Sentilan Keras Prabowo ke BUMN: Kerja Seenaknya, Lapor Untung Padahal Rugi Ngarang Saja

Prabowo ingin hanya ada 300 BUMN produktif yang tersisa.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 11:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Prabowo kritik BUMN: banyak yang tidak produktif, rugi tapi lapor untung.
  • Presiden pertimbangkan pengadilan adhoc untuk direksi BUMN, amnesti bagi yang tobat.
  • 290 BUMN telah dimatikan, menghemat Rp 50 triliun; target sisa 300 BUMN.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subiato berapi-api menyoroti kinerja Badan Usaha Milik Negera (BUMN). Dalam pengamatannya, banyak BUMN di Indonesia bekerja seenaknya.

"Saya kira BUMN itu jumlahnya 300-400, ternyata ini 1074. Dan BUMN-BUMN ini kadang bekerja seenaknya, tidak tanggung jawab pada bangsa dan negara, pemerintah tidak dianggap. Saya tidak paham bisa terjadi seperti ini," ujar Prabowo saat menyampaikan pidato di Sidang Tahunan MPR 2026 di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (14/8//2026).

"Kalau saya laporkan semuanya, saya takut rakyat kita marah semuanya," sambung Prabowo berapi-api.

Dia menyayangkan banyaknya BUMN yang tidak produktif tetapi masih aktif. Apalagi, sampai mengakali keuangan seolah-olah untung padahal merugi.

"Terlalu banyak BUMN tidak produktif, rugi terus lapornya untung. Ngarang saja untungnya itu. Kita yang kena masalah karena banyak perusahaan asing yang bekerja dengan BUMN kita, jadi kita harus hilangkan permainan-permainan ini," katanya.

 

Bentuk Pengadilan Adhoc

Prabowo menambahkan, BUMN dengan kinerja demikian tak seharusnya dipertahankan. Dia bahkan berpikir membentuk pengadilan adhoc khusus untuk mengusut kinerja para direksi BUMN. Sebaliknya, terhadap mereka yang mengakui kesalahannya agar diberikan amnesti.

"Untuk bisa kita usut pengurus direksi 30 tahun ke belakang mungkin, tapi saya juga akan menghadap ke majelis, saya akan menghadapi DPR, saya akan minta kalau perlu kita beri juga peluang semacam amnesti khusus untuk mereka yang tobat, mereka yang sadar, mereka yang akui. Ini saya serahkan ke wakil rakyat untuk memutuskan," katanya.

Bahkan dalam kurun waktu 21 bulan dirinya menjabat, sudah 290 dari 1074 BUMN dimatikan. Tak hanya itu, penghematan yang didapat dari perampingan BUMN mencapai Rp 50 triliun. Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat dirinya merasa penting membentuk Danantara. 

"Itu dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung mobil, perjalanan dinas, dan lain-lain," ujarnya.

Maka dari itu, ke depan BUMN yang dipertahankan akan lebih selektif. Dia menargetkan, angka tersebut terus menyusut hingga 300 BUMN saja sampai akhir tahun ini.

"750 BUMN lebih akan kita tutup. Hanya menyisakan yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah yang akan dipertahankan untuk rakyat. Ini restrukturisasi kooperarasi tersebar di dunia," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6