Liputan6.com, Jakarta - Di balik cerianya dunia anak-anak, ada fakta kelam. Sebanyak 165 juta anak di seluruh dunia mengalami rabun jauh atau miopia. Ancaman ini nyata di depan mata. Evin salah satunya.
Anak lelaki berusia 11 tahun ini kerap gelisah dengan sepasang kacamata yang selalu menempel di wajahnya. Berkali-kali dia ingin menanggalkan alat bantu penglihatan itu. Namun, dia sadar dunia akan kembali buram jika kacamata dilepas.
Evin ingin seperti anak-anak lain. Bermain bebas tanpa repot membenarkan posisi kacamata dan tak jadi pusat perhatian.
Advertisement
“Pengen lepas, pengen ngerasain mata normal aja, nggak pakai kacamata,” ucap Evin saat berbincang dengan Liputan6.com di rumahnya di kawasan Depok, Jawa Barat, Minggu (18/1/2026).
Pengalaman pahit pernah membuatnya makin enggan berkacamata. Dia sempat dikucilkan, bahkan dianggap aneh oleh kakak kelas.
“Kayak aneh gitu tatapan (kakak kelas). Kayak, ini apaan nih pakai kacamata,” ucap Evin.
Sudah tiga tahun Evin menggunakan kacamata. Sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, Evin kesulitan membaca tulisan di papan tulis. Sang ibunda, Evelin, yang mendapat laporan dari guru langsung membawa Evin ke optik terdekat.
"Pas diperiksa minusnya sudah 3,” cerita Evelin.
Khawatir kondisi mata anaknya memburuk, Evelin memutuskan membeli kacamata. Evelin yakin masalah ini bukan faktor keturunan. Dia dan suaminya tak pernah berkacamata. Penyebabnya, kata Evelin, lebih karena kebiasaan anaknya menatap layar sejak kecil.
“Dulu screen time-nya intens banget. TV 32 inci ditaruh di bufet kecil, jaraknya dekat. Dia sering berdiri persis di depannya,” kenangnya.
Tak ada aturan jelas soal waktu menonton televisi atau bermain ponsel. Terlebih saat Evelin dan suaminya harus bekerja, Evin dititipkan pada sang nenek. Di sanalah ponsel dan televisi menjadi teman setia pengusir sepi.
“Kalau saya kerja ya nggak tahu berapa jam dia main gadget. Pinjam punya neneknya, nonton YouTube,” tutur Evelin lirih.
Masalah tak berhenti di situ. Pola makan Evin pun jauh dari kata ramah mata. Sayur-mayur selalu dia tolak. Wortel, bayam, bahkan seledri sekecil apa pun, nyaris pasti berakhir di pinggir piring.
“Dia nggak suka sayur. Wortel? Boro-boro. Ada seledri sedikit aja dipinggirin,” kata Evelin.
Banyak Anak-Anak di Perkotaan Alami Mata Minus
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menemukan, banyak anak di kawasan perkotaan mengalami mata minus atau rabun jauh. Khusus di Jakarta, tercatat 40,5 persen siswa SD mengalami rabun jauh, dan angka ini melonjak tajam pada jenjang SMP hingga menembus lebih dari 50 persen.
"Jadi memang tinggi mata minus pada anak di perkotaan," kata Ketua Departemen Informasi dan Edukasi Masyarakat Perdami, Kianti Raisa Darusman.
Tak hanya di Jakarta, tingginya masalah mata minus pada anak juga terlihat di Surabaya. Begitu juga di sejumlah kota besar di negara Asia Tenggara, seperti China, Taiwan, dan Singapura.
Bahkan di dunia, data International Agency for the Prevention of Blindness pada 2021 memperlihatkan, sekitar 165 juta anak mengalami rabun jauh atau miopia. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi 275 juta anak pada 2050.
Kianti menuturkan, lingkungan perkotaan yang padat ikut berperan besar dalam melonjaknya kasus mata minus pada anak. Di kota-kota besar, ruang bermain semakin sempit. Anak-anak jarang memiliki kesempatan berlari di halaman, bermain di lapangan, atau sekadar menikmati cahaya matahari di luar rumah.
Sebaliknya, sebagian besar waktu mereka dihabiskan di dalam ruangan. Belajar, bermain, hingga beristirahat dilakukan di ruang tertutup, dengan aktivitas jarak dekat yang mendominasi. Minimnya ruang terbuka membuat anak-anak tumbuh tanpa cukup paparan aktivitas luar ruang yang penting bagi kesehatan mata.
"Kayak di Surabaya tinggi. Kalau mungkin agak pinggir sedikit, mungkin kayak di Lamongan atau di Jawa Timurnya yang kotanya nggak terlalu besar gitu, angkanya biasanya lebih kecil," ucap Kianti.
Setali tiga uang dengan Kianti, dokter spesialis mata dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Doni Widyandana menyebut, penelitian memang membuktikan banyak anak di kawasan perkotaan mengalami mata minus.
"Kemarin diteliti memang lebih banyak di perkotaan," ucapnya.
Selain kebiasaan menggunakan gadget berlebihan, sistem pendidikan juga memegang peran penting dalam meningkatnya kasus mata minus pada anak-anak di kawasan perkotaan. Sekolah, menurut Doni, seharusnya tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga memberi perhatian serius pada kesehatan para siswanya.
“Pendidikan itu idealnya ikut memikirkan kesehatan anak, terutama kesehatan mata,” ujarnya.
Dia menekankan pentingnya aktivitas di luar kelas sebagai bagian dari proses belajar. Anak-anak perlu diberi ruang untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi di luar ruangan, bukan hanya duduk lama menatap buku atau layar di dalam kelas. Paparan cahaya alami dan aktivitas jarak jauh diyakini membantu menekan risiko gangguan refraksi sejak dini.
“Harus ada kegiatan luar kelas, supaya mereka tidak terus-menerus beraktivitas di jarak dekat,” kata Dodi.
Advertisement
Lambat Terdeteksi
Kianti menjelaskan, mata minus pada anak di kawasan perkotaan kerap terlambat terdeteksi dan tertangani. Ada banyak faktornya. Salah satunya karena anak-anak sering kali tidak menyadari penglihatannya mulai buram. Mereka baru tahu ada masalah saat tim kesehatan datang melakukan skrining ke sekolah dan menemukan bahwa mereka membutuhkan kacamata.
Faktor berikutnya datang dari lingkungan terdekat, terutama orang tua. Masih ada anggapan bahwa rabun ringan bukan persoalan serius. Selama anak masih bisa melihat, gangguan itu kerap dianggap sepele dan belum menjadi prioritas untuk dikoreksi hingga penglihatan kembali optimal.
Padahal, layanan kesehatan sebenarnya sudah tersedia dan mudah diakses. Dengan BPJS, pemeriksaan dan kacamata bisa didapatkan secara gratis. Namun, banyak keluarga yang belum memanfaatkan fasilitas ini secara maksimal.
Yang tak kalah penting, masih ada hambatan psikologis. Sebagian orang tua atau anak enggan memakai kacamata karena dianggap sebagai kekurangan, sesuatu yang memalukan, atau membuat tampilan berbeda.
“Barrier-barrier seperti ini masih sering kami temukan di lapangan,” kata Kianti. Akibatnya, gangguan penglihatan pun terus dibiarkan, hingga akhirnya semakin parah.
Gangguan Penglihatan Berdampak ke Perkembangan Kognitif Anak
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Harbuwono menyatakan, menjaga kesehatan mata sejak dini adalah investasi masa depan. Melalui penglihatan, anak-anak mulai belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Adanya gangguan penglihatan dapat berdampak pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak-anak kita,” kata Dante, Kamis (10/10/2025).
Dante juga mengajak masyarakat untuk menjaga penglihatan generasi masa depan menuju Indonesia Emas 2045 dengan melakukan pencegahan dan deteksi dini.
“Saya mengajak kita semua untuk terus melakukan pencegahan, deteksi dini, serta pengobatan gangguan penglihatan pada anak,” ujar Dante.
Deteksi dini gangguan penglihatan di masyarakat sangat penting dilakukan untuk menemukan kasus sedini mungkin, sehingga dapat ditindaklanjuti segera. Hal ini agar tidak terjadi keterlambatan penanganan yang dapat memperberat kondisi atau mengakibatkan kebutaan.
Pentingnya langkah ini sejalan dengan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Anak usia dini dengan gangguan penglihatan berat dan permanen berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik, bahasa, emosional, sosial, hingga kognitif.
Di usia sekolah, gangguan penglihatan kerap berujung pada prestasi akademik yang lebih rendah. Dampaknya bahkan berlanjut hingga dewasa. Gangguan penglihatan dapat menurunkan kualitas hidup, membatasi peluang kerja, serta meningkatkan risiko depresi dan kecemasan.
Sementara pada usia lanjut, masalah mata bisa memicu isolasi sosial, kesulitan berjalan, meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang, hingga memperbesar kemungkinan masuk lebih awal ke panti jompo atau fasilitas perawatan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3904843/original/ACg8ocJuvA7TBzU0DIkkfmS_IdeFJxGnUN1q8-9R-RVXV4SUgKYUeHr3%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477913/original/099674400_1768885225-WhatsApp_Image_2026-01-20_at_10.08.53__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884476/original/045757800_1764335001-WhatsApp_Image_2025-11-28_at_20.01.56.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571890/original/029692900_1782526551-000_B8H338Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8571665/original/074668100_1782526250-063_2283504461.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4945880/original/020716100_1726560771-fotor-ai-2024091714539.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477896/original/021090400_1768885000-28966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5467796/original/068789200_1767930639-sampah_pasar.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477887/original/071536700_1768884499-IMG_5940.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477533/original/029468100_1768839719-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477761/original/063430600_1768881855-Bupati_Sudewo_Ditangkap_KPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1795484/original/084585400_1512736061-20171208-limbah_medis-b3-cirebon.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477668/original/083181900_1768879173-SPPG_Mustikasari_Bekasi.jpg)