Ternyata Ada Cara Khusus Bersihkan Kotoran Tikus agar Tak Tertular Hantavirus

Dinkes DKI Jakarta memberikan tips mudah agar warga terhindar dari Hantavirus.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 12:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Dinkes DKI imbau waspada Hantavirus saat bersihkan area kotoran tikus.
  • Penularan Hantavirus melalui partikel udara kotoran tikus atau kontak langsung.
  • Bersihkan kotoran tikus dengan disinfektan dan ventilasi baik, terapkan PHBS.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyerukan masyarakat waspada saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus guna menghindari penyebaran Hantavirus.

“Yang perlu diwaspadai adalah pada saat masyarakat membersihkan tempat-tempat yang memang di situ indikasi ada banyak tikus, harus ada kewaspadaan karena penularannya ada beberapa macam,” kata Ani saat dijumpai di kawasan Jakarta Barat, Senin (18/5/2026).

Dia menyebutkan apabila kotoran, air liur, maupun kencing dari tikus tersebut bercampur dengan partikel udara dan terhirup, maka virus tersebut dapat menyebar.

Terlebih, apabila seseorang melakukan kontak langsung dengan sekresi tikus yang terkontaminasi Hanta atau kemudian secara langsung digigit oleh tikus.

Untuk itu, Ani mengimbau jika ingin membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, masyarakat perlu memastikan ventilasinya baik. Selain itu, dia juga mengingatkan agar tidak membersihkan kotoran tersebut dalam keadaan kering.

“Jadi, harus disemprot dulu dengan disinfektan. Kalau di rumah, kita bisa menggunakan cairan pemutih yang biasa ada di rumah sebagai disinfektan sebelum dibersihkan kotorannya,” ujar Ani.

Terapkan PHBS

“Cuci tangan sebelum melakukan aktivitas, sesudah melakukan aktivitas. Kemudian, kalau kita berada di tempat-tempat yang ada kemungkinan terkontaminasi atau bekerja di tempat-tempat yang kotor dan kemungkinan ada tikus, jangan lupa pakai masker, mungkin pakai pengaman yang lain,” ungkap Ani.

Dia pun mengingatkan agar masyarakat tidak panik menghadapi virus tersebut.

Menurut Ani, virus tersebut bukan merupakan virus yang baru ditemukan seperti pandemi COVID-19. Ia mengungkapkan virus tersebut sudah dimonitor setiap tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6