Kolaborasi Unhas-Kampus China, Perkuat Teknologi dan Konservasi Kelautan

Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University mengembangkan program Marine Ranching di Pulau Bone Tambung. Seperti apakah?

Diterbitkan 18 Desember 2025, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Unhas berkolaborasi dengan universitas China dalam program Marine Ranching di Pulau Bone Tambung.
  • Sains dan kolaborasi penting untuk inovasi serta solusi nyata bagi masyarakat pesisir.
  • Program ini fokus pada restorasi ekologi, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjalin kerjasama penelitian dengan Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University, China dalam program Marine Ranching.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat sektor kelautan dan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Program ini dijalankan di Pulau Bone Tambung, salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan Spermonde, yang berfungsi sebagai lokasi percobaan pengembangan teknologi kelautan.

Rektor Universitas Hasanuddin atau Unhas Jamaluddin Jompa menegaskan, sains memegang peran sentral dalam menghadapi tantangan pembangunan.

"Sains harus menjadi penggerak utama dalam merumuskan kebijakan dan memberikan solusi nyata yang langsung bermanfaat bagi masyarakat," ujar Jamaluddin, melansir Antara, Rabu (17/12/2025).

"Hasil penelitian tidak hanya sebatas publikasi, tetapi harus mampu diterapkan untuk memberikan manfaat nyata," sambung dia.

Kolaborasi ini diharapkan melahirkan inovasi baru, memperkenalkan metode yang relevan, dan terus diperbarui seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kolaborasi ini memiliki kontribusi strategis dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Unhas terus berkomitmen mendorong inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pembangunan sektor kelautan," kata Jamaluddin.

Kolaborasi Internasional Perkuat Ekonomi Biru dan Inovasi Teknologi

Prof. Liu Billin, perwakilan Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University, menyampaikan bahwa kolaborasi riset Inovasi Marine Ranching di Pulau Bone Tambung bertujuan menghadirkan model kerja sama lintas negara yang terintegrasi.

Kolaborasi ini memadukan restorasi ekologi, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Menurut Prof. Liu, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus dijaga, dengan teknologi sebagai penggerak utama inovasi, sekaligus memperkuat kerangka ekonomi biru yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang.

Program ini telah berlangsung selama lima tahun dan difokuskan pada konservasi di Pulau Bone Tambung, Kecamatan Sangkarrang.

Kegiatan yang dijalankan mencakup edukasi masyarakat pesisir, pemasangan terumbu karang buatan, dan penguatan pengelolaan ekosistem laut berbasis partisipasi komunitas.

Penguatan Kolaborasi Strategis untuk Keberlanjutan Sektor Perikanan dan Kelautan

Pertemuan strategis yang digelar di Pulau Bone Tambung menandai babak penting dalam upaya pengembangan sektor perikanan dan kelautan secara berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, semua pihak yang terlibat aktif membahas berbagai strategi peningkatan kerja sama di masa depan.

Diskusi ini juga menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan praktik pengelolaan sumber daya laut agar memberikan dampak yang maksimal bagi masyarakat pesisir.

Melalui kerja sama lintas institusi, penelitian terapan dan inovasi teknologi tidak lagi hanya berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan diarahkan untuk menghasilkan solusi yang langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan ekosistem.

Implementasi program marine ranching, termasuk edukasi masyarakat, pemasangan terumbu karang buatan, dan pengelolaan ekosistem berbasis partisipasi komunitas, menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi ini dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Dampak positif yang diharapkan mencakup perlindungan ekosistem laut, peningkatan pembangunan ekonomi lokal, dan penguatan ketahanan mata pencaharian masyarakat pesisir, sehingga kolaborasi ini menjadi tonggak penting bagi keberlanjutan sektor kelautan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6