Bukan Cuma Karet, Skema Tanam Ini Disebut Kementrans Bisa Dongkrak Cuan Bulanan Petani

Tiga persoalan utama yang dihadapi petani karet saat ini, yaitu mandeknya program peremajaan (replanting), minimnya pemupukan intensif, serta nihilnya riset berskala besar untuk mendongkrak hasil panen.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 02:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Wamen Trans mendorong petani karet tingkatkan produktivitas hadapi kendala utama.
  • Solusi meliputi peremajaan, intensifikasi, riset, dan optimalisasi Gernas Karet.
  • Pemerintah perjuangkan pupuk subsidi untuk petani karet demi daya saing global.

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamen Trans), Viva Yoga Mauladi, menghadiri acara Rembug Tani yang diselenggarakan di Desa Sebuntal, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (23/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Viva Yoga mendorong para petani untuk mendongkrak produktivitas di tengah berbagai kendala sektor perkebunan karet.

Ia menyoroti tiga persoalan utama yang dihadapi petani karet saat ini, yaitu mandeknya program peremajaan (replanting), minimnya pemupukan intensif, serta nihilnya riset berskala besar untuk mendongkrak hasil panen.

"Petani karet perlu replanting atau peremajaan karena produksinya sudah turun. Usia pohon karet mereka sebagian besar sudah lebih dari 25 tahun," ujar Viva Yoga, Sabtu (23/5/2026).

Selain peremajaan, ia menilai perlunya program intensifikasi perkebunan lewat pemupukan berkala, pembangunan jaringan, hingga riset bibit unggul baru. Upaya ini memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

 

Gelorakan Kembali Gernas Karet

Guna memaksimalkan hasil lateks secara nasional, Kementrans mendorong optimalisasi Gerakan Nasional (Gernas) Karet. Program ini dirancang untuk membekali para petani melalui pelatihan teknologi modern agar kualitas komoditas meningkat dan berkontribusi terhadap devisa negara.

"Dulu pemerintah pernah menggaungkan Gernas Karet, seperti halnya Kakao dan Kopi. Kami bersama dengan asosiasi dan seluruh petani karet akan terus memaksimalkan produktivitas ini," tegas Viva Yoga.

Sebagai penanggung jawab penuh masyarakat di wilayah transmigrasi, Kementrans juga menyiapkan strategi jangka pendek berupa skema tumpang sari. Petani disarankan menanam komoditas pelengkap seperti jagung atau kapulaga di sela-selas pohon karet yang disesuaikan dengan kondisi tanah.

Langkah ini dipercaya mampu memberikan efek domino (trickle-down effect) dalam menambah pendapatan bulanan keluarga petani.

 

Realisasi Asta Cita dan Perjuangan Pupuk Subsidi

 

Langkah taktis memajukan sektor perkebunan ini disebut Viva Yoga sebagai bentuk nyata pengejawantahan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sesuai Pasal 33 UUD 1945.

"Kami akan melakukan komunikasi dengan seluruh pelaku usaha ekonomi kerakyatan agar mereka berdaya, menjadi subjek pembangunan ekonomi, dan bisa mandiri menentukan nasibnya sendiri," lanjutnya.

Di sisi lain, Viva Yoga mengakui keterbatasan anggaran pemerintah membuat komoditas karet belum mendapatkan alokasi pupuk subsidi. Kendati demikian, ia menegaskan siap memperjuangkan hak para petani di tingkat pusat agar bisa memperoleh fasilitas tersebut. Ia optimistis, dengan intervensi pupuk dari pemerintah, kualitas karet Indonesia mampu bersaing ketat secara global.

"Kalau kemudian pupuk itu diberikan oleh pemerintah, saya rasa kita akan bisa menyalip negara Thailand," pungkas Viva Yoga seraya mengajak para petani untuk tetap solid berkontribusi bagi industri dunia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6