Instruksi Khusus PDIP ke Kepala Daerah dan DPRD Saat Harga Minyak Dunia Meroket

Mengantisipasi potensi tekanan terhadap anggaran negara dan daerah, PDIP enginstruksikan kadernya di pemerintahan daerah untuk melakukan efisiensi belanja.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) mengeluarkan instruksi khusus kepada para kadernya yang menjabat sebagai kepala daerah dan juga wakil rakyat di semua tingkatanan untuk mengantisipasi dampak dari kenaikan harga minyak dunia.

Surat yang ditandatangani oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDIP Darmadi Durianto dikeluarkan pada 5 Maret 2026.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua DPP PDIP Ganjar Pranomo. Iya (DPP PDIP keluarkan surat instruksi)," kata dia saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026). 

Adapun isinya sebagai berikut:

Mencermati konflik di kawasan Timur Tengah yang eskalasinya semakin hari terus meningkat, yang manakonflik tersebut akan mengakibatkan dampak kenaikan harga minyak mentah dunia. Setiap kenaikan 1 (satu)dollar Amerika Serikat harga minyak mentah dunia akan berpotensi menambah beban subsidi minyak diIndonesia hingga kurang lebih Rp7 triliun, yang hal tesebut akan berimplikasi pada kenaikan harga BBM dan berdampak pula pada naiknya biaya distribusi barang, harga pangan, serta memicu inflasi yang memberatkankehidupan rakyat kecil.

Berkaitan hal tersebut, DPP PDI Perjuangan menginstruksikan kepada Kepala Daerah dan Pimpinan Dewan kader PDI Perjuangan, hal-hal sebagai berikut:

 

  1. Memperkuat fungi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan APBD secara konstruktif, efektif, dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  2. Melakukan penghitungan dan analisis secara komprehensif terhadap dampak fiskal daerah atas APBD, termasuk potensi kenaikan belania subsidi, belanja operasional, dan belanja pelayanan publik.
  3. Melaksanakan penghematan dan efisiensi anggaran dengan memprioritaskan belanja yang secara langsung menyentuh kepentingan rakyat serta menunda kegiatan yang tidak mendesak.
  4. Mengantisipasi kenaikan harga pangann dan biaya distribusi, serta memastikan stabilitas pasokan dan keteriangkauan harga di masing-masing daerah.
  5. Memperkuat program jaring pengaman sosial bagi masyarakat miskin, buruh, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan kelompok rentan lainnya.

Demikian instruksi ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dankeberpihakan kepada rakyat kecil sebagai wujud komitmen ideologis Partai.

 

Harga Minyak Dunia Hari Ini Tembus USD 110, Tertinggi sejak 2022

Sebelumnya, harga minyak dunia hari ini melonjak tajam hingga menembus USD 110 per barel, level tertinggi sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kenaikan ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang menyebabkan terganggunya jalur pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak tersebut juga menjadi reli tercepat sejak dekade 1980-an.

Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (9/3/2026), kontrak berjangka minyak Brent sebagai patokan global dan minyak West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat melonjak lebih dari 25% dalam perdagangan semalam hingga melewati USD110 per barel pada Minggu malam waktu AS.

Sejak konflik dimulai, harga Brent telah naik lebih dari 50%, sementara WTI melonjak lebih dari 60%.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru tertekan. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 1,5%, sementara kontrak indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 2%.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta memicu aksi balasan keras dari pemerintah Iran.

Akibatnya, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terbesar setidaknya sejak 1985.

Selat Hormuz Lumpuh, Jutaan Barel Minyak Tertahan

Salah satu dampak paling serius dari konflik ini adalah terhentinya lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional tersebut biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia yang diangkut melalui laut.

Namun data dari perusahaan analisis energi Vortexa menunjukkan sekitar 16 juta barel minyak per hari kini tertahan di belakang selat tersebut dan tidak bisa masuk ke pasar global.

Strategis dari Macquarie, Vikas Dwivedi, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa berdampak besar terhadap pasar energi global.

Ia mengatakan,“Beberapa minggu penutupan Selat Hormuz akan memicu efek domino yang bisa mendorong harga minyak hingga USD150 per barel atau lebih.”

Konflik yang awalnya berfokus pada upaya menghancurkan fasilitas nuklir Iran kini telah meluas menjadi perang yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.

Bandara, gedung apartemen, pangkalan militer, serta berbagai infrastruktur di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal dan drone dari Iran.

Sementara itu, langit di atas Iran sempat dipenuhi asap setelah depot bahan bakar di dekat Teheran dan Karaj terkena serangan udara pada akhir pekan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6