Sukses

Impor Mobil Wah Amerika Terganggu Pasca-Trump Terpilih?

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah pabrikan mobil yang beroperasi di Amerika mulai khawatir pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Mazda misalnya, akan merespons kebijakan politik di kawasan Amerika Utara. Meski begitu, Mazda tak mau gegabah. Penyesuaian strategi bisnis dengan kondisi politik tidak akan mereka lakukan dalam waktu dekat.

Sementara itu, bagaimana nasib importir umum yang menjual mobil wah dari AS. Apakah akan berpengaruh?

Menurut Rudy Salim, Presiden Direktur Prestige Motorcars, importir umum mobil-mobil premium di Pluit, Jakarta Utara, hingga saat ini belum ada dampak atas terpilihnya Trump sebagai pengganti Obama.

"Ya karena memang belum ada kebijakan dari dari belum ada sampai sekarang," katanya saat ditemui di PIK Avenue, beberapa waktu lalu.

Selain itu, menurut Rudy, minat terhadap mobil-mobil premium asal Amerika juga kurang tinggi di Indonesia. "Market-nya tidak begitu besar. Kebanyakan yang kami jual Jerman dan Italia. Sementara Amerika jarang," imbuh dia.

Sekadar informasi, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden baru AS menjadi babak baru bagi pabrikan otomotif, terutama bagi mereka yang punya hubungan bisnis dengan Meksiko.

Dilaporkan Reuters, pabrikan otomotif itu berpotensi mengeluarkan biaya yang lebih tinggi jika ingin memasukkan produk mereka dari Meksiko ke AS.

Salah satu pabrikan yang pernah "berhadapan" langsung dengan Trump adalah Ford. Trump berkali-kali mengecam Ford yang memindahkan produksi sebagian produknya dari AS ke Meksiko, meski Ford sendiri melawan balik tuduhan itu.

Satu pernyataan penting Trump adalah bahwa ia akan mengenakan pajak khusus hingga 35 persen khusus untuk Ford, jika ia terpilih sebagai presiden.

Terlepas dari itu semua, pabrikan otomotif berjanji bahwa mereka tetap ingin bekerja sama dengan pemerintahan baru.

"Pemilu ini membuat jelas bahwa Amerika setuju bahwa manufaktur adalah prioritas bangsa. Ini tergantung pada kami untuk menyalurkan antusiasme terhadap kebijakan yang tepat," ujar kelompok National Association of Manufacturers.

Loading