Pertamina Patra Niaga Ciptakan Pengelolaan Limbah Cerdas Lewat SI CADIAK, Apa Itu?

Pertamina Patra Niaga mewujudkan pengelolaan sampah berbasis eco-inovasi melalui Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah (SI CADIAK), dorong pemberdayaan warga.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertamina Patra Niaga menciptakan sistem pengelolaan limbah produktif berbasis masyarakat melalui Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah (SI CADIAK).

Terobosan ini dibuat sebagai salah satu komitmen perusahaan untuk mendorong pemberdayaan warga berbasis potensi lokal.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M. V. Dumatubun mengatakan, kolaborasi ini sebagai respons atas permasalahan sampah sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Ini jadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan warga mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. Tak hanya selesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan energi berbasis biogas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nagari secara inklusif," ujar Roberth, melansir Antara, Rabu 18 Februari 2026. 

Robert juga mengatakan, program ini menjadi salah satu program andalan perusahaan dalam mendukung pemenuhan kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

Menurutnya, penerapan pendekatan berbasis inovasi dan dampak terukur tidak hanya memberikan manfaat nyata di lokasi pelaksanaan, tetapi juga menjadi tolak ukur praktik pengelolaan limbah produktif berbasis masyarakat, yang dapat diimplementasikan di berbagai daerah lainnya.

"Untuk memperkuat kinerja lingkungan dan sosial secara berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan terintegrasi yang tidak hanya berfokus pada perlindungan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat serta pengukuran dampak yang terstruktur dan terukur," kata Roberth.

SI CADIAK sebagai Solusi Limbah Lokal

Menurut Roberth, tantangan pengelolaan limbah pertanian dan peternakan juga terjadi di Nagari Padang Toboh.

Melihat kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau menghadirkan program itu sebagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis ekonomi sirkular. 

Kini, limbah dari kegiatan pertanian dimanfaatkan sebagai sumber daya yang bernilai dan dapat digunakan secara produktif.

Melalui pendekatan eco-inovasi, jerami diolah sebagai produk yang bernilai dan berkelanjutan.

"Kongkretnya, program ini mengubah limbah jerami dan kotoran ternak menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan," ucap Roberth.

Pengolahan ini bertujuan untuk menekan praktik pembakaran terbuka, meminimalkan dampak lingkungan, sekaligus meningkatkan efektivitas pemanfaatan potensi lokal.

Hasilnya, sebanyak 894 ton jerami per tahun dan 864 ton kotoran ternak diolah menjadi kompos, bioetanol, parfum jerami ramah lingkungan bernama ARUWA, mendukung Program Sawah Pokok Murah, serta menghasilkan energi baru terbarukan melalui PLTS yang dimanfaatkan untuk mendukung Learning Center UKASEMA.

Dampak Nyata yang Dirasakan Masyarakat

Lebih jauh, SI CADIAK memberikan dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan dan kesehatan.

Beberapa perubahan mulai dirasakan masyarakat, mulai dari penurunan emisi hingga 1.305 ton CO₂e per tahun, pengurangan kasus ISPA sampai 80 persen dalam periode 2022–2025, serta peningkatan pendapatan masyarakat hingga 63 persen melalui diversifikasi produk dan efisiensi biaya pertanian.

Kata Roberth, teknologi ini sejalan dengan  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain poin pertama (tanpa kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan masyarakat dan poin delapan (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) melalui penciptaan nilai tambah ekonomi lokal.

Ada juga poin 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab) melalui pengelolaan limbah berkelanjutan, serta poin 13 (penanganan perubahan iklim) melalui pengurangan emisi dari praktik pembakaran jerami.

Terakhir, sambung dia, dampak program ini akhirnya dapat dirasakan oleh berbagai pihak.

"Program ini tidak hanya memberikan dampak lokal, tetapi juga berkontribusi pada agenda pembangunan berkelanjutan nasional," tutup Roberth.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6