Alami Penurunan Tanah 10 Sentimeter per Tahun, Seberapa Lama Jakarta Bisa Bertahan?

Dari sudut pandang tata kota, penurunan tanah menciptakan efek cekungan yang berbahaya.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 07:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanah Jakarta terus turun, pelan namun pasti. Di sejumlah wilayah, laju penurunan muka tanah bahkan mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun. Fenomena ini bukan sekadar data teknis, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan ibu kota, memperparah banjir, merusak infrastruktur, hingga membayangi masa depan jutaan warganya.

Pengamat Tata Kota Prof Putu Rumawan Salain, mengatakan laju penurunan tanah di Jakarta yang mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun merupakan kondisi yang mengkhawatirkan.

"Dengan penurunan tanah setiap tahunnya mencapai 10 sentimeter, cukup mengkhawatirkan. Jakarta wajib menyiapkan blue print penganggulan bencana seperti banjir,” ujar Prof. Putu saat diwawancarai terkait kondisi penurunan muka tanah Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Putu melihat, dari sudut pandang tata kota, penurunan tanah menciptakan efek cekungan yang berbahaya.

Menurutnya, penurunan tanah yang berlangsung di Jakarta akan berdampak pada terjadinya cekungan ‘bowl’ yang ketika hujan akan menjadi penampungan air, yang berdampak pada banjir yang bermuara pada degradasi lingkungan dan tentunya beban bagi pemerintah dan masyarakat saat pemulihannya.

"Rendaman air di perkotaan yang lama akan mempengaruhi struktur bangunan khususnya pondasi," paparnya.

Kondisi Jakarta kerap diibaratkan seperti mangkuk (bowl effect), di mana permukaan daratan berada lebih rendah dibandingkan permukaan laut dan dikelilingi tanggul. Air hujan yang masuk sulit mengalir keluar tanpa bantuan pompa. Saat hujan deras bersamaan dengan pasang laut, genangan bisa bertahan lebih lama.

Putu menambahkan, efek “bowl effect” bagi Kota Jakarta akan menimbulkan kesulitan ataupun hambatan aliran air. Untuk mempercepat aliran, menurutnya, dapat dibantu dengan pompa air.

Di samping itu, diperlukan sodetan-sodetan baru yang lebih cepat dan lancar dalam mengirimkan air genangan.

“Dapat pula dilengkapi dengan empang penahan limpahan air yang selanjutnya dapat diuraikan atau dengan mesin pompa, dari aspek perkotaan perlu menyiapkan master plan drainase yang canggih dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

 

Ancaman Serius bagi Kota Layak Huni

Ketika ditanya apakah Jakarta masih aman dihuni jika tren ini terus terjadi, Prof. Putu tak menampik ancamannya.

"Penurunan permukaan tanah memang jadi ancaman serius buat kota-kota besar, terutama Jakarta," tegasnya.

Putu juga mengingatkan bahwa ancaman penurunan tanah tidak bisa dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani secara serius, dampaknya akan semakin meluas dan membebani kota di masa depan.

"Kalau tidak diatasi, penurunan tanah bisa makin parah dan berdampak luas. Jakarta dan kota-kota lain harus punya strategi mitigasi yang efektif, perlu ada mitigasi bencana denga beragam sosialisasi agar masyarakat bahwa mereka tidur, bekerja, dan rekreasi di sekitar kawasan yang berbahaya,” ungkapnya secara serius.

Tak hanya Jakarta, wilayah pesisir utara Jawa dari Jakarta, Semarang hingga Surabaya memiliki potensi serupa. Namun, Jakarta disebut sebagai yang tertinggi laju penurunannya.

Menurut Prof. Putu, ketergantungan terhadap air tanah tak lepas dari persoalan sistemik. “Harus dikatakan kegagalan, karena pemerintah belum mampu menyiapkan kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat. Khususnya di perkotaan,” katanya.

Eksploitasi air tanah untuk industri, akomodasi, perkantoran, hingga permukiman padat dinilai mempercepat amblesnya tanah.

"Dengan maraknya pembangunan gedung tinggi, kawasan bisnis, dan permukman padat sudah barang tentu sangat berdampak terhadap daya dukung tanah di Jakarta. Pemanfaatan lahan yang kepadatan bangunannya lebih tinggi dari ruang terbukannya sudah barang tentu ikut mempercepat penurunan permukaan tanah," jelasnya.

Di samping itu, ia menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk gedung-gedung tinggi, kawasan bisnis, dan perumahan terus mengoyak bumi demi mendapatkan pasokan air bersih.

Pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memicu percepatan penurunan permukaan tanah di Jakarta.

Karena itu, Prof. Putu menegaskan regulasi pemanfaatan air tanah harus diatur ulang. Pemerintah maupun pihak swasta perlu mengoptimalkan pengolahan air bersih dari sumber air permukaan seperti sungai atau danau guna mengurangi ketergantungan terhadap air bawah tanah.

 

 

Infrastruktur Retak, Pesisir Terancam

Menurut Putu dampak dari penurunan tanah bukan hanya soal banjir, tetapi juga menyentuh kerusakan fisik kota secara nyata.

"Penurunan tanah dipastikan mengalami kerusakan pada batas waktunya. Terlebih jika ada penurunan permukaan tanah yang tidak turun dengan merata, jalan atau lantai beton akan retak atau pecah yang lambat laun akan berpengaruh kepda bangunan disekitarnya,” jelasnya.

Di wilayah pesisir, ancaman menjadi semakin kompleks. Dampak penurunan tanah terhadap risiko banjir di kawasan pesisir maupun dataran rendah sama-sama berbahaya.

Di pesisir, posisi permukaan air laut yang lebih tinggi dibanding daratan menyebabkan aliran air dari darat melambat, sehingga genangan lebih sulit surut. Sementara itu, menurut Putu di wilayah dataran rendah, penurunan tanah berpotensi menimbulkan perendaman dengan ketinggian yang lebih besar dan durasi lebih lama, yang pada akhirnya membahayakan struktur bangunan.

Selain itu, kawasan pesisir juga harus mewaspadai ancaman intrusi air laut yang dapat merusak kualitas air tanah dan memperparah krisis lingkungan di Jakarta.

"Dalam 20 tahun ke depan, para ahli memprediksi risiko banjir meningkat, kerusakan infrastruktur meluas, masuknya air laut ke lapisan akuifer air tawar di daratan, serta gangguan sistem air tanah. Yang paling dikhawatirkan adalah tenggelamnya pesisir pantai Jakarta," ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6