Liputan6.com, Jakarta - Pengacara kondang, Hotman Paris bersuara terhadap tuntutan mati kepada Fandi Ramadhan, ABK kapal yang diduga menyelundupkan sabu 2 ton. Menurut Hotman, dalam memberikan tuntutan hukuman mati, jaksa penuntut umum (JPU) telah mengabaikan fakta lapangan dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), termasuk fakta sidang.
"Penyidik dan Kejaksaan JPU mengabaikan fakta di BAP maupun fakta persidangan," kata Hotman saat rapat dengan pendapat umum dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Hotman menyebut, ada dua fakta penting yang diabaikan JPU. Pertama, terdakwa baru bekerja selama tiga hari dan masuk melalui agen. Kedua, kapten kapal diketahui membawa narkoba senilai hampir Rp 4 triliun.
Advertisement
"Kalau sampai didatangkan oleh pemiliknya dari Indonesia, ya berarti si pemilik narkoba itu sudah ada kerja sama dengan si kapten ini,” lanjut Hotman.
"Karena Rp 4 triliun, enggak mungkin dong didatangkan untuk Rp 4 triliun orang yang tidak, tidak, tidak kenal?” heran Hotman.
Hotman menambahkan, alasan berikutnya mengapa tidak layak dituntut hukuman mati karena minim alat bukti terhadap Fandi.
“Sesuai dengan dua minimum alat bukti tidak ada, diakui di persidangan bahwa memang si Pandi ini bolak-balik nanya (tidak tahu yang dibawa adalah narkoba 2 ton),” tegas Hotman.
Atas kejanggalan-kejanggalan tersebut, Hotman meminta DPR dapat memberi perhatian dengan memanggil para jaksa dalam kasus tersebut untuk membuka tabir keadilan terhadap Fandi.
“Jadi kami mohon juga agar penyidik dan JPU-nya ya dipanggil di Komisi III untuk melindungi rakyat yang susah ini,” Hotman menandasi.
Sederet Kejanggalan
Hotman Paris membeberkan keanehan kasus 2 ton sabu ini. Dia menyebut, Fandi bertolak ke Thailand untuk ikut dalam pelayaran. Karena kapal disebut akan berangkat dari sana. Usai berpamitan, Fandi pun terbang ke Thailand dan diinapkan 10 hari. Alasannya, kapalnya belum siap berlayar.
“Mulai di kapalnya itu tanggal 14 Mei. Menurut kontrak, harusnya kapalnya Northstar namanya. Tahu-tahu dibawa speedboat ke kapal Sea Dragon," tutur Hotman di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Hotman menegaskan, ini adalah keanehan pertama dari rangkaian pelayaran Fandi. Pada awal melamar menjadi ABK dan kenyataan di lapangan, nama kapal berbeda.
“Lamaran sama kapalnya berbeda. Baru mereka berangkat, dibawalah si Fandi ini ke tengah laut, naiklah ke kapal ini (Sea Dragon).”
Tiga hari kemudian yaitu tanggal 18 Mei, datanglah kapal nelayan. Hotman menuturkan, apal nelayan itu membongkar 67 kardus.
“Karena memang orang tidak banyak, oleh si kapten diperintahkan semua awak kapal (termasuk Fandi) untuk estafet memasukkan,” ungkap Hotman.
Fandi sudah menaruh curiga dengan kardus yang datang dari kapal nelayan itu. Dia bertanya kepada kapten dan wakil kapten kapal yang sesama orang Indonesia. Mereka menjawab bahwa kardus itu berisi uang dan emas.
"Kebetulan kaptennya juga orang Batak marga Sirait, wakil kaptennya juga orang Batak marga Tambunan. Si kapten ini ngaku bahwa itu adalah uang dan emas. Itu pengakuan Fandi yang diamini oleh kapten dan wakil kapten di persidangan,”. beber Hotman.
Keanehan berikutnya, lanjut Hotman, kapal itu seharusnya berangkat dari Thailand menuju Filipina. Tapi anehnya melewati perairan Indonesia di Tanjung Karimun yang akhirnya tertangkap BNN dan Bea Cukai.
“Di situlah duka cita itu dimulai,” ucap Hotman.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7675056/original/096398500_1780469939-1000436835.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709839/original/047593100_1782789385-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T101408.733.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/738835/original/091334200_1521191522-ito.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875093/original/004200100_1719377270-Jepretan_Layar_2024-06-25_pukul_20.30.44.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8703035/original/020989500_1782776197-IMG-20260630-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/916085/original/009668100_1435788780-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715363/original/041394300_1782801197-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_13.19.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715300/original/044052000_1782799330-d8b13366-0462-4745-b002-f1b0c44f76e3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673385/original/035050000_1782714075-IMG_2680.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5167919/original/028803600_1742375297-VideoCapture_20250319-160308.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8667523/original/054170600_1782701414-komisi_ix.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8430043/original/003749400_1782319438-1001465798.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558976/original/042519100_1776499962-IMG_9176.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5080101/original/064595300_1736158589-20250106-Dapur_MBG-MER_1.jpg)