Harga Mobil Listrik Terancam Naik pada 2026, Ini Pemicunya

Harga jual kendaraan listrik (EV) secara global diprediksi akan naik mulai tahun 2026. Apa penyebabnya?

Diterbitkan 20 Desember 2025, 06:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Transisi energi global yang semakin pesat, ditandai dengan lonjakan permintaan kendaraan listrik (EV), kini menghadapi tantangan yang serius dari sisi rantai pasok. Kabar kurang mengenakkan datang dari Tiongkok, pusat utama produksi baterai EV dunia, di mana sejumlah pemasok bahan baku utama baterai litium mengumumkan tentang kenaikan harga yang signifikan.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku hulu serta lonjakan permintaan yang terus didorong oleh konvergensi transisi energi global. Kenaikan harga ini bukan hanya sekadar dari fluktuasi kecil tetapi mencapai persentase yang cukup besar, sehingga berdampak pada harga jual produk akhir.

Dampak dari kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para konsumen, hal ini berarti harga kendaraan energi baru (NEV) atau mobil listrik (EV) akan berpotensi lebih tinggi pada tahun 2026.

Dilansir carnewschina.com, salah satu pemasok utama bahan katoda baterai ion litium di Tiongkok, Hunan Yuneng New Energy yang melayani raksasa seperti CATL dan BYD telah mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2026 biaya pemrosesan untuk seluruh lini produk litium besi fosfat LFP (lithium iron phosphate) akan dinaikkan. Kenaikan biaya ini diiringi oleh lonjakan harga bahan baku kunci lain.

Harga litium heksafluorofosfat, misalnya melonjak lebih dari 118 persen hanya dalam dua bulan. Produsen baterai litium lainnya, Dejia Energy bahkan mengumumkan kenaikan harga jual produk baterainya sebesar 15 persen dari harga katalog saat ini. Situasi ini menciptakan tekanan besar bagi produsen mobil di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Lonjakan Biaya Hingga Dampak Harga Jual Konsumen

Kenaikan harga ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar komoditas hulu yang mengalami shock terhadap permintaan besar-besaran. Kenaikan harga bahan baku terjadi sangat cepat dan substansial.

Harga litium kobalt oksida yang digunakan sebagai katoda dalam baterai ion litium, melonjak lebih dari 150 persen dalam beberapa bulan terakhir. Demikian pula, harga litium karbonat kelas baterai juga menunjukkan kenaikan bulanan lebih dari 16 persen pada November 2025.

Fenomena kenaikan harga bahan baku mentah yang sangat ekstrem ini membuat produsen baterai tidak punya pilihan selain membebankan biaya tersebut kepada pabrikan mobil.

Kenaikan biaya produksi baterai ini pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen. Mengingat baterai adalah komponen termahal (sekitar 30-40 persen) dari total biaya produksi EV, peningkatan harga bahan baku akan memiliki efek domino.

Kenaikan biaya pemprosesan litium besi fosfat sebesar ribuan yuan per ton akan secara langsung meningkatkan biaya bahan katoda yang merupakan inti dari sel baterai. Meskipun pabrikan mobil besar seperti BYD dan CATL berupaya keras untuk menyerap sebagian biaya, harga jual mobil listrik secara global diperkirakan akan mengalami penyesuaian ke atas pada tahun 2026, memperlambat upaya penurunan harga yang selama ini menjadi target industri EV.

Strategi Pabrikan dan Proyeksi Pasar 2026

Untuk memitigasi risiko kenaikan harga, para produsen baterai besar kini bernegosiasi ulang harga produk dan berupaya mengamankan pasokan melalui kontrak jangka panjang.

Kenaikan harga yang drastis ini memaksa para produsen otomotif untuk meninjau kembali strategi harga mereka untuk model-model yang akan diluncurkan pada tahun 2026. Meskipun beberapa analis memprediksi harga paket baterai akan kembali turun dalam jangka panjang, volatilitas harga bahan baku saat ini menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan pasar EV jangka pendek.

Konsumen di Indonesia, yang baru saja menikmati berbagai model EV baru yang terjangkau, perlu bersiap menghadapi potensi penyesuaian harga di tahun mendatang. Ancaman kenaikan harga bahan baku litium di Tiongkok adalah sebuah alarm bagi industri EV global. Diperlukan respons strategis dari produsen mobil dan pemerintah untuk memastikan transisi energi tetap berjalan mulus tanpa membebani konsumen dengan harga yang terlalu tinggi.