Pakistan Punya Aturan Baru untuk Produsen Mobil, Jepang Bereaksi

Pakistan bersiap menerapkan kebijakan baru yang berpotensi memicu kembali sengketa dagang dengan Jepang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)

Diterbitkan 25 September 2026, 13:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pakistan bersiap menerapkan kebijakan baru, yang berpotensi memicu kembali sengketa dagang dengan Jepang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Aturan tersebut mewajibkan produsen kendaraan memenuhi target ekspor yang lebih tinggi, untuk memperoleh berbagai fasilitas industri, sebuah langkah yang sebelumnya sudah dipersoalkan Tokyo.

Kebijakan bertajuk Automotive Industry Development Policy (AIDP) 2026-2031 itu, telah mendapat persetujuan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan hanya menunggu pengesahan kabinet sebelum berlaku.

Pemerintah Pakistan ingin mendorong ekspor, memperkuat industri manufaktur lokal, sekaligus mempercepat produksi kendaraan berteknologi baru, termasuk mobil listrik dan kendaraan rendah emisi.

Disitat dari Asia Nikkei, salah satu poin yang paling disorot adalah kenaikan target ekspor produsen mobil dari sekitar 10 persen menjadi 12 persen, dari nilai kendaraan yang diproduksi di Pakistan pada 2031.

Target tersebut akan dinaikkan secara bertahap, dan perusahaan yang gagal memenuhinya berisiko dikenai sanksi bea cukai hingga pencabutan izin manufaktur.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga membidik total ekspor mobil dan komponen senilai US$4,6 miliar atau sekitar Rp 82,8 triliun dalam lima tahun.

Jepang menilai mekanisme tersebut berpotensi bertentangan dengan aturan WTO, karena mengaitkan insentif tarif dan izin impor dengan pencapaian ekspor.

Keberatan serupa pernah disampaikan Tokyo dalam pertemuan WTO pada 2024, dan kembali diingatkan pada April tahun ini agar kebijakan terbaru Pakistan tetap mematuhi ketentuan perdagangan internasional.

Di sisi lain, pemerintah Pakistan menegaskan aturan tersebut tidak membedakan produsen berdasarkan asal negaranya.

Merek Jepang Kena Imbas

Isu ini menjadi sensitif karena pasar mobil penumpang Pakistan masih didominasi merek Jepang. Suzuki, Toyota, dan Honda menguasai sekitar 75 persen penjualan tahunan kendaraan penumpang di negara tersebut, sehingga perubahan aturan dinilai akan berdampak besar terhadap operasi produsen Negeri Sakura itu.

Sejumlah pelaku industri juga menilai insentif bagi kendaraan energi baru (NEV) berpotensi memberikan keuntungan lebih besar bagi pemain asal China, yang tengah memperluas kehadirannya di Pakistan.

Sementara itu, pemasok lokal Pakistan menilai kontribusi produsen Jepang terhadap industri domestik sudah cukup besar.

CEO Tecno Auto Glass, Aamir Allahwala menyebut kendaraan Jepang yang diproduksi di Pakistan memiliki kandungan komponen lokal hingga 65 persen berdasarkan nilai, dengan pembelian komponen lokal mencapai sekitar US$720 juta atau sekitar Rp 12,96 triliun per tahun.

Namun, para pakar mengingatkan bahwa target ekspor saja tidak akan cukup jika biaya produksi masih tinggi, pembiayaan mahal, dan skala pasar domestik belum mampu menopang daya saing industri otomotif Pakistan di pasar global.