Dinas Lingkungan Hidup Tulungagung Tingkatkan Penanganan Lonjakan Sampah Saat Libur Nataru

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur meningkatkan penanganan pengelolaan sampah menyusul naiknya volume sampah selama delapan hari libur Nataru.

Diterbitkan 03 Januari 2026, 23:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim) meningkatkan penanganan pengelolaan sampah menyusul naiknya volume sampah selama delapan hari libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Tulungagung Yudha Yanuar Hadi mengatakan, DLH mengoptimalkan pengangkutan dan pengolahan sampah karena terjadi kenaikan volume sekitar lima persen dibandingkan hari normal.

"Selama libur Nataru, produksi sampah meningkat menjadi sekitar 127 hingga 130 ton per hari," ujar Yudha melansir Antara, Sabtu (3/1/2026).

Dia mengatakan, dengan peningkatan tersebut, total sampah yang dihasilkan selama delapan hari libur Nataru diperkirakan menembus lebih dari 1.100 ton.

Yudha menjelaskan, peningkatan volume sampah terutama terjadi di kawasan perkotaan yang menjadi wilayah layanan rutin armada pengangkut sampah DLH.

"Sampah didominasi sisa aktivitas kafe dan restoran yang tetap beroperasi selama libur panjang," ucap Yudha.

Namun demikian, ia menyebut potensi produksi sampah sebenarnya bisa lebih tinggi dari angka yang tercatat. Hal itu, kata Yudha, karena masih banyak lokasi wisata alam dan sentra kuliner yang belum terjangkau layanan pengangkutan sampah DLH.

"Data ini berasal dari wilayah yang terlayani armada kami. Kalau seluruh destinasi wisata alam dan kuliner menggunakan layanan pengangkutan DLH, jumlahnya kemungkinan lebih besar," terang dia.

 

Destinasi Wisata Buang Sampah secara Mandiri

Yudha menambahkan, sejumlah destinasi wisata alam tetap membuang sampah secara mandiri ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Segawe, salah satunya Pantai Gemah.

"Selama libur Nataru, volume sampah dari kawasan tersebut juga terpantau meningkat. Biasanya, pengelola Pantai Gemah mengirim sampah ke TPA Segawe satu kali dalam sepekan dengan volume sekitar dua ton," terang dia.

Namun selama libur Nataru, lanjut Yudha, pengiriman dilakukan setiap tiga hari sekali dengan muatan mencapai dua hingga 2,5 ton per ritase.

"Sampah dari Pantai Gemah langsung dibuang ke TPA Segawe dan retribusinya masuk ke pengelolaan TPA," pungkas Yudha.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat timbulan sampah sisa perayaan Malam Tahun Baru 2026 mencapai 415 meter kubik atau setara 91,41 ton. Angka ini disebut menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 132 ton.

 

Sampah Sisa Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta 91,41 Ton, Menurun karena Larangan Kembang Api

Penanganan sampah dilakukan petugas DLH di sejumlah titik utama perayaan, meliputi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jalan Sudirman–MH Thamrin dan sekitarnya, Sarinah, Dukuh Atas, Semanggi, kawasan SCBD, Bursa Efek Indonesia, Monas, hingga seluruh Jalan Medan Merdeka, Patung Pemuda Membangun, Lapangan Banteng, serta kawasan Istiqlal.

"Ribuan petugas kebersihan kami kerahkan dengan dukungan armada pengangkut sampah agar Jakarta kembali bersih sebelum aktivitas warga dimulai. Mejelang Subuh tuntas semua, Jakarta kembali kinclong," kata Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto dalam keterangan tertulis, Kamis 1 Januari 2025.

Dia mengatakan proses pembersihan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi sejak malam hingga dini hari. Asep berujar bahwa penurunan timbulan sampah tidak terlepas dari kebijakan larangan kembang api, kondisi cuaca, serta konsep perayaan tahun baru yang lebih sederhana dan bermakna.

 

Pasukan Oranye Gerak Cepat Bersihkan Sampah Jakarta

Pasukan Oranye bergerak sejak dini hari membersihkan sampah sisa perayaan tahun baru 2026. Bahkan, pasukan oranye khususnya di kawasan car free night Jakarta sudah merampungkan tugasnya sebelum masuk pukul 05.00 WIB. P

"Upaya ini dilakukan untuk memastikan Jakarta kembali bersih, tertata, dan siap menyambut aktivitas warganya," kata Asep.

Menurut dia, proses pembersihan sampah juga banyak dilakukan secara manual menggunakan sapu dan pengki. Hal ini karena meningkatnya jumlah pedagang kaki lima (PKL) dan hujan ringan yang sempat turun saat perayaan.

"Basahan hujan membuat sampah menempel di jalan dan membuat berat sampah bertambah karena mengandung air," ucap dia.

Lebih lanjut, ia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi aktif menjaga kebersihan dengan mengurangi sampah serta membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan.

"Kesadaran warga ini sangat membantu dan menjadi kunci terciptanya perayaan yang tertib, nyaman, dan bersih," kata Asep.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6