Pengakuan Penghuni Apartemen Mediterania: Alarm Kebakaran dan Sprinkler Tidak Bekerja

Penghuni apartemen Mediterania mengatakan alarm kebakaran mati saat api dan asap muncul ke lantai-lantai atas gedung.

Diterbitkan 30 April 2026, 13:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Alarm dan sprinkler apartemen gagal berfungsi saat kebakaran.
  • Sistem keamanan apartemen tidak bekerja, informasi evakuasi minim.
  • Evakuasi sulit, penghuni terjebak, pintu darurat lantai 36 terkunci.

Liputan6.com, Jakarta - Penghuni Apartemen Mediterania Tanjung Duren, Jakarta Barat, Antonius mengatakan alarm kebakaran mati saat api dan asap muncul ke lantai-lantai atas gedung. Kondisi ini menimbulkan kepanikan penghuni setelah koridor apartemen penuh dengan asap.

"Alarm kebakaran tidak bekerja dengan baik efektif seperti simulasi kebakaran yang dilakukan oleh tim pemadam kebakaran Jakarta Barat," kata kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).

Antonius menyesalkan kurangnya informasi mengenai kebakaran tersebut. Hal ini menjadi peringatan lantaran banyak korban kebakaran tewas akibat ketidaktahuan soal kebakaran dan proses evakuasi.

"Simulasi kebakaran terjadwal itu selalu diinformasikan sebelumnya. Dan selalu ada patokan bahwa kalau ada simulasi kebakaran itu alarm berbunyi,"

Selain alarm, kata Antonius, system fire sprinkler juga tidak bekerja ketika asap muncul. Dia pun menyesalkan sistem keamanan dan keselamatan apartemen tidak bekerja dalam kondisi darurat sehingga membahayakan penghuni.

"Jadi sprinkler tidak efektif bekerja, kemudian alarm juga tidak bekerja, hanya evakuasi mandiri jadi itu yang sangat kami sesalkan gitu," tutup Antonius.

Evakuasi Menegangkan

Antonius adalah penghuni Tower Cattleya di lantai 28 Apartemen elite di dekat mal terkenal Jakarta Barat. Api pertama kali diketahui pukul 07.15 WIB. Dia menceritakan detik-detik evakuasi penghuni di tengah situasi mencekam kebakaran.

"Jadi saya sudah jebol beberapa pintu untuk bisa keluar. Nah, baru bisa keluar setelah tim pemadam kebakaran menjemput kami dari lift barang," kata Antonius.

Ia menceritakan, lift barang baru bisa dipakai untuk evakuasi setelah asapnya ditiup oleh tim pemadam kebakaran.

"Jadi saya monitor dari lantai atas. Nah sampai dapat informasi jam 10 ke atas untuk dipanggil oleh tim pemadam kebakaran untuk dievakuasi melalui lift barang," ungkap dia.

Antonius menceritakan, situasinya cukup mencekam karena terjebak di lantai 28. Mau tidak mau, ia harus naik ke lantai atas karena lantai bawah sudah full asap.

"Jadi, mata sudah sembab, pernafasan sudah enggak bisa, nafas sesak, kami hanya bisa naik ke lantai atas," jelas Antonius.

Yang jadi kendala, lanjut dia, lantai 36 itu emergency exit-nya itu terkunci. Sehingga ia terpaksa rusak pintu lantai 36 untuk bisa evakuasi ke rooftop di lantai 36 atau 37.

"Nah karena enggak bisa, jadi kami lakukan hanya bisa bertahan di lantai 35. Nah kebetulan ada pemilik unit yang berbaik hati untuk kami bisa ambil nafas di sana buka jendela, gitu," tutup Antonius.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6