Liputan6.com, Jakarta - **Tepat 125 tahun kelahiran Soekarno, 6 Juni 2026, rangkaian tulisan ini mengajak pembaca meninjau kembali perjalanan hidup proklamator Bung Karno yang terus mewarnai dinamika Indonesia.
Â
Jumat siang yang terik di pekan pertama Juni 2026. Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, seperti biasa dikepung hiruk-pikuk kota. Deru mesin sepeda motor, mobil, hingga kepulan asap kendaraan saling berkejaran tanpa henti. Di depan gerbang Perguruan Cikini, kemacetan kecil tak terhindarkan. Puluhan orang tua berdiri menyandarkan motor atau menengok dari kaca mobil, sabar menanti anak-anak mereka pulang sekolah.
Advertisement
Saat bel berbunyi, anak-anak berhamburan keluar. Tawa renyah khas pelajar memenuhi halaman sekolah yang kini disekat oleh pagar besi kokoh dan gerbang tinggi.
Namun, hampir tujuh dekade lalu, di titik tanah yang persis sama, keceriaan anak-anak itu berubah menjadi jerit histeris dan genangan darah. Halaman yang kini tertutup rapi itu dahulunya adalah ruang terbuka yang langsung tersambung dengan jalan raya. Dan di sanalah, salah satu tragedi kelam sejarah Indonesia dipahat.
"Dulu belum ada gerbang ini. Belum ada pagar, sama sekali belum ada. Begitu keluar gedung langsung jalanan," kenang Ridwan, salah satu petugas keamanan Perguruan Cikini, sembari menunjuk ke arah aspal Jalan Cikini Raya.
Waktu berjalan menjauh, namun momen Sabtu, 30 November 1957, hari ketika maut nyaris merenggut nyawa orang nomor satu di Republik ini akan selalu dikenang.Â
Â
Pesta yang Berubah Menjadi Amis Darah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7862077/original/010381700_1780687227-8f52febf-b478-4a39-b420-c2ccb74c1c02.jpg)
Malam itu, kampus di Jalan Cikini Raya Nomor 76 sebenarnya tampil begitu meriah. Seluruh sudut sekolah bersolek dengan lampu-lampu hias untuk merayakan ulang tahun ke-15 Yayasan Perguruan Cikini. Ada bazar dan malam amal yang semarak.
Suasana kian prestisius karena Presiden Sukarno dijadwalkan hadir memenuhi undangan Kepala Sekolah, Sumadji Muhammad Sulaimani. Kedatangan Bung Karno malam itu bukan sekadar statusnya sebagai kepala negara, melainkan sebagai seorang ayah. Seluruh putra-putrinya, mulai Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.
"Saat itu saya bertugas menjaga pameran, kakak dan adik-adik saya juga. Lalu Bung Karno mengunjungi kami sebagai orang tua," kenang Megawati Soekarnoputri puluhan tahun kemudian, dalam sebuah acara sejarah di tahun 2017.
Bung Karno datang menumpangi mobil Chrysler Crown Imperial berpelat Indonesia 1, sebuah kendaraan mewah hadiah dari Raja Arab Saudi, Saud bin Abdul Aziz. Rombongan presiden disambut hangat oleh riuh tepuk tangan tamu undangan dan warga sekitar.
Setelah cukup lama berkeliling meninjau stan bazar anak-anaknya, Sang Proklamator bersiap untuk pulang. Namun, langkah kakinya tertahan di halaman. Puluhan murid sekolah dasar dan menengah berebut merapat, ingin bersalaman dan berfoto dengan presiden yang terkenal ramah itu.Â
Bung Karno tertawa lepas di tengah kepungan anak-anak.
Detik kegembiraan itu mendadak runtuh. Dari arah kegelapan jalan yang terbuka, enam buah granat aktif melayang beruntun ke arah kerumunan.
Duar…duar!, Ledakan demi ledakan mengguncang malam sunyi Cikini.Â
Serpihan besi dan asap pekat membubung. Halaman sekolah berubah menjadi ruang jagal dalam hitungan detik.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6481525/original/002197200_1779341149-kisah-lucu-ajudan-soekarno-kaget-lihat-bendera-merah-putih-di-wina.jpg)
"Saya tidak terlupa karena korbannya dari kawan saya ada 100-an orang, baik meninggal, luka parah, atau luka kecil. Ada beberapa yang cacat seumur hidup," tutur Megawati dengan nada getir.
Tujuh orang tewas seketika di tempat kejadian, termasuk dua brigadir pengawal kepresidenan, Muhammad dan Ahmad bin Udi. Selebihnya, sebagian besar korban adalah anak-anak sekolah yang beberapa detik lalu masih tertawa. Mobil Chrysler hadiah Raja Arab itu pun rusak berat. Bannya pecah, mesinnya hancur, dan kapnya bolong dihantam serpihan granat.
Bung Karno sendiri selamat dari maut. Di tengah kekacauan, ajudan dan pengawal pribadi bertindak cepat. Ajun Inspektur Polisi Sudio langsung menyergap dan menarik tubuh Bung Karno untuk tiarap begitu ledakan pertama menggelegar. Disusul Mayor Sudarto dan pasukan kawal pimpinan Kombes Mangil Martowidjojo yang langsung memagari tubuh presiden, lalu mengevakuasinya ke sebuah paviliun di dalam kompleks sekolah.
Bung Karno hanya mengalami luka lecet kecil dan robek pada lengan bajunya. Malam itu juga, dengan rute rahasia demi menghindari penghadangan susulan, Bung Karno bersama Guntur dan Megawati dilarikan kembali ke Istana Merdeka.
Â
Advertisement
Teroris Generasi Pertama dan Dalil Politik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6448964/original/056195600_1779314204-20150911204627-melihat-perawat-patung-soekarno-hatta-di-tugu-proklamasi-001-dru.jpg)
Upaya pembunuhan presiden ini langsung mengguncang psikologis bangsa. Media massa menjadikannya berita utama berminggu-minggu. Bergerak cepat, Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKBDR) di bawah pimpinan Mayor Dachyar berhasil mengendus persembunyian pelaku hanya dalam waktu tiga hari.
Mereka bukanlah agen asing, melainkan empat pemuda lokal yang menyewa rumah kontrakan di Asrama Sumbawa, Gang Ampiun, tak jauh dari lokasi kejadian. Para pelaku adalah Jusuf Ismail (24), Sa’adon bin Mohamad (18), Tasrif bin Hoesain (23), dan Mohamad Tasim bin Abubakar (22). Ironisnya, Jusuf dan Tasrif adalah pemuda terpelajar yang sehari-hari berprofesi sebagai guru sekolah rakyat di kawasan Cikini.
Belakangan terungkap, mereka bergerak di bawah bendera Gerakan Anti-Komunis (GAK). Dalam persidangan di Pengadilan Tentara Tinggi Jakarta pada April 1958, terkuak bahwa motif utama pelemparan granat tersebut bukanlah murni ingin mengakhiri hidup Sukarno.
Mereka "hanya" ingin memberi peringatan keras agar pemerintah mengubah haluan politiknya. Para pelaku gusar melihat posisi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meroket pasca-Pemilu 1955, yang mereka nilai sengaja dibiarkan berkembang oleh gaya kepemimpinan Sukarno.
Akibat aksi nekat tersebut, Jusuf, Sa'adon, dan Tasrif dijatuhi vonis mati dan dieksekusi di depan regu tembak pada 30 Mei 1960. Sementara Tasim dihukum 20 tahun penjara karena berperan sebagai penyimpan senjata. Sejarawan Asvi Warman Adam kelak melabeli para eksekutor Peristiwa Cikini ini sebagai kelompok teroris generasi pertama di Indonesia.
Â
Â
Menolak Lupa di Balik Dinding Klasik Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7862078/original/038928500_1780687231-34273.jpg)
Â
Kembali ke masa kini, Perguruan Cikini telah berbenah tanpa melupakan akarnya. Kompleks sekolah ini tetap berdiri kokoh dan menjadi salah satu lembaga pendidikan favorit di Jakarta.
Meski renovasi demi renovasi terus berjalan mengikuti zaman, manajemen sekolah sengaja mengunci nuansa lawasnya agar aura historisnya tidak menguap begitu saja.
Gedung paling depan yang kini difungsikan sebagai kantor administrasi tetap mempertahankan arsitektur kolonialnya. Bentuk jendela kayu yang tinggi, pilar-pilar kokoh, dan guratan dindingnya sengaja dirawat menyerupai bentuk aslinya pada dekade 1950-an.
Begitu pula dengan bangunan Taman Kanak-Kanak yang berjejer di area dalam, kusen kayu jadul dan model jendelanya dibentuk adaptif demi menjaga identitas sejarah.
Sayangnya, satu penanda fisik dari tragedi tersebut kini telah tiada. Ridwan, sang petugas keamanan, menyebutkan bahwa dahulu sempat ada monumen kecil yang berdiri di dekat pagar sekolah untuk mengenang peristiwa berdarah tersebut.
"Sama pihak dinas enggak boleh (dipertahankan), untuk menutupi juga, untuk menjaga (psikologis) juga soalnya. Soalnya korban juga lumayan banyak dari anak-anak SMP," kata Ridwan menjelaskan alasan pencabutan monumen tersebut beberapa waktu lalu atas instruksi dinas terkait.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1681700/original/046348100_1502884007-17-08-16_Proklamasi.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295088/original/038010600_1783912968-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-13T101127.805.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548679/original/027938400_1775547751-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-07T112519.017.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294561/original/045730600_1783843861-cek_fakta_-_pemutihan_pajak_kendaraan_gratis_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6431605/original/021520300_1779299741-berkat-dukungan-4-negara-ini-indonesia-pertahankan-kemerdekaan-rev-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293559/original/029478700_1783736101-campaz.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293974/original/060964700_1783766241-dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887490/original/081442300_1720552745-AP24191690613776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5247508/original/065942500_1749538198-pildun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294151/original/003111900_1783815882-000_B9XL63W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4121792/original/089615500_1660295127-000_DV796670.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294722/original/070659100_1783855098-Lautaro_Martinez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294841/original/008907800_1783891890-20260712_183218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294169/original/097035400_1783819062-ing7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294474/original/094305800_1783838406-063_2285709844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294171/original/030534100_1783819063-ing9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7876995/original/007262100_1780704262-IMG_4744.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7887520/original/063025400_1780715812-e1a5e9fc-d198-46e7-b193-1af24b774e8f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501133/original/006795100_1770887810-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1606030/original/060199800_1495805023-news-story-kenapa-soekarno-gemar-memakai-jas-bergaya-militer-mK8Z6h2EXP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222523/original/087946000_1747400362-20250516-Kemacetan-ANG_8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7881098/original/029250500_1780708861-1005447955.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7172426/original/031404300_1779964543-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7857963/original/093535300_1780682186-d0c8ca3e-d882-49e5-9d88-2bd92dc82d7e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7709284/original/062279400_1780509884-WhatsApp_Image_2026-06-03_at_18.47.12__1_.jpeg)