Prabowo Sebut Telah Berhemat Rp 308 Triliun: Jika Tak Dipotong, Bisa Jadi Korupsi

Prabowo mengatakan, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah tidak hanya soal penghematan, tetapi juga upaya menekan potensi kebocoran dalam belanja.

Diterbitkan 20 Maret 2026, 09:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah Prabowo menghemat Rp 308 triliun dari pemangkasan belanja.
  • Efisiensi mencegah korupsi dan mengatasi ICOR Indonesia yang tinggi (6,5).
  • Masih banyak potensi penghematan dari belanja rutin dan non-esensial.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintahannya berhasil menghemat anggaran negara sebesar Rp 308 triliun usai melakukan kebijakan pemangkasan belanja.

Dia menegaskan, efisiensi besar-besaran adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan uang rakyat dari potensi tindak pidana korupsi.

"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp 308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya, itu semua Rp 308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi," jelas Prabowo saat berdiskusi dengan jurnalis senior, pakar, dan pengamat di Hambalang, Jawa Barat, sebagaimana dikutip pada Jumat (20/3/2026).

Dia mengaitkan langkah tersebut dengan indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi suatu negara.

Prabowo menyebut ICOR Indonesia berada di angka level 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Thailand (4), Malaysia (4), bahkan Vietnam (3,6).

Tingginya angka ICOR menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan modal yang jauh lebih besar untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi dibandingkan negara lain. Dengan APBN yang mendekati Rp3.700 triliun (US$230 miliar), Prabowo melihat ada ketidakefisienan sekitar 30 persen atau setara US$75 miliar.

"Jadi angka ini artinya 30% lebih tidak efisien dari Thailand, Malaysia, Filipina, atau Vietnam. Kalau saya pakai ini sebagai dasar, berarti mendekati GDP kita yang Rp3.700 triliun atau US$230 miliar. 30% dari itu maka US$75 miliar. Ini tidak efisien," tuturnya.

 

Banyak Ruang Penghematan

Prabowo menyampaikan efisiensi yang sudah dilakukan oleh pemerintahannya baru tahap awal. Dia menilai masih banyak ruang untuk penghematan, terutama dari belanja rutin yang tidak esensial.

Sejumlah pos anggaran yang dipangkas antara lain biaya seremonial, pembelian alat tulis kantor, hingga pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor.

Selain itu, Prabowo juga menyoroti kebiasaan pengadaan barang seperti komputer dan perlengkapan kantor yang dilakukan hampir setiap tahun, serta maraknya kegiatan kajian yang dinilai tidak menyentuh persoalan utama seperti kemiskinan dan lapangan kerja.

Dalam menghadapi potensi krisis, Prabowo menekankan pentingnya pengendalian konsumsi dan efisiensi dalam berbagai sektor. Ia mencontohkan sejumlah kebijakan yang diterapkan di negara lain, seperti pengurangan hari kerja hingga penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH).

"Saya lihat negara-negara lain umpamanya hari kerja dari 5 jadi 4, Filipina, Pakistan. Kemudian work from home, bekerja dari rumah. Waktu Covid kita lakukan cukup berhasil. Saya kira kita bisa lakukan itu juga. Mungkin 75 persen karyawan atau pegawai bisa kerja dari rumah," pungkas Prabowo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6