Kisah KPK di Balik Penangkapan Lukas Enembe: Penyidik Cium Tangan sampai Susah Cari Pesawat

KPK mengungkap proses panjang dan penuh tantangan dalam upaya menangkap mantan Gubernur Papua Lukas Enembe, yang terlibat korupsi dengan nilai fantastis dan kerap menghindari panggilan.

Diterbitkan 19 November 2025, 00:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Lukas Enembe mungkin menjadi salah satu dari sekian daftar nama gubernur yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nilai korupsinya terbilang fantastis, sebab menyelewengkan dana APBD Provinsi Papua hingga Rp 1 miliar 1 hari untuk makan dan minum.

Sosoknya juga dinilai licin, setiap dipanggil selalu mengaku sakit, padahal ramai diberitakan bahwa yang bersangkutan kerap terlihat berkeliaran dengan pengawalan ketat loyalisnya.

Ternyata di balik kesulitan tersebut, (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu mengungkap kisah perjuangan panjang dalam prosesnya.

Mulai dari hujatan, sewa pesawat hingga menggunakan cara yang sopan saat membekuk yang bersangkutan.

“Perkara Pak Gubernur LE (Lukas Enembe) itu kami kesana berkali-kali sampai kita juga dihujat di media, dihujatnya kenapa enggak segera ditangkap? padahal dia di sana berkeliaran, padahal katanya sakit jadi memang tidak mau datang ke Jakarta saja, padahal kami sudah panggil dua kali, tidak mau datang dan lain-lain, tapi malah mengerahkan orang-orangnya,” ujar Asep saat forum diskusi KPK bertema ‘Menyambung Cerita Menegakkan Integritas’ di Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025).

Asep pun mengutus tim kecil untuk merapat ke Papua. Tim berhasil mendeteksi adanya pergerakan yang bersangkutan akan pergi dari rumahnya ke daerah perbatasan dengan menggunakan pesawat, karena dari sana antar kabupaten naik pesawat. 

“Lalu saya minta perbantuan perkuatan pasukan karena di sana sekitar jam 7 pagi jadi di Jakarta jam 5 pagi di Jakarta. Saya telepon, minta perkuatan, karena ini mau ditangkap. Saya telepon lah teman-teman yang di sana kebetulan kawan-kawan satu angkatan (Polri). Tapi saya tidak bilang mau nangkap, hanya bilang minta perkuatan saja,” tutur Asep.

 

 

Penyidik Cium Tangan Lukas Enembe

Singkat cerita, ketika perkuatan sudah datang, Asep memastikan tim siap bergerak menuju Sentani. Tak lama berselang, Lukas pun tertangkap dengan cara yang tidak disangka-sangka. Sebab dengan banyaknya bodyguard mengelilingi Lukas Enembe, dikhawatirkan bisa terjadi bentrok.

“Jadi saat mau ditangkap, Lukas Enembe dikelilingi sama banyak bodyguard. Lalu bagaimana menangkapnya? saat itu anggota melihat Lukas di tempat makan, saat mau keluar, anggota mendatanginya dan langsung cium tangan, lalu dibisikin bapak mari kita ikut ke tempat Brimob, bapak mau diperiksa dulu sebentar,” cerita Asep.

Asep mengaku saat anggotanya hendak mendekat dan mencium tangan Lukas Enembe, hal itu dilakukan dengan sopan dan santun. Lukas yang tidak menaruh curiga kalau mereka adalah penyidik KPK akhirnya berhasil membawanya ke Markas Brimob Polda Papua dengan mobil rantis.

 

Sulit Mencari Pesawat

Asep melanjutkan, perjalanan membawa Lukas Enembe ke Gedung Merah Putih Jakarta belum selesai. Masalah berikutnya adalah minimnya ketersediaan pesawat. Dia mengaku, tidak ada pesawat yang bisa langsung terbang ke Jakarta karena hanya tersisa pesawat kecil.

“Kami harus membagi jumlah anggota, dari total 24 orang akhirnya diseleksi yang bisa ikut hanya yang berbobot 70kg ke bawah. Sisanya masih tinggal di Markas Brimob,” tutur dia.

Sesampainya di bandara, Lukas Enembe akhirnya diangkut dengan pesawat kecil dan hanya bisa maksimal sampai Manado. Karena jarak tempuh pesawat kecil yang terbatas, maka Asep pun mencari cara untuk mencapai Jakarta.

“Nah ini yang jadi masalah, kita belum ada pesawat dari Manado ke Jakarta, Ini kami bingung carter pesawat kan enggak segampang carter mobil, gimana caranya? Lalu ada teman telepon dari Densus, Pak Herimen (saat ini menjabat Kapolda Riau), kang lagi ngapain? saya jawab lagi nyari pesawat, pesawat mainan? dia tanya, pesawat beneran, saya jawab. Dari mana? ditanya lagi, saya mau menjemput orang di Manado, bisa gak (dibantu)? Bisa, jawab Herimen,” cerita Asep. 

Setelah menunggu, akhirnya pesawat yang dipesan pun datang. Namun ternyata yang datang bukanlah pesawat yang dibayangkan, melainkan pesawat besar. Asep pun kembali bingung karena tidak bawa uang untuk bayar pesawat sebesar Boeing 737.

“Saya bilang ke Herimen tidak bawa duit, dia bilang udah gampang ngutang dulu itu pesawatnya. Nyarter mobil ke Bandung aja sejutaan, lalu ini nyarter pesawat besar berapa? tapi akhirnya bisa ditanganni dan bisa membawa Lukas Enembe ke Jakarta,” pungkas Asep.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6