Sukses

Pentingnya Tabir Surya Buat Melindungi Kulit dari 3 Jenis Sinar UV

Liputan6.com, Jakarta Salah satu bentuk perawatan tubuh yang biasa dilakukan adalah melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Karenanya, diperlukan produk seperti tabir surya, orang biasa menyebutnya dengan sunscreen.

Sudah banyak yang tahu bahwa tabir surya ini memang penting. Baik saat keluar rumah atau tidak, tabir surya perlu diterapkan ke kulit. Sebab, tabir surya dapat melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan bahkan membantu mengatasi permasalahan kulit lainnya.

Ketika seseorang tidak memakai tabir surya, permasalahan kulit mungkin akan muncul. Beberapa di antaranya mungkin ada yang merasakan kulit seakan terbakar akibat paparan sinar matahari, pigmentasi, hilangnya elastisitas kulit, tanda-tanda awal penuaan, hingga kanker kulit.

Oleh sebab itu, tabir surya perlu digunakan untuk merawat kulit agar tetap sehat. Bagi yang belum tahu, biasanya di dalam produk tabir surya atau sunscreen ini terdapat bahan yang mampu melindungi kulit dari paparan sinar UV.

 

 

2 dari 3 halaman

Lalu apakah sinar UV?

Dilansir dari Pinkvilla, Minggu (21/11/2021), sinar UV adalah bentuk radiasi elektromagnetik yang secara alami berasal dari matahari. Pada spektrum elektromagnetik, sinar UV memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dibanding cahaya tampak.

Di samping itu, sinar UV pun terdiri dari bermacam-macam jenis. Setidaknya ada tiga jenis sinar UV yang diketahui hingga saat ini. Ketiga jenis tersebut antara lain UVA (315-400 nm), UVB (280-315 nm), dan UVC (100-280 nm). Ketiga jenis sinar UV tersebut tentu memiliki efek yang berbeda-beda pada kulit.

 

 

3 dari 3 halaman

Perbedaan Sinar UV

Perlu diketahui, di antara ketiga jenis sinar UV, sinar UVC adalah yang paling berbahaya. Namun, berkat adanya lapisan ozon di bumi, sinar UVC tersebut kemudian hanya terserap sampai atmosfer. Alhasil sinar UVC tidak mencapai permukaan bumi.

Sementara untuk sinar UVB, ini berkaitan dengan masalah yang bisa menyebabkan sunburns, tanning, hingga kanker kulit. Bahkan secara langsung sinar UVB dapat mengganggu hingga DNA kulit. Itulah yang memicu eritema matahari sekaligus menginduksi melanogenesis. Oleh karena itu, paparan radiasi UVB yang lama dapat menyebabkan produksi melanin yang berlebihan & peradangan.

Terakhir untuk jenis ketiga ada radiasi UVA. Sinar UVA membentuk 95% dari sinar UV paling berbahaya yang mencapai bumi dan menembus lebih dalam ke kulit melebihi sinar UVB. Kemudian radiasi ini membentuk radikal bebas di kulit yang selanjutnya bereaksi dengan DNA, protein, serta lipid kulit.

Pada akhirnya sinar UVA mampu menimbulkan stres oksidatif. Selanjutnya sinar ini dapat menyebabkan hilangnya elastisitas, penurunan kolagen, kanker kulit, dan tanda-tanda awal penuaan.

Sementara itu, antara UVB dan UVA, keduanya memiliki intensitas waktu yang berbeda. Misalnya untuk tingkat UVB tertinggi pada pukul 10 pagi - 4 sore. Sementara untuk UVA, secara konstan sepanjang tahun. Di antara keduanya, sinar UVA yang dapat dengan mudah menembus rumah melalui jendela kaca.

Di samping itu, radiasi yang terjadi oleh sinar UV tentu kasat mata. Namun, terdapat alat yang bisa membantu mengetahui jumlah sinar UV yang mencapai permukaan bumi.

Alat yang dapat memberi tahu seberapa kuat sinar UV matahari itu diprakarsai oleh WHO. Apabila semakin besar kekuatannya, semakin tinggi nilai indeks UV. Itu artinya semakin banyak pula kerusakan yang dapat terjadi pada kulit.

Sama seperti ramalan cuaca, indeks UV pun bervariasi di seluruh dunia. Hal itu tergantung pada waktu, musim, jumlah tutupan awan, dan perlindungan ozon. Selain itu, indeks UV juga diukur pada skala 0 hingga 11+, di mana 0-1 menunjukkan UV tingkat rendah, sedangkan 10-12+ menunjukkan jumlah sinar UV yang sangat tinggi.

Di India misalnya, sebagai negara tropis, selalu berada di bawah skala indeks UV yang lebih tinggi. Skor UV rata-rata berkisar dari 5 dan naik hingga 12 di beberapa negara bagian India. Itu selama waktu orang-orang bekerja dan pada saat musim panas.

Meskipun nilai indeks UV tertinggi di bulan musim panas, tetapi itu masih di bawah 'Spektrum Tinggi' dari indeks UV di masa musim dingin.

 Reporter: Aprilia Wahyu Melati