Sukses

Siapa Membunuh Jenderal Mallaby?

Sukarno, Mohammad Hatta, dan Amir Sjarifuddin kembali ke Jakarta. Misi menghentikan kontak senjata antara rakyat Surabaya dan tentara Sekutu dianggap tuntas.

Memang secara umum pertempuran sudah stop pada 30 Oktober 1945 itu. Hanya di titik-titik tertentu yang masih berlangsung. Biro Penghubung yang dibentuk untuk mengawasi gencatan senjata berkeliling mulai sekitar pukul 17.30, menyampaikan hasil kesepakatan.

Dari pihak Indonesia, anggota Biro Penghubung antara lain Residen Soedirman, Doel Arnowo (Ketua Komite Nasional Indonesia), Roeslan Abdulgani (Sekretaris KNI), Muhammad (TKR), Sungkono (TKR), dan T.D. Kundan (penerjemah). Sedangkan dari pihak Sekutu ada Panglima Brigade ke-49 India, Brigjen Mallaby, Kolonel L.H.O. Pugh, dan Kapten H. Shaw.

Biro Penghubung berkeliling karena "...tak bisa mengandalkan siaran radio saja karena keadaan aliran listrik kota," kata Soemarsono, ketua Pemuda Rakyat Indonesia (PRI), seperti dicatat Hersutejo dalam Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Saat berkeliling, Mallaby didampingi Kapten H. Shaw, Kapten R.C. Smith, dan Kapten T.L. Laughland.

Dua lokasi yang masih 'panas' adalah Gedung Lindeteves di Jembatan Semut dan Gedung Internatio di Jembatan Merah. Kalau keadaan di lokasi pertama bisa dengan gampang diredakan, situasi di lokasi kedua jauh berbeda.

Gedung Internatio saat itu diduduki tentara Sekutu di bawah pimpinan Mayor K. Venu Gopal. Gedung tersebut dikepung sekitar 500 pemuda bersenjata. Ketika rombongan Biro Penghubung tiba di halaman gedung tersebut, massa segera mengerumuni.

Langsung dijelaskan bahwa gencatan senjata diberlakukan. Mereka patuh. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Mobil  baru bergerak sekitar 90 meter, sekelompok massa lain menghadang.


Mobil yang ditumpangi Mallaby saat tewas.

Ternyata, ini kelompok yang lebih beringas dan tidak kooperatif. Pedang dihunus, pistol dan senapan diacungkan. Lebih jauh, senjata para perwira Sekutu disita. Gagal upaya anggota Biro Penghubung untuk mencegah.

"...massa pemuda menuntut pasukan Inggris di Gedung Internatio meletakkan senjata dan berbaris keluar. Mereka berjanji, para prajurit dan perwira Inggris bebas kembali ke lapangan udara," kata Smith seperti dikutip J.G.A. Parrot dalam laporan penelitian berjudul Who Killed Brigadier Mallaby? yang dimuat di jurnal Indonesia edisi 20 Oktober 1975.

Smith, Mohammad, dan Kundan masuk. "Saya mengizinkan ketiga orang tersebut masuk, dengan harapan mengulur waktu. Setelah beberapa waktu, Kundan keluar dari Gedung, meninggalkan Kapten Shaw dan perwira Indonesia tadi..." tulis Gopal dalam suratnya tertanggal 8 Agustus 1974 ke Parrot.

"Sementara, orang-orang bersenjata mulai mendesak masuk ke gedung, saya tidak punya pilihan lain, kecuali mengawali serangan. Keputusan ini benar-benar saya buat sendiri,” lanjut Gopal.

Baku tembak meletus. Menurut Smith, tak lama kemudian datang seorang Indonesia bersenjata mendekati mobil dan menembak empat kali ke arah mereka. Tembakan meleset, tapi mereka berpura-pura mati. Menyangka musuhnya tewas, orang tersebut pergi.

Pertempuran berakhir sekitar pukul 20.30. Sesudah itu, lanjut Smith, datang dua pemuda ke mobil. Mereka berusaha menjalankan mobil, namun gagal. Seorang di antaranya kemudian membuka pintu belakang pada sisi Mallaby. Sang Jenderal bergerak, yang membuat pemuda itu tahu Mallaby masih hidup. Terjadilah percakapan.

Mallaby meminta agar dipanggilkan salah seorang anggota Biro Penghubung dari Indonesia. Kedua pemuda kemudian pergi.



Salah seorang di antaranya datang kembali ke pintu depan pada sisi Mallaby. Perbincangan kembali terjadi. Mendadak pemuda tersebut mengulurkan tangannya lewat jendela depan dan menembak Mallaby dengan pistol. Jenderal itu meregang nyawa.

Melihat kejadian tersebut, Smith mencabut pasak granat yang diterimanya dari Laughland. Si pemuda bereaksi dengan menembak kedua perwira Inggris itu. Tembakannya menyambar bahu Laughland.

Smith segera melemparkan granat melampaui tubuh Mallaby lewat pintu yang terbuka. Smith dan Laughland cepat-cepat lari dan terjun ke Kali Mas.

Akibat ledakan granat, tempat duduk belakang mobil terbakar dan pemuda itu diduga tewas. Setelah beberapa jam di Kali Mas, kedua perwira Inggris itu berhasil bergabung kembali dengan pasukan mereka.

Kematian Mallaby mengundang Sekutu untuk memberikan ultimatum. Yaitu, pemimpin dan rakyat Surabaya harus menyerah paling lambat pada 9 November pukul 18.00. Perintah itu tak pernah dipatuhi dan pertempuran 10 November meletus. (Yus)


[baca juga: Sekutu Nyaris Bertekuk Lutut, Bung Karno `Menyelamatkan`]