Sejumlah Akademisi Wanti-Wanti Dampak Konflik Iran dan Israel-AS untuk Dinamika Keamanan Indonesia

Akademisi, Dosen Hubungan Internasional Binus University Tia Mariatul Kibtiah menyoroti ancaman krisis ekonomi akibat eskalasi Selat Hormuz terhadap Indonesia.

Diterbitkan 08 Maret 2026, 20:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi, Dosen Hubungan Internasional Binus University Tia Mariatul Kibtiah menyoroti ancaman krisis ekonomi akibat eskalasi di Selat Hormuz. Menurut dia, hal itu akan berdampak kepada Indonesia sebagai dampak Konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah.

"Hal itu disebabkan tingginya ketergantungan impor minyak Indonesia di tengah cadangan nasional yang hanya tersisa untuk 20 hari dan minimnya kapasitas mitigasi domestik," ujar Tia dalam webinar bertajuk Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia yang digagas oleh IFORSTRA (Institute for Strategic Transformation) seperti dikutip Minggu (8/3/2026).

Tia menambahkan, di ranah diplomasi, langkah Indonesia menghadapi hambatan usai Iran menolak tawaran mediasi sekaligus mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan blok board of peace (BoP).

"Rentetan eskalasi ini turut memicu kerawanan sosial di dalam negeri, ditandai dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI guna mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal," tambah dia.

Melanjutkan hal tersebut, Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI dan Pengamat Timur Tengah M. Syaroni Rofii menganalisis konflik tersebut sebagai perang asimetris.

Alasannya, kata dia, kekuatan militer dan nuklir Amerika Serikat-Israel berhadapan langsung dengan keunggulan teknologi drone Iran dalam sebuah konflik yang ditengarai bertujuan mendorong perubahan rezim.

"Ketegangan makro ini dipastikan akan menekan pasokan BBM nasional dan berdampak langsung pada kelangsungan sektor usaha mikro. Di tengah minimnya peran PBB serta sikap China dan Rusia yang memilih memantau dari kejauhan," kata Syaroni dalam diskusi senada.

 

Saran untuk Indonesia

Di tengah situasi itu, Syaroni menyarankan Indonesia mengambil jalur shuttle diplomacy untuk tampil sebagai aktor penengah strategis di kancah global.

Sementara itu, dari perspektif keamanan domestik, Direktur Institute for Strategic Transformation/Pengamat Terorisme M. Syauqillah mewanti, pergeseran bahaya konflik ke ruang digital yang memicu polarisasi masyarakat.

Dia mencatat, sentimen publik terpecah ke dalam berbagai narasi, mulai dari ajakan jihad, khilafah, isu akhir zaman, hingga polarisasi pro dan anti-Syiah.

"Ancaman menjadi semakin nyata apabila kelompok teror mengeksploitasi secara masif sentimen tersebut," wanti dia.

Lebih jauh lagi, lanjut Syauqillah, memanasnya tensi konflik di media sosial turut memperbesar risiko munculnya lone actor atau pelaku teror tunggal yang teradikalisasi secara mandiri.

Oleh karena itu, menghadapi potensi penyebaran propaganda ideologis di media sosial dan dampak ke ekonomi sosial, dia menegaskan, strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan.

"Tujuannya untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi dan fragmentasi sosial dengan mempertimbangkan level, mulai dari level rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem," dia menandasi.

Sebagai informasi, diskusi webinar dipandu oleh Raja Adelia Oktafia, mahasiswa dari Universitas Pertamina. Tema besar diangkat yaitu konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah yang berefek bagi Indonesia, mulai dari kerentanan pasokan energi nasional hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6