Ketahanan Kesehatan Dinilai Sebagai Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Dengan menjadikan kesehatan sebagai bahasa kebangsaan, dr Cashtry mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun sistem perlindungan kehidupan yang inklusif dan berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama terhadap masa depan bangsa.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 22:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Dr. Cashtry: Ketahanan kesehatan adalah kapasitas sistemik mencegah, melindungi, dan memulihkan.
  • Bukunya "Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa" ajak kolaborasi lintas sektor.
  • Tujuannya menggeser pandangan reaktif ke preventif demi Indonesia Emas 2045.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Profesi Kesehatan (Prokes) NasDem, dr Cashtry Meher memandang ketahanan kesehatan tidak semata diukur dari kemampuan merespons krisis, melainkan dari kapasitas sistemik bangsa untuk mencegah, melindungi, dan memulihkan kehidupan secara konsisten.

Hal ini dituangkannya dalam sebuah buku berjudul "Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa" yang diluncurkannya di The Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, Rabu (14/1/25).

Dia mengajak publik melihat kesehatan sebagai sistem perlindungan kehidupan, sebuah sistem yang bekerja sebelum risiko muncul dan tetap hadir ketika tantangan datang.

"Karena itu, buku ini mendorong kolaborasi penuh antara pemerintah, tenaga profesional, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat sebagai satu ekosistem kehidupan yang saling menguatkan," kata dr Cashtry dalam keterangannya.

Dia memandang, kesehatan dipahami sebagai bahasa kebangsaan yang menyatukan berbagai peran dan latar belakang, karena seluruh upaya tersebut berangkat dari kepentingan yang sama, yakni kehidupan.

Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser cara pandang kolektif dari yang semula reaktif menjadi preventif, dari sektoral ke sistemik, serta dari berorientasi jangka pendek menuju lintas generasi.

Menuju Indonesia Emas 2045

dr Cashtry menegaskan, apa yang disampaikan ini bukanlah sebuah kritikan, tapi mengajak semua pihak berjalan bersama dalam membangun ketahanan kesehatan nasional.

Dia pun berharap ini menjadi kontribusi pemikiran penting bagi upaya mewujudkan ketahanan kesehatan nasional sebagai prasyarat menuju Indonesia Emas 2045 yang manusiawi, tangguh, dan berkelanjutan.

Hadir pemberi Testimoni buku, antara lain: Prof. Ilya Avianti, Fuad Bawazier, Prof. Laode, Kolonel Kes Muhammad Ihsan, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dan tokoh nasional lainnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6