Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 24 Desember terdapat berbagai peringatan bersejarah. Hari ini dirayakan sebagai Malam Natal atau Christmast Eve.
Malam Natal menandai puncak masa Adven sebelum perayaan Natal yang dimulai pada hari minggu keempat sebelum Malam Natal. Biasanya, sejumlah gereja merayakan berakhirnya Adven ini dengan melakukan kebaktian tengah malam.
Hari ini juga diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya). Lahirnya Kodam Jaya ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Advertisement
Peralihan kekuasaan ini diawali dengan penandatanganan dokumen-dokumen terkait dari tangan Co Batavia En Ommelanden kepada Basis Co Jakarta Raya.
Selain itu, hari ini turut diperingati sebagai Gencatan Senjata Natal atau Christmas Truce. Peristiwa ini terjadi pada saat malam natal.
Saat itu, perang dunia I baru berlangsung selama lima bulan dan di tengah situasi yang penuh penderitaan tersebut terjadi gencatan senjata yang memperlihatkan sisi kemanusiaan dari sebuah perang.
Tak kalah menarik, hari ini juga diperingati sebagai Hari Belanja Menit Terakhir. Hari ini dianggap sebagai hari terakhir untuk berbelanja sepuasnya sebelum hari libur Natal dan tahun baru tiba. Pada hari ini, setiap orang berbondong-bondong untuk mewujudkan daftar belanja mereka yang tersimpan selama satu tahun.
Terakhir, hari ini merupakan hari yang cukup memilukan bagi warga negara Indonesia. 25 tahun silam, sejumlah gereja di Jakarta dan lima kota lain di Indonesia mendapatkan serangan bom tepat satu hari sebelum Natal tiba. Insiden ini menewaskan 14 orang dan melukai puluhan korban.
Berikut sederet peringatan yang jatuh pada 24 Desember dihimpun oleh Tim News Liputan6.com dari berbagai sumber:
Malam Natal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4695762/original/055191500_1703245248-Ilustrasi_malam_Natal__Christmas_Eve_.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari National Today, tradisi malam Natal berasal dari liturgi Kristen yang dimulai saat matahari terbenam.
Tradisi ini berdasarkan kisah penciptaan dalam sebuah kitab yang menyatakan bahwa perayaan ini dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari. Selain itu, dipercaya juga bahwa Yesus dari Nazaret lahir pada saat malam Natal di wilayah Palestina.
Malam Natal menandai berakhirnya masa Adven yang berlangsung selama 4 minggu sebelum Hari Raya Natal tiba. Pada malam ini, diceritakan para penggembala yang menjaga kawanan domba mereka di luar Bethlehem melihat bintang terang di langit yang menandakan kelahiran Yesus Kristus. Hal inilah yang melatarbelakangi banyaknya gereja melakukan kebaktian tengah malam sebelum Natal.
Sebagian besar masyarakat Eropa percaya, pada hari ini hewan-hewan dapat berbicara. Sementara, masyarakat Skandinavia memiliki keyakinan bahwa pada hari ini anggota keluarga mereka yang telah meninggal akan mengunjungi rumah mereka sehingga ruang tamu mereka akan dipersiapkan secantik rupa untuk menyambut kedatangan para anggota keluarganya.
Malam Natal juga tak lepas dari ikon utamanya, yakni Santa Claus. Sosok berbaju merah ini digambarkan akan datang menghampiri rumah-rumah penduduk dan membagikan hadiah secara diam-diam. Itulah mengapa pada saat malam natal banyak yang menggantungkan kaus kaki sebagai kantong untuk menerima hadiah dari Santa Claus.
Malam Natal menjadi momen yang spesial bersama anggota keluarga dan orang-orang terkasih. Malam ini biasa dirayakan dengan mendekorasi rumah, membungkus kado, dan menonton film natal favorit keluarga.
Pada kesempatan ini, mereka dapat berkumpul dan merayakan malam Natal dengan keunikan tradisi di wilayahnya masing-masing.
Advertisement
HUT Kodam Jaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3301784/original/052407700_1605844535-20201120-Apel-gelar-pasukan-wilayah-Kodam-jaya-IMAM-1.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari website Kodam Jaya, pada tanggal 24 Desember 1949, telah terjadi penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia (RI).
Penyerahan kekuasaan ini dilakukan oleh Kolonel Vries selaku Basis co Batavia en commelanden selaku perwakilan dari Belanda dan Letkol R. Paswin Nata Diningrat dari Basis co Jakarta Raya yang mewakili Pemerintah RI.
Peralihan kekuasaan tersebut menandai lahirnya organisasi Basis Co Jakarta Raya, sebuah organisasi militer yang berdomisili di Jakarta Raya yang menjadi cikal bakal dari lahirnya Kodam Jaya.
Tepat pada bulan Januari 1950, Basis Co Jakarta Raya berganti nama menjadi Komando Militer Pangkalan Jakarta Raya (KMP Jakarta Raya).
Kemudian, pada tanggal 10 Mei 1950, KMP Jakarta Raya kembali berganti nama menjadi Komando Militer Kota Besar Jakarta Raya (KMKB-DR). Setelah mengalami perubahan nama, KMKB-DR pun mengalami perubahan struktur dan pergantian komando.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Desember 1959, KMKB-DR Kepala Staf Angkatan Darat mengeluarkan Surat Perintah Nomor SP 1671 / 10 /1959 tentang pelaksanaan persiapan penyerahan tanggung jawab KMKB-DR dan penunjukan formatur Kodam V/Jayakarta.
Terbitnya surat perintah ini kemudian disusul dengan Surat Perintah Nomor SP 1672/10/1959 yang dikeluarkan pada tanggal 24 Oktober pada tahun yang sama mengenai perubahan KMKB-DR menjadi Komando Daerah Militer V/Jayakarta atau yang kini dikenal sebagai Kodam Jaya.
Upacara peresmian Kodam Jaya dan penyematan lencana jabatan Panglima Kodam Jaya kepada Kolonel Inf Umar Wirahadikusuma pun dilakukan pada tanggal 19 Januari 1960 pukul 09.00 WIB di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Gencatan Senjata Natal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2038287/original/098317100_1522231354-800px-Vickers_machine_gun_in_the_Battle_of_Passchendaele_-_September_1917.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari website Komisi Pemilihan Umum (KPU), gencatan senjata Natal pada tahun 1914 yang terjadi di Front Barat, medan pertempuran utama Perang Dunia I dilakukan karena melihat kondisi wilayah perang yang kian memburuk.
Berdasarkan catatan sejarawan Martin Gilbert, medan perang kala itu penuh lumpur, hujan salju, dan banyak jenazah yang terbaring tak terurus. Situasi tersebut kemudian mendorong para tentara untuk melakukan tindakan kemanusiaan dengan cara menghentikan peperangan sementara dan melakukan gencatan senjata.
Menurut Gilbert, gencatan senjata natal ini terjadi bukan karena perintah dari Komando, melainkan inisiatif dari prajurit biasa yang tak lagi mampu menanggung rasa putus asa dan penderitaan selama Perang Dunia I yang dikenal sebagai Perang Parit tersebut.
Tepat pada malam Natal, pasukan Jerman mulia menggantungkan lentera dan lilin di sepanjang parit yang biasa mereka gunakan untuk strategi perlindungan perang. Mereka menyanyikan lagu-lagu Natal sembari bertepuk tangan.
Keesokan harinya, para tentara keluar dan memasuki wilayah berbahaya yang disebut sebagai “No Man’s Land”. Mereka saling berjabat tangan, berkenalan, dan bertukar hadiah kecil, seperti sebatang rokok, cokelat, bir, dan makanan kaleng.
Momen ini juga mereka manfaatkan untuk mengubur dan melakukan upacara pemakaman jenazah rekan mereka yang selama ini dibiarkan di medan perang.
Salah satu cerita paling populer dari gencatan senjata ini adalah pertandingan sepak bola yang dilakukan secara spontan antara tentara Jerman dan Inggris.
Meskipun sebagian orang masih memperdebatkan lokasi pasti pertandingan ini, banyak orang yang meyakini kejadian ini benar adanya dan menjadi simbol kedamaian dan kebersamaan di tengah perang.
Gencatan senjata ini tak berlangsung lama. Pada tanggal 27 Desember 1914, para Komandan memerintahkan tentara untuk kembali bertempur tanpa kompromi. sejumlah kelompok yang bersikukuh untuk melakukan gencatan senjata pun terancam mendapatkan hukuman.
Advertisement
Hari Belanja Menit Terakhir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255628/original/049369500_1750191119-two-women-out-city-going-shopping-spree.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari National Today, perayaan Natal tak hanya menjadi momen yang religius, tetapi juga bisa menjadi momen yang komersial.
Hal ini bermula pada abad ke-19, saat itu seorang penulis Inggris bernama Charles Dickens menciptakan sebuah buku yang mengisahkan tentang liburan klasik berjudul “A Christmas Carol”.
Buku ini memiliki pesan tentang pentingnya beramal dan niat baik yang menyentuh hati. Melalui buku ini, masyarakat Amerika mulai memberikan hadiah kepada anggota keluarga dan orang-orang terdekat sebagai bagian dari amal.
Kemudian sekitar tahun 1960-an, istilah Black Friday mulai dikenal di kalangan masyarakat. Istilah ini mulanya dipopulerkan oleh para petugas polisi untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi ketika banyak orang yang beramai-ramai datang ke kota untuk berbelanja menjelang hari raya.
Pada abad ke-20, musim natal pun berubah menjadi musim liburan yang lebih sekuler. Orang-orang mulai membeli barang bukan karena niat beramal, melainkan karena takut ketinggalan atau untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Faktanya, hari ini merupakan hari belanja tersibuk di Amerika Serikat.
Meski begitu, hari ini adalah pengingat penting untuk berbelanja sebelum liburan. Sebagian orang suka menunda-nunda ketika berbelanja.
Pada perayaan Hari Belanja Menit Terakhir inilah orang-orang dapat memanfaatkan kesempatan untuk berbelanja sebelum hari libur Natal.
Secara tidak langsung, hari ini juga dapat menimbulkan rasa persaudaraan karena banyak orang merasa berada dalam situasi yang sama.
Pada akhir tahun, sebagian besar masyarakat pasti menghabiskan waktunya untuk mengunjungi toko perbelanjaan dan menghabiskan daftar belanjanya.
Teror Bom Gereja di Indonesia Pada Malam Natal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1520271/original/027846200_1488170970-Teroris4.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, pada Malam Natal 22 tahun silam, bom meledak di luar gereja di Jakarta dan lima kota lainnya di Indonesia, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Serangan bom ini memperburuk hubungan antara Muslim dan Kristen di seluruh wilayah Indonesia kala itu.
Mengutip ABC News, Jumat (23/12/2022), di antara serangan itu, salah satunya ada di luar Gereja Katolik Roma di Jakarta, di dekat istana kepresidenan dan Masjid Istiqlal. Bom ini meledak saat kebaktian akan berlangsung pada Minggu malam, 24 Desember 2000. Ledakan itu membakar mobil-mobil dan merusak bangunan gereja.
Kepala Menteri Keamanan Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY memperingatkan kemungkinan lebih banyak pemboman kurang dari 24 jam setelah serangkaian ledakan Malam Natal.
"Informasi dari intelejen kepolisian, kemungkinan akan terjadi pengeboman serupa di tempat ibadah lain dan fasilitas umum lainnya," kata SBY.
Dia mengatakan, ledakan itu adalah tindakan terorisme yang dirancang untuk meningkatkan ketegangan agama.
Sementara itu, Presiden Indonesia yang menjabat saat itu, Abdurrahman Wahid -- sering disapa Gusdur -- mengatakan bom di Jakarta dan kota-kota lain merupakan upaya untuk menggoyahkan pemerintahannya yang sudah bermasalah.
Tidak ada klaim tanggung jawab segera, tetapi kekerasan dan ketegangan agama meningkat di seluruh negeri. Meskipun sebagian besar kekerasan karena masalah agama terjadi di kepulauan Maluku, tetapi selama ketegangan Natal 2000, kelompok militan Muslim juga menyerang beberapa restoran dan klub malam di ibu kota Jakarta.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5434630/original/088270900_1764936723-Infografis_Diskon_CMS.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5550896/original/089873500_1775711382-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-09T120454.556.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447727/original/020769000_1765962095-Hadiah_Natal_Kalender_Foto_Custom.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288624/original/094450800_1783327932-000_B9C996W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293466/original/077963300_1783718956-063_2285564351.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293456/original/054507100_1783717417-000_B9W36UY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293465/original/017817900_1783718956-063_2285562554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293455/original/048931800_1783717383-000_B9W36VN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110960/original/024723100_1783047145-sp7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289078/original/032461700_1783391107-bel11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291435/original/001786200_1783562166-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545332/original/045931400_1775182460-1fa2ab9d-1298-431e-a800-726df6e54877.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5544314/original/006170800_1775099008-Irak_lolos_piala_dunia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545527/original/023791400_1775197312-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5191298/original/037828900_1744950097-20250418-Prosesi_Jalan_Salib-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456466/original/009787700_1766890648-bc2b5539-f92b-4f92-af8a-a6f8aa63f2eb.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5468776/original/038038200_1768015024-isra_miraj7.jpg)