Medan Terjal dan Gelap, Tim SAR Helikopter Jatuh di Sekadau Terpaksa Bermalam di Bukit

Proses evakuasi ditunda hingga Jumat (17/4/2026) pagi karena medan terjal dan jarak pandang terbatas.

Diterbitkan 17 April 2026, 05:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tim evakuasi helikopter jatuh di Sekadau tunda operasi hingga pagi karena medan sulit dan gelap.
  • Tim gabungan telah mencapai lokasi jatuhnya helikopter namun bermalam 50 meter dari titik.
  • Helikopter Airbus H130 mengangkut 8 orang, hilang kontak saat penerbangan antar kabupaten.

Liputan6.com, Jakarta - Tim evakuasi korban helikopter jatuh di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, terpaksa bermalam di sekitar lokasi kejadian. Proses evakuasi ditunda hingga Jumat (17/4/2026) pagi karena medan terjal dan jarak pandang terbatas.

Kabagops Polres Sekadau, AKP Sugiyanto mengatakan, tim gabungan sebenarnya telah berhasil mencapai titik lokasi jatuhnya helikopter milik PT Matthew Air dengan nomor registrasi PK-CFX. Namun, kondisi gelap membuat evakuasi tidak memungkinkan dilakukan pada malam hari.

"Tim sudah berada di lokasi jatuhnya helikopter. Namun karena kondisi gelap dan medan yang terjal, evakuasi belum memungkinkan dilakukan malam ini," kata Sugiyanto di Nanga Taman, Jumat malam.

Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Basarnas, BPBD, Lantas Hutan (LTH), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sekadau, pemadam kebakaran, serta masyarakat setempat bermalam atau bivak sekitar 50 meter dari titik jatuhnya helikopter di Kecamatan Nanga Taman.

"Kami bivak terlebih dahulu di atas bukit. Besok pagi evakuasi akan dilakukan dengan menggunakan peralatan yang saat ini sudah mulai dikirim ke lokasi," ujarnya.

Serpihan Helikopter Terdeteksi Lewat Pemantauan Udara

Sebelumnya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Pontianak I Made Junetra menyebut tim gabungan terus memaksimalkan pencarian setelah adanya indikasi serpihan helikopter yang terdeteksi melalui pemantauan udara.

"Setelah briefing, kami menerima informasi awal adanya serpihan di titik koordinat yang telah diidentifikasi. Namun ini masih berdasarkan pengamatan dari udara," kata Junetra, dilansir Antara.

Dia menjelaskan, pencarian udara telah dilakukan dua hingga tiga kali guna memastikan lokasi jatuhnya helikopter. Namun, operasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan faktor keselamatan penerbangan.

Sementara itu, tim darat yang dipimpin on-scene commander (OSC) dari Sintang terus bergerak mendekati titik koordinat meski menghadapi medan berat berupa tebing curam dan vegetasi rapat.

Basarnas juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, untuk menyiapkan tim Disaster Victim Identification (DVI), rumah sakit, serta ambulans sebagai langkah antisipasi. Posko utama juga telah dibuka di Pontianak guna memudahkan koordinasi dan pelayanan informasi kepada keluarga korban.

Angkut 8 Orang

Helikopter jenis Airbus H130 tersebut mengangkut delapan orang, yakni Kapten Marindra W sebagai pilot, Harun Arasyd sebagai co-pilot, serta enam penumpang yakni Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito.

Helikopter dilaporkan lepas landas dari helipad PT CMA di Desa Nanga Keruap, Kabupaten Melawi, pada pukul 07.34 WIB. Pesawat kemudian hilang kontak pada pukul 08.39 WIB saat dalam perjalanan menuju helipad PT GAN di Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Hingga kini, proses evakuasi masih menunggu pelaksanaan pada pagi hari dengan mengedepankan keselamatan seluruh personel di lapangan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6