Diam-Diam Mengancam, Miopia pada Anak Bisa Berujung Kebutaan Jika Diabaikan

Miopia pada anak bisa berujung kebutaan jika diabaikan. Kenali gejala, risiko, dan pentingnya deteksi serta penanganan sejak dini.

Diterbitkan 30 Maret 2026, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Miopia atau rabun jauh pada anak kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Kondisi yang kerap dianggap sepele ini ternyata bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mata yang lebih berat, bahkan berujung kebutaan jika tidak ditangani sejak dini.

Seiring meningkatnya penggunaan gadget dan aktivitas jarak dekat, kasus miopia pada anak usia sekolah terus melonjak, terutama di wilayah perkotaan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen anak di kota besar mengalami rabun jauh. Angka ini menjadi alarm bagi orang tua untuk lebih waspada terhadap kesehatan mata anak.

Miopia terjadi ketika bola mata memanjang, sehingga cahaya yang masuk tidak fokus tepat di retina. Akibatnya, anak kesulitan melihat objek yang jauh. Gejala awalnya sering tidak disadari, seperti sering menyipitkan mata, duduk terlalu dekat saat menonton atau belajar, hingga keluhan sakit kepala dan mata lelah.

Menurut Dr. Susanti, SpM(K), M.Kes dari Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo, banyak orang tua masih menganggap miopia cukup ditangani dengan kacamata biasa.

"Miopia pada anak tidak cukup hanya dikoreksi, tetapi juga perlu dideteksi dan ditangani sejak awal agar risiko gangguan penglihatan yang lebih serius di kemudian hari dapat ditekan," ujarnya.

Jika tidak ditangani, miopia dapat berkembang menjadi miopia tinggi, yaitu minus 6 dioptri atau lebih. Kondisi ini berisiko memicu berbagai komplikasi serius seperti ablasio retina, glaukoma, katarak, hingga degenerasi makula miopia yang bisa menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

Bahkan, pada tingkat miopia yang lebih rendah sekalipun, risiko gangguan mata tetap lebih tinggi dibandingkan individu tanpa miopia. Inilah sebabnya deteksi dan intervensi dini menjadi sangat penting.

 

Pemicu Terjadinya Miopia pada Anak

Selain faktor genetik, gaya hidup modern juga berperan besar dalam meningkatnya kasus miopia. Kebiasaan membaca atau menatap layar dalam jarak dekat terlalu lama, serta minimnya aktivitas di luar ruangan, menjadi pemicu utama progresivitas rabun jauh pada anak.

Dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals & Clinics, Dr. Tri Rahayu, mengingatkan bahwa waktu untuk menangani miopia tidaklah panjang.

"Periode emas untuk menangani miopia sangat terbatas. Semakin muda seorang anak terkena miopia, semakin besar peluangnya berkembang menjadi miopia tinggi," ujarnya.

Kabar baiknya, miopia dapat dikendalikan. Tidak hanya dengan kacamata biasa, kini tersedia berbagai metode untuk membantu memperlambat perkembangannya, seperti lensa manajemen miopia, lensa kontak khusus, hingga terapi obat tetes atropin.

Bagi orang tua yang khawatir dengan efek samping obat atau risiko penggunaan lensa kontak, pilihan lensa kacamata dengan teknologi khusus bisa menjadi alternatif. Teknologi seperti H.A.L.T. (Highly Aspherical Lenslet Target) dirancang untuk membantu menghambat pertumbuhan bola mata yang menjadi penyebab utama miopia.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa intervensi sejak dini dapat memberikan dampak signifikan dalam memperlambat progresivitas miopia. Bahkan, manfaatnya dapat bertahan hingga anak beranjak dewasa.

Langkah sederhana seperti rutin memeriksakan mata anak, membatasi waktu penggunaan gadget, serta mendorong aktivitas di luar ruangan setidaknya 1–2 jam per hari, dapat membantu menjaga kesehatan mata mereka.

Miopia bukan sekadar masalah minus pada mata. Jika diabaikan, dampaknya bisa jauh lebih besar bagi kualitas hidup anak di masa depan.

Country Manager EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci utama dalam menghadapi meningkatnya kasus miopia pada anak.

"Kami berharap semakin banyak keluarga memahami gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan sejak awal," ujarnya.