Liputan6.com, Jakarta - Jarak tersempit Selat Hormuz hanya sekitar 33 kilometer, kira-kira sejauh Jogja ke Klaten, atau Jakarta ke Depok. Namun dari jalur laut sempit itu, hampir seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari melintas. Dunia modern yang tampak begitu luas ternyata bergantung pada lorong kecil di peta. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa terasa jauh melampaui kawasan Teluk.
Ketika Iran menutup Hormuz, pasar energi langsung bereaksi. Harga minyak melonjak, inflasi ditakutkan merambat ke banyak negara, dan ekonomi global ikut goyah. Dunia kembali diingatkan pada kenyataan lama bahwa ekonomi modern berdiri di atas jalur perdagangan yang rapuh.
Gangguan seperti ini jarang berhenti di satu titik. Dalam ekonomi yang saling terhubung, satu retakan kecil bisa menjalar. Perang tidak hanya merusak wilayah konflik, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi global. Itulah sebabnya tajuk edisi terbaru The Economist menyebut gangguan di Selat Hormuz sebagai “an attack on the world economy.”
Advertisement
Untuk memahami mengapa satu selat sempit bisa berdampak begitu besar, kita perlu melihat peta. Dalam bukunya The Revenge of Geography, Robert Kaplan mengingatkan bahwa meskipun teknologi terus maju, geografi tetap punya pengaruh besar. Gunung, gurun, laut, dan jalur perdagangan sering menentukan bagaimana negara bertindak. Kadang peta menjelaskan politik dunia secara lebih jelas.
Kaplan menyebut beberapa jalur laut sebagai titik cekik dalam perdagangan global. Di tempat-tempat inilah aliran energi dunia menyempit sebelum kembali menyebar ke berbagai negara. Dalam logika geopolitik, kekuatan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya minyak, tetapi juga oleh siapa yang menguasai jalur sempit tempat minyak itu lewat.
Selat Hormuz adalah salah satu contoh paling jelas. Jalur air sempit antara Iran dan Oman ini seperti tenggorokan bagi ekonomi dunia. Setiap hari jutaan barel minyak melewati lorong kecil itu sebelum sampai ke pasar global. Jika ekonomi dunia diibaratkan tubuh manusia, Selat Hormuz adalah tenggorokannya.
Namun ada alasan yang lebih dalam mengapa selat kecil seperti ini begitu penting. Peradaban modern dibangun di atas minyak. Selama lebih dari satu abad, bahan bakar fosil menjadi mesin transportasi, industri, dan listrik. Kota-kota tumbuh, perdagangan global berkembang, dan gaya hidup modern terbentuk dengan satu asumsi bahwa energi akan selalu tersedia dan relatif murah.
Ilmuwan politik Timothy Mitchell dalam bukunya Carbon Democracy menyebut era bahan bakar fosil sebagai “episode aneh dalam sejarah.” Selama ribuan tahun manusia hidup dengan energi seperti kayu, angin, air, atau tenaga hewan. Tetapi dalam dua abad terakhir, kita membakar cadangan karbon yang terbentuk selama jutaan tahun.
Seolah-olah bumi adalah gudang energi yang tidak akan pernah habis.
Krisis seperti di Selat Hormuz mengingatkan bahwa sistem energi global sebenarnya sangat rapuh. Sistem itu bergantung pada cadangan sumber daya yang terbatas, dan pada jalur distribusi yang juga sempit.
Peta Risiko Global
Grafik The Economist berjudul “Degrees of Risk” menunjukkan bahwa dampak krisis Hormuz tidak merata. Negara-negara yang paling rentan adalah yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah: Thailand, Korea Selatan, Pakistan, India, hingga Jepang. Bagi negara-negara ini, gangguan di Hormuz bukan sekadar berita luar negeri. Gangguan bisa langsung terasa di pabrik, pembangkit listrik, hingga dapur rumah tangga.
Indonesia dalam grafik itu terlihat relatif lebih aman. Ketergantungan langsung terhadap impor energi dari Timur Tengah memang tidak sebesar beberapa negara Asia lainnya.
Namun risiko Indonesia tidak berhenti di sana. Sejak 2004, Indonesia bukan lagi pengekspor minyak bersih. Indonesia sudah menjadi net importer minyak. Artinya, ketika harga minyak dunia naik, tekanan terhadap ekonomi justru ikut meningkat.
Harga minyak yang mahal juga merembet ke sektor lain. Gas yang mahal membuat pupuk ikut mahal. Biaya logistik naik. Bahkan dalam beberapa kasus, krisis energi dapat menjalar ke sektor yang tidak terlihat langsung, dari produksi chip komputer hingga rantai pasok industri global.
Dengan kata lain, krisis minyak sering berubah menjadi krisis ekonomi yang lebih luas.
Advertisement
Krisis Energi sebagai Pengingat
Dalam jangka pendek, pemerintah tentu perlu menjaga stabilitas ekonomi. Nilai tukar harus dijaga, pasokan energi diamankan, dan beban fiskal akibat subsidi tidak boleh dibiarkan melonjak terlalu besar.
Namun krisis seperti ini juga menyimpan pelajaran lebih besar.
Krisis ini mengingatkan bahwa ketergantungan pada minyak bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan ketahanan ekonomi. Negara yang ekonominya bergantung pada impor bahan bakar fosil akan selalu rentan terhadap gejolak geopolitik.
Karena itu transisi energi seharusnya tidak dilihat hanya sebagai agenda hijau. Transisi energi juga merupakan strategi keamanan ekonomi.
Energi surya, panas bumi, bioenergi, dan sumber energi domestik lainnya memberi satu keuntungan penting dimana mereka tidak harus melewati selat sempit yang rawan konflik. Energi matahari tidak bisa diblokade oleh kapal perang. Panas bumi tidak bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Dalam arti tertentu, energi terbarukan adalah bentuk kemandirian energi.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar. Cadangan panas bumi termasuk yang terbesar di dunia. Matahari tersedia hampir sepanjang tahun. Biomassa dan energi laut juga melimpah. Tantangannya bukan pada sumber daya, tetapi pada keberanian mempercepat transisi.
Gangguan di Selat Hormuz mungkin hanya salah satu episode dalam geopolitik energi dunia. Namun apa yang terjadi di Hormuz membawa pesan lebih dalam. Selama kita masih bergantung pada minyak, ekonomi global akan selalu bergantung pada lorong-lorong sempit di peta. Dan selama itu pula, guncangan di tempat jauh bisa terasa sampai ke dapur rumah tangga.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Liputan6.com
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/figure_images/100/original/001103300_1770611587-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.30.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497048/original/066823900_1770614759-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.26.50.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257805/original/092292600_1781257252-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8518235/original/040458400_1782444499-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_08.15.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260620/original/058988800_1781612925-2767bf8b-9f0e-4793-bd30-5c429e1c3826.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258652/original/015289500_1781397142-ChatGPT_Image_Jun_14__2015__07_02_18_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8232741/original/005897300_1781093139-WhatsApp_Image_2026-06-10_at_18.54.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571401/original/013579500_1777619034-WhatsApp_Image_2026-05-01_at_12.32.20.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7747502/original/019153700_1780555291-260604_OPINI__EKO_200x-100__1_.jpg)