Kondisi hutan Bengkulu sudah sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 53 ribu hektare hutan Bengkulu sudah dirusak para perambah dan ditinggalkan terbuka begitu saja.
Â
"Ini sudah mengkhawatirkan. Dari 596.388 hektare hutan di Bengkulu, 53.345 hektare di antaranya merupakan hutan bekas tebangan dan dibiarkan terbuka," ujar Koordinator Program Konsorsium Ulayat, Frans Situmorang di Bengkulu, Jumat (21/2/2014).
Â
Konsorsium ini tengah menyiapkan program penyelamatan hutan melalui pengembangan koridor Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) melalui skema pengelolaan ekosistem hutan yang berkelanjutan.
Â
Hutan-hutan penyangga, lanjut Frans, harus diselamatkan dari para perambah. Untuk itu pihaknya tengah mempersiapkan para kader di 7 desa dampingan. Yaitu Desa Naga Rantai Kabupaten Kaur, Desa Air Sulau Kabupaten Bengkulu Selatan, Desa Rindu Hati Bengkulu Tengah, Desa Tebat Monok dan Tebat Pulau yang masuk kawasan Hutan Lindung, Pusat Konservasi Gajah Sebelat Bengkulu Utara serta Desa Sungai Ipuh Kabupaten Mukomuko.
Â
"Sumbangan terbesar kerusakan hutan adalah ilegal logging dan perambah liar. Jika hutan dikelola berbasis kemasyarakatan dan mereka para perambah kita jadikan ujung tombak penyelamatan hutan, kemungkinan kerusakan hutan lebih parah dapat hindari," jelasnya.
Â
Data Liputan6.com yang diambil dari Citra Satelit Alos menyebutkan, dari luas Provinsi Bengkulu 2.007.223 hektare, 596.388,33 hektare di antaranya adalah kawasan hutan termasuk hutan lindung dan taman nasional.
53.345,30 hektare adalah hutan bekas tebangan, 105.205,22 merupakan belukar tua, dan 22.220,23 hektare adalah semak belukar.
Sedangkan kawasan pertanian campuran terdata seluas 677.111,73 hektare dan 355.415,45 hektare adalah kawasan perkebunan kelapa sawit, karet dan perkebunan rakyat.
Sisanya seluas 158.755,79 hektare adalah kawasan non vegetasi ditambah luas kawasan Pulau Enggano sebagai pulau terluar kawasan Indonesia Bagian Barat seluas 38.781,88 hektare. (Ali/Ado)
Baca juga:
Â
"Ini sudah mengkhawatirkan. Dari 596.388 hektare hutan di Bengkulu, 53.345 hektare di antaranya merupakan hutan bekas tebangan dan dibiarkan terbuka," ujar Koordinator Program Konsorsium Ulayat, Frans Situmorang di Bengkulu, Jumat (21/2/2014).
Â
Konsorsium ini tengah menyiapkan program penyelamatan hutan melalui pengembangan koridor Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) melalui skema pengelolaan ekosistem hutan yang berkelanjutan.
Â
Hutan-hutan penyangga, lanjut Frans, harus diselamatkan dari para perambah. Untuk itu pihaknya tengah mempersiapkan para kader di 7 desa dampingan. Yaitu Desa Naga Rantai Kabupaten Kaur, Desa Air Sulau Kabupaten Bengkulu Selatan, Desa Rindu Hati Bengkulu Tengah, Desa Tebat Monok dan Tebat Pulau yang masuk kawasan Hutan Lindung, Pusat Konservasi Gajah Sebelat Bengkulu Utara serta Desa Sungai Ipuh Kabupaten Mukomuko.
Â
"Sumbangan terbesar kerusakan hutan adalah ilegal logging dan perambah liar. Jika hutan dikelola berbasis kemasyarakatan dan mereka para perambah kita jadikan ujung tombak penyelamatan hutan, kemungkinan kerusakan hutan lebih parah dapat hindari," jelasnya.
Â
Data Liputan6.com yang diambil dari Citra Satelit Alos menyebutkan, dari luas Provinsi Bengkulu 2.007.223 hektare, 596.388,33 hektare di antaranya adalah kawasan hutan termasuk hutan lindung dan taman nasional.
53.345,30 hektare adalah hutan bekas tebangan, 105.205,22 merupakan belukar tua, dan 22.220,23 hektare adalah semak belukar.
Sedangkan kawasan pertanian campuran terdata seluas 677.111,73 hektare dan 355.415,45 hektare adalah kawasan perkebunan kelapa sawit, karet dan perkebunan rakyat.
Sisanya seluas 158.755,79 hektare adalah kawasan non vegetasi ditambah luas kawasan Pulau Enggano sebagai pulau terluar kawasan Indonesia Bagian Barat seluas 38.781,88 hektare. (Ali/Ado)
Baca juga:
Gubernur Riau Bentuk `Satgas Kebakaran Hutan`
Hutan Kuno Berusia 5 Ribu Tahun Tersingkap Badai
Api Lahap 5.857 Hektar Lahan Riau, 14.093 Warga Alami ISPA
Advertisement
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/632609/original/hutan-kerusakan-140203-b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/114/original/052850900_1504059126-IMG_20161008_160223.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259216/original/078310400_1781491972-AP26165670492100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8693587/original/054340800_1782757524-063_2283889620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8692722/original/034513200_1782755867-000_B8PJ7CN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263380/original/090952300_1781922466-AP26171045705794-Brasil_vs_Haiti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263965/original/063636200_1782038065-000_B7RD77E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)