BPBD: 11 Kecamatan di Serdang Bedagai Sumut Terendam Banjir Akibat Hujan Lebat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Serdang Bedagai menyampaikan, sebanyak 11 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut) terendam banjir dampak hujan lebat yang mengguyur.

Diterbitkan 28 November 2025, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 11 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut) terendam banjir dampak hujan lebat yang mengguyur daerah tersebut.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Serdang Bedagai Rahman Purba mengatakan, akibat terendamnya 11 kecamatan tersebut, sedikitnya ada 2.000 kepala keluarga yang terdampak.

Sebanyak 11 kecamatan tersebut yakni Sipispis, Tebing Syahbandar, Dolok Masihul, Perbaungan, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin, Sei Rampah, Tebing Tinggi, Tanjung Beringin, Bandar Khalifah dan Sei Bamban.

"Jumlah ini kemungkinan masih akan terus bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan," ujar Rahman, melansir Antara, Jumat (28/11/2025).

Dia menjelaskan, dalam upaya penanganan bencana, Pemkab Serdang Bedagai bergerak cepat dengan mengerahkan tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, aparat kecamatan dan desa, serta unsur terkait lainnya untuk melakukan pemantauan, evakuasi, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.

Kemudian, Wakil Bupati Serdang Bedagai Adlin Tambunan memerintahkan kepada seluruh tenaga kesehatan baik di puskesmas, RSUD dan petugas bencana terkait untuk siap siaga melayani masyarakat.

"Kita sudah minta seluruh nakes baik di puskesmas dan lainnya untuk siaga, siap melayani masyarakat, turun ke posko dan lokasi banjir untuk memberikan layanan kesehatan. Dan bagi petugas lainnya juga siap melakukan tindakan yang dibutuhkan baik di posko, dapur umum dan permukiman warga lainnya yang membutuhkan pertolongan," ucap dia.

 

Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Adlin juga mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi peningkatan debit air mengingat kondisi cuaca yang belum stabil.

Masyarakat diminta untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan segera melaporkan kepada aparat setempat apabila terjadi kondisi darurat.

"Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Kami mengimbau seluruh warga untuk tetap waspada, menghindari area rawan banjir, dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama," terang Adlin.

Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai juga menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi dan melakukan langkah-langkah penanganan secara terpadu, baik dalam masa tanggap darurat maupun pada tahap pemulihan setelah bencana.

"Dengan kerja sama seluruh pihak, diharapkan kondisi banjir dapat segera surut dan aktivitas masyarakat kembali normal. Pemkab Serdang Bedagai mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong dan saling membantu, bahu-membahu menghadapi musibah ini," pungkas Adlin.

 

Banjir Sumatera, Ini Penjelasan BMKG Terkait Siklon Tropis Senyar dan Koto

Sebelumnya, bencana banjir dan longsor yang terjadi di Pulau Sumatera, mencakup Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) dipicu oleh Siklon Tropis Senyar dan Siklon Koto.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, Kepulauan Riau (Kepri) juga bisa terdampak dua siklon ini.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah Kepulauan Riau mewaspadai dampak Siklon Tropis Senyar dan Koto, yang berpotensi terjadi hingga tiga hari ke depan.

"Dampak dari siklon adalah berkumpulnya awan potensi hujan, angin kencang yang dapat memicu gelombang tinggi dan pohon tumbang," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, Jumat (28/11/2025). Dikutip dari Antara.

Kemunculan Siklon Tropis Senyar dan Koto ini perlu diwaspadai, karena siklon tropis ini masih terus bergerak, jika pergerakannya menuju Laut China Selatan (letak Provinsi Kepri), dampak serupa bisa dialami Kepri.

"Kecuali jika pergerakannya baik Siklon Senyar maupun Siklon Koto ke arah Laut China Selatan," katanya menekankan.

Fenomena Siklon Tropis Senyar dan Siklon Koto yang terjadi di Selat Malaka ini bisa dibilang sebagai yang pertama dalam sejarah manusia. Karena siklon tidak tumbuh di sepanjang garis Ekuator di mana Indonesia berada.

Secara fisika, siklon akan melemah atau punah ketika bergerak sekitar Ekuator, apalagi di Laut China Selatan yang tergolong sebagai lautan yang sempit.

"Laut China Selatan itu kan laut sempit. Biasanya siklon akan tumbuh awalnya di laut lepas, laut luas. Ini malah di laut sempit dan bahkan bergerak ke daratan," katanya.

"Artinya perubahan iklim ini sudah nyata. Memang (siklon) ini tidak wajar, tumbuh siklon ini tidak pernah ada siklon itu apalagi di dekat Sumatera," katanya melanjutkan.

Walaupun demikian, lanjut dia, dalam lima tahun terakhir cukup banyak sistem siklon yang mendekati Indonesia dan memberikan dampak signifikan seperti terjadi di perairan Bengkulu, dan siklon Cempaka pada tahun 2017 berdampak di Cilacap dan Yogyakarta.

Adanya kemunculan Siklon Tropis Senyar dan Koto ini, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadi hujan yang disertai angin kencang.

Kemudian ketinggian gelombang juga berpengaruh, karena gelombang tinggi dipicu angin, semakin kuat angin makan semakin tinggi gelombang.

"Untuk transportasi laut diwaspadai untuk nelayan, dan segala macam yang beraktivitas di laut lebih diperhatikan gelombang lautnya, akan berbahaya jangan dipaksakan untuk melaut atau belayar," kata Ramlan.

"Kemudian juga untuk masyarakat di sekitar pegunungan, pesisir ini berdampak juga jika terjadi hujan lebat berpotensi akan terjadi longsor, banjir ataupun banjir bandang, (potensi) ini bisa diperhatikan," sambungnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6