Liputan6.com, Jakarta - Seorang perempuan mengenakan masker dan kacamata hitam, duduk di sebelah pengacara kondang Hotman Paris. Perempuan itu adalah santriwati, lulusan pondok pesantren Ndolo Kusumo, Kecamatan Telogowungu, Pati. Dia salah satu korban pelecehan seksual yang dilakukan pengasuh ponpes, Ashari.
Dia baru berani buka suara dan melapor ke Polisi setelah lulus. Dia menegaskan sikapnya, tidak akan mundur satu langkah pun dalam perkara ini. Perempuan itu meminta penegak hukum agar tak segan menjatuhkan hukuman berat pada pelaku.
“Semoga pelaku dihukum seberat-beratnya. Bapak Kapolres, jangan terpengaruh oleh rayuan apapun. Kasihan Teman-teman saya satu pondok banyak benar yang jadi korban,” ujar korban saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Advertisement
Di sebelahnya, Hotman Paris tak tinggal diam. Hotman turun tangan membela santriwati yang menjadi korban kekerasan seksual di pondok pesantren itu. Bagi Hotman Paris, tidak ada pembenaran terhadap dalih pelaku yang juga pengasuh pondok pesantren, Ashari.
“Kita akan kawal, kita akan viralkan terus-menerus karena di Indonesia ini no viral no justice. Biasanya kalau Hotman yang memviralkan sampai ke istana nyampe semuanya,” kata Hotman.
Ashari, tersangka pencabulan santriwati ditangkap polisi di Kabupaten Wonogiri. Ashari sempat kabur dari rumahnya setelah ditetapkan tersangka. Informasi dari pihak keluarga, dia sempat pergi keluar Jawa Tengah hingga ke Bogor, Jawa Barat. Ashari memilih tempat tak biasa untuk bersembunyi. Pelariannya berakhir saat Ashari ditangkap ketika berada di sebuah Petilasan Eyang Gunungsari.
Dari hasil pemeriksaan Polisi, terungkap Ashari telah 10 kali melakukan pencabulan kepada seorang santriwati, dalam rentang waktu tahun 2020 sampai 2024.
"Sekira pada Februari 2020 sampai Januari 2024 di lingkungan Ponpes TQ, telah terjadi tindak pidana pencabulan kepada anak atau kekerasan seksual yang dilakukan tersangka AS (51)," kata Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi dalam konferensi pers di Mapolres Pati, Kamis (7/5/2026).
"Perbuatan ini dilakukan sebanyak 10 kali dilakukan di lokasi berbeda," lanjutnya.
Kombes Jaka Wahyudi mengatakan, tersangka memberikan doktrin menyesatkan untuk melancarkan aksi bejatnya. Modus operandinya adalah mendoktrin korban bahwa murid itu harus ikut apa kata guru agar murid dapat menyerap ilmu dari guru. Ini doktrin yang disampaikan guru kepada korban.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5595196/original/048376600_1778154701-IMG_1434.jpg)
Terbongkarnya Kasus Pelecehan Seksual di Ponpes
Kasus ini bermula saat Kepala Dinsos P3AKB, Kabupaten Pati Aviani Tritanti Venusia menceritakan, korban yang telah lulus dari Ponpes setempat melaporkan dugaan tindakan kekerasan seksual yang dialaminya. Dari laporan tersebut, Aviani mengaku langsung bergerak cepat mendampingi satu korban yang melapor pada September 2024 lalu.
"Tugas kami mendampingi korban, jadi korban melaporkan satu orang. Mungkin korban melaporkan ada teman- teman yang lain tapi yang melaporkan baru satu orang kepada kami," ujar Aviani kepada wartawan pada Kamis (30/4/2026).
Pihak Dinsos Pati kala itu telah memberikan pendampingan kepada korban. Seiring bergulirnya waktu, perkara ini juga telah dilaporkan kepada polisi. Namun hingga saat ini, terduga pelaku tidak kunjung ditangkap.
Aviani mengungkapkan bahwa korban dalam kondisi gangguan psikis. Sebab memendam derita yang dialaminya selama bertahun-tahun saat berada di Ponpes setempat.
"Korban baru berani melaporkan kepada Dinsos P3AKB Pati, setelah lulus dari pondok pesantren. Mereka pendam sudah lama, sampai lulus baru berani melaporkan kepada kami dan polisi," tutur Aviani.
Ali Yusron sebagai pengacara korban, membongkar modus terduga pelaku yang tega mencabuli puluhan santriwati. Ali menyebut bahwa terduga kiai cabul awalnya mengirimkan pesan singkat saat tengah malam kepada korban.
"Kiai cabul tersebut meminta korban untuk ditemani tidur di kamar. Korban pun sontak menolak," kata Ali.
Pelaku pun mengancam korban, jika tidak menuruti kemauan bejatnya akan dikeluarkan dari ponpes yang gratis tersebut.
Setelah mendapat bujuk rayu dan ancaman itulah, akhirnya korban terpaksa menuruti tindakan bejat pelaku. Ternyata modus yang dilancarkan pelaku ini pun berhasil, hingga dilakukan berkali-kali.
"Setidaknya korban sampai 30 hingga 50 orang santriwati. Aktivis bejat ini dilakukan bertahun-tahun, " sebut Ali.
Aksi bejat ini dilakukan terduga pelaku di beberapa lokasi. Mulai dari ruangan ponpes dan salah satu kamar yang lokasinya jauh di kamar istri pelaku.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/738835/original/091334200_1521191522-ito.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5595195/original/039231700_1778154699-IMG_1442.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884474/original/ACg8ocIVTLofSOnSx3v8CnmrqYqrSv2NM36rW_r4-0PmsiRM22XJWEms%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8677218/original/006025200_1782722359-IMG_20260629_142626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8433303/original/012083200_1782323882-IMG_20260624_233149.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381244/original/081801500_1782260038-IMG-20260623-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8345710/original/013355500_1782218779-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_18.13.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8285507/original/051945100_1782144713-IMG_20260622_214534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8280305/original/055605300_1782136936-IMG-20260622-WA0188_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260446/original/020744100_1781594191-IMG_20260616_120038.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263753/original/069829200_1782003497-Lokasi_Laka_di_Pati.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260505/original/011038600_1781598396-IMG_20260616_131759.jpg)