Wisata Air Panas Guci Sepi Usai Banjir Bandang, MPR Dorong Penataan dan Reboisasi

Muzani menduga pada bagian atas aliran air sungai pada objek wisata air panas Guci, terdapat penebangan pohon sehingga menyebabkan debit air besar memicu terjadinya banjir bandang.

Diterbitkan 16 Februari 2026, 18:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Usai diterjang banjir bandang beberapa waktu, objek wisata air panas Guci, mengalami penurunan minat pengunjung. Mengetahui hal tersebut, Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Muzani bersama anggota DPR RI, perwakilan kementerian Pariwisata, Kementerian Agama, dan Pemerintah setempat, melihat langsung kondusi objek wisata air panas Guci, di Kabupaten Tegal.

Muzani mengatakan, pada 20 Desember 2025 dan 24 Januari 2026, objek wisata Guci mengalami bencana besar yakni banjir bandang. Akibatnya, jembatan penyebrangan dan lokasi pemandian air panas mengalami kerusakan atau hancur.

"Banjir bandang dari atas yang menyebabkan jembatan dan Pancuran 13 yang merupakan objek wisata air panas Guci ini hancur," ujar Muzani, Senin (16/2/2026).

Muzani menduga pada bagian atas aliran air sungai pada objek wisata air panas Guci, terdapat penebangan pohon sehingga menyebabkan debit air besar memicu terjadinya banjir bandang. Muzani meminta Pemerintah Kabupaten Tegal berkoordinasi dengan Perhutani melakukan penanaman pohon kembali.

"Sama Perhutani, penanaman kembali di lereng-lereng gunung, di lereng Gunung Slamet agar terjadi reboisasi kembali," jelas Muzani.

Selain itu, Muzani turut mendengarkan aspirasi masyarakat terkait wisata pemandian air panas Guci yang mengalami kerusakan usai banjir bandang. Kerusakan wisata air panas Guci berdampak pada jumlah pengunjung yang menurun, turut mempengaruhi ekonomi masyarakat yang bergantung pada wisata air panas Guci.

"Masyarakat hari ini meminta agar pemerintah melakukan penataan terhadap objek wisata air panas Guci ini dengan baik, masyarakat meminta agar jembatan yang hancur diperbaiki lagi," terang Muzani.

Muzani telah mendapatkan informasi terkait rencana pembangunan kembali jembatan dan akan dikerjakan Pemerintah Kabupaten Tegal. Rencananya pembangunan jembatan yang rusak akibat sapuan banjir bandang, akan dikerjakan dalam waktu dekat atau setelah musim penghujan selesai.

"Masyarakat meminta agar Pancuran 13, air panas yang merupakan objek utama dari wisata air panas Guci ini, digratiskan," ucap Muzani.

Muzani mengungkapkan, selama ini pengunjung pemandian air panas Guci dikenakan retribusi sebesar Rp27 ribu. Adapun kawasan wisata air panas Guci berada pada kawasan hutan atau pada Taman Wisata Alam.

"Kita ingin agar pemerintah memperhatikan persoalan objek yang vital ini, yakni air panas, bisa menjadi lebih baik lagi, caranya dengan menggratiskan," ungkap Muzani.

Muzani menilai, menggratiskan wisata air panas Guci dapat dinikmati masyarakat umum, mulai dari masyarakat sekitar maupun masyarakat luar kawasan wisata Guci. Muzani meyakni, Pemerintah Kabupaten Tegal telah merencanakan penataan kembali wisata air panas Guci.

"Saya kira Pak Bupati sudah merencanakan penataan objek wisata ini dengan baik," kata Muzani.

 

Masih Terdapat Titik Rawan

Sementara, Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman menuturkan, wisata air panas Guci telah dibuka untuk umum. Bahkan, wisatawan yang berkunjung tidak dikenakan biaya masuk dan telah digratiskan.

"Saat ini Guci masih dibuka untuk umum, bahkan tiket masuk depan juga kami gratiskan dari Pemerintah Kabupaten," tutur Ischak.

Ischak mengakui, pada kawasan air panas Guci atau di sekitar lokasi Pancuran 13 masih terdapat titik rawan. Namun, Pemerintah Kabupaten Tegal bersama TNI dan Polri telah bersiaga untuk menjaga keamanan wisatawan.

"Jadi memastikan ketika titik-titik yang rawan bencana sebaiknya dihindari. Kami sudah ada petugasnya," ucap Ischak.

Sebelumnya, Banjir bandang kembali menerjang kawasan objek wisata Guci, Kabupaten Tegal, Sabtu (24/1/2026). Sejumlah fasilitas rusak, termasuk tiga jembatan hilang. Pemerintah Kabupaten Tegal menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan di kawasan tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal M Afifudin mengatakan, penetapan status darurat tersebut sebagai langkah penanganan darurat yang mengalami kerusakan bangunan maupun fasilitas di kawasan objek wisata itu.

"Kami memastikan tidak ada korban jiwa dan tidak ada rumah yang terdampak, kecuali beberapa fasilitas objek wisata dan tiga jembatan yang hilang. Oleh karena itu, kami menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk penanganan darurat," kata Afifudin. Dikutip dari Antara, Minggu (25/1/2026).

 

Desain Ulang, Lebih Aman Hadapi Bencana

Beberapa fasilitas objek wisata yang rusak dan tertutup material adalah Pancoran 13, Pancoran 5, Pemandian Air Panas, sedangkan tiga jembatan yang hilang, yaitu dua jembatan yang berada di kawasan objek wisata serta jembatan penghubung Siramp dan Bumijawa.

Saat ini, debit air sungai Gung yang berada di kawasan objek wisata Guci masih terpantau normal meski curah hujan masih mengguyur di wilayah kawasan tersebut.

Akibat tumpukan material berupa pasir dan batu, objek Pancuran 13, Pancuran 5, dan pemandian air panas ditutup total untuk masyarakat. Kemudian, sebagai upaya penanganan darurat, pihaknya akan mendesain kawasan objek wisata Guci agar lebih aman pasca-bencana.

"Kami mengupayakan melakukan desain kawasan itu lebih aman pasca-bencana. Jembatan akan dibangun lagi setelah puncak hujan selesai atau sekitar pertengahan Februari 2026," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6