dan distribusinya di Inggris maupun pasar Eropa.

Dengan pertumbuhan yang begitu cepat, kebijakan Inggris terhadap mobil China dalam beberapa bulan ke depan berpotensi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah persaingan industri otomotif Eropa.