Sepak Terjang Dewi Astutik: Pengajar 2 Bahasa, Penerjemah Kelompok Scam hingga Terlibat Peredaran Narkoba

Pelarian panjang Dewi Astutik alias Mami (43), otak penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle, akhirnya terhenti.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelarian panjang Dewi Astutik alias Mami (43), otak penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle, akhirnya terhenti setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) meringkusnya di Kamboja.

Di balik sepak terjangnya sebagai bandar narkoba, Dewi ternyata pernah hidup sebagai pengajar bahasa Inggris dan Mandarin dengan gaji sekitar Rp20 juta per bulan.

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto mengungkapkan, Dewi masuk ke Kamboja pada Februari 2023. Sebelum terjerat narkoba, Ia bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris dan Mandarin di beberapa tempat kursus dengan pendapatan sekitar Rp20 juta per bulan.

"Hasil pendalaman lanjutan, sebelumnya Yang bersangkutan di Kamboja kerja di beberapa tempat kursus Bahasa Inggris dan mandarin sebagai pengajar, perbulan pendapatan kurang lebih Rp 20 juta. Masih didalami," kata Suyudi kepada wartawan, Kamis (4/12/2025).

Namun, pada Februari 2023, Dewi Astutik mulai berpindah haluan ketika bekerja sebagai penerjemah di kelompok scamming. Pekerjaan itu hanya bertahan sebulan karena ia merasa tak cocok.

"Dari analisa dan pendalaman yang bersangkutan PAR alias DA (Dewi Astutik) bersentuhan dengan fenomena Scamming di Cambodia, Tahun 2023 bulan februari di kamboja, PAR Als DA (Dewi Astutik pernah menjadi translater/ penerjemah di tmpt scamer/ scam love, karena cepat menghasilkan uang, tapi hanya 1 bulan dan mengundurkan diri karena merasa tdk bisa/tidak cocok bekerja di tempat tersebut," ucap Suyudi.

 

Hidup Berubah Drastis

Namun hidup Dewi berubah drastis ketika pada awal 2024 ia bertemu warga Nigeria berinisial DON. Sosok DON ini menjadi penyokong, pelindung, dan penentu arah langkah Dewi selama di Kamboja.

"Akhirnya singkat cerita bertemu orang Niger inisial DON. DON inilah yang menjadi caretaker dan Godfather PAR alias DA selama di Cambodia karena di Cambodia PAR merasa bisa kendalikan semua jaringan dengan uang. Untuk detail pihak-pihak yang membantu selain DON, sedang dalam penyelidikan dan pendalaman," terang Suyudi.

Dalam operasinya, Dewi menyiapkan pengemasan hingga mengatur alur kurir ke berbagai negara. Sementara DON memasok barang dan membiayai jaringan.

"Dari pendalaman belum dtemukan modus lain, selain rekruit kurir, atur perjalanan kurir, atur penyiapan barang/narkotika guna selundupkan kurir rekruitannya ke beberapa negara. Hanya kejahatan Narkotika lintas negara, Asia, Afrika, Amerika Latin," cerita Suyudi.

DON kini sudah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat karena masuk daftar pencarian DEA.

"Infonya DON menjadi DPO US DEA, sudah ditangkap dan dibawa ke US," papar dia.

Selama menjalankan aksinya di Kamboja, Dewi tercatat beberapa kali keluar masuk Thailand dan Hong Kong. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memperbarui visa. Sementara ke Indonesia, ia tidak berani pulang karena sudah berstatus buronan.

"Terkait perpindahan negara selama beroperasi dari Cambodia yang masuk kamboja Tahun 2023, lakukan kejahatan narkotika awal 2024, Selama di kamboja dan keluar dari Kamboja termonitor 2 kali ke Thailand dan Hongkong karena visanya habis dan harus keluar dulu dari Kamboja. Kalau ke Indonesia yang bersangkutan tidak berani masuk, karena sudah menjadi DPO," tandas Suyudi.

 

Terungkap Sosok 'DON' The Godfather, Orang Penting di Balik Jejak Dewi Astutik jadi Gembong Narkoba

Sebelumnya, BNN mendalami sepak terjang Dewi Astutik alias Mami otak penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle. Dewi diringkus Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI di Sihanoukville, Kamboja.

Hasil penyelidikan awal, Dewi datang ke Kamboja untuk mencari cuan melalui scamming sebelum akhirnya terlibat jaringan narkoba kelas kakap.

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto mengungkapkan, hasil pendalaman menunjukkan Dewi terlebih dulu terlibat dalam sindikat penipuan daring di Kamboja. Perempuan itu disebut masuk pada Februari 2023 dan sempat bekerja sebagai penerjemah di kelompok scam love.

"Tapi hanya 1 bulan dan mengundurkan diri karena merasa tidak bisa/tidak cocok bekerja di tempat tersebut," kata Suyudi kepada wartawan, Kamis (4/12/2025).

Usai keluar dari tempat scam, Dewi justru bertemu warga Nigeria berinisial DON. Lelaki itu menjadi sosok penting dalam perkembangan Dewi Astutik. DON disebut sebagai “caretaker” sekaligus “Godfather” Dewi selama berada di Kamboja.

Lewat perlindungan DON, Dewi merasa bisa mengendalikan jaringan apa pun dengan uang. DON inilah yang menjadi caretaker dan Godfather PAR als DA (Dewi Astutik) selama di Cambodia. Karena di Cambodia PAR (Dewi Astutik) merasa bisa kendalikan semua jaringan dengan uang," ucap dia.

Dari situ lah, keduanya membangun pola kerja yang menghubungkan Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Peran Dewi adalah mengatur kurir dan menyiapkan pengemasan narkoba, sementara DON menjadi pemasok barang sekaligus penyandang dana seluruh operasi.

"Untuk detail pihak-pihak yang membantu selain DON, serang dalam penyelidikan dan pendalaman, ucap dia.

Kolaborasi akhirnya terhenti. DON lebih dulu ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat, sementara Dewi masuk daftar red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024 dan juga menjadi buronan pemerintah Korea Selatan.

"Infonya DON menjadi DPO US DEA, sudah ditangkap dan dibawa ke US," ucap dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6