Sukses

Masuk Era New Normal, Suzuki Prediksi Penjualan Mobil Tidak Naik Signifikan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus berusaha agar roda ekonomi terus berjalan, di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19 yang masih terjadi. Salah satu langkahnya, adalah dengan mempersiapkan era new normal atau kenormalan yang baru agar masyarakat tetap bisa berkegiatan dengan kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya, dengan tetap mengikuti protokoler kesehatan.

Dengan langkah tersebut, diharapkan mampu menjalankan kegiatan ekonomi sebelum virus yang berasal dari Wuhan, Cina ini mewabah di Indonesia. Salah satu yang diharapkan, adalah kembali meningkatnya penjualan kendaraan di pasar dalam negeri, setelah mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam dua bulan terakhir tahun ini.

Dijelaskan Harold Donel, Head Product Development PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), dengan new normal ini, diharapkan memang jadi hal yang baik bagi industri otomotif. Dengan lebih bergeraknya ekonomi, maka akan berimbas untuk merek kendaraan di Tanah Air.

"Mesipun diakui, konsumen tidak akan banyak melakukan interaksi transaksi (pembelian mobil) di masa pemulihan pandemi," jelas Harold saat berbincang dengan wartawan di gelaran Ngobrol Virtual Dulu (Ngovid), yang diadakan Forum Wartawan Otomotif (Forwot), belum lama ini.

Namun, pria asal Medan ini melihat, tetap ada ceruk pasar dengan melihat ada konsumen yang ditargetkan seperti bulan sebelumnya, yang membutuhkan kendaraan. Terlebih, bagi beberapa orang yang memang masih tidak ingin bersentuhan dengan orang lain di angkutan umum saat menjalankan aktivitas, pasti membutuhkan kendaraan untuk proses mobilitasnya.

"Jenis kendaraan yang dipilih konsumen, akan disesuaikan dengan budget yang dimiliki," tegas pria ramah ini.

Sementara itu, pabrikan berlambang huruf S ini sendiri mengharapkan akan ada kenaikan penjualan secara nasional pada Juni 2020. Namun, memang sepertinya tidak akan terlalu signifikan.

"Naik sekitar lima persen sudah sangat bagus," pungkas Harold.

 

2 dari 4 halaman

Mobil Buatan Indonesia Jadi 'Penyelamat' Suzuki di Masa Pandemi Corona

Wabah virus Corona atau Covid-19 yang terjadi di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia memiliki dampak yang cukup besar. Salah satu yang terkena imbasnya, adalah industri otomotif dengan prediksi penurunan penjualan yang cukup signifikan tahun ini.

Bahkan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) telah melakukan koreksi target penjualan roda empat, dari 1,1 juta unit hanya menjadi 600 ribu unit sepanjang 2020.

Berbagai jenama yang berbisnis di Tanah Air, tentu saja mengalami kesulitan yang sama dan salah satunya PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), agen pemegang merek (APM) Suzuki di Indonesia. Namun, pabrikan berlambang huruf S ini mengklaim, pangsa pasarnya justru naik di tengah pandemi.

"Dari Suzuki sendiri memang tidak akan keluar dari pakem yang sudah diberikan Gaikindo (revisi target), kita lihat bakal ada degradasi penjualan antara 40 sampai 50 persen akibat pandemi Corona yang kita alami ini," jelas Harold Donnel, Head of 4W Brand Development and Marketing Research PT SIS, dalam gelaran ngobrol virtual dulu (ngovid) yang diselenggarakan Forum Wartawan Otomotif (Forwot), Kamis (4/6/2020).

Lanjut Harold, jika dilihat dari pasarnya, beruntung tidak semuanya anjlok. Bahkan, menariknya ada beberapa market yang naik pada periode Januari hingga April tahun ini, dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Kalau kita lihat sampai April, market retail  turun kurang lebih 29,5 persen, dan kalau kita genapkan 30 persen. Namun, kalau dari pasar yang turun, uniknya market share Suzuki naik. Januari-April 2019 performa kita 9,3 persen, sedangkan tahun 11,5 persen," tegasnya.

3 dari 4 halaman

Strategi

Berbicara soal market share yang naik, pabrikan asal Jepang ini menjabarkan beberapa rahasianya. Pertama, Suzuki saat ini memang memiliki strategi dasar untuk mengedepankan produk yang diproduksi di Indonesia, dibanding model yang masih impor atau CBU.

"Jadi kalau kita lihat sampai April, komposisi produksi lokal kontribusinya sebanyak 88 persen, dan produksi CBU hanya 12 persen. Dari model lokal ini, kami terima kasih sekali karena kontribusi pikap atau yang menunjang ekonomi masih cukup besar, sekitar 50 persen, bonnet low seperti Ertiga 20 persen, SUV seperti XL7 dan S-Cross 15 sampai 20 persen, dan sisanya dinikmati citycar dan hatchback," jelasnya.

Sementara itu, jika dilihat dari modelnya, pikap low atau Carry memang mengalami penurunan kontribusi ke nasional dari 18 persen menjadi hanya 10 persen sepanjang Januari hingga April 2020. Tapi, market share model pikap bawah Suzuki ini justru naik dari 53 persen jadi 59 persen.

"Artinya, kita masih mampu menerapkan strategi kepada market sehingga bisa terdongkrak. Memang paket insentif yang kita berikan cukup beragam, dari gimik penjualan, kredit, dan leasing, serta penekanan penjualan di berbagai market terutama yang mengalami PSBB," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: