Siswa Ledakan SMAN 72, Antara Dendam dan Teka Teki Dugaan Bullying

Sedikit demi sedikit fakta terungkap di balik ledakan di SMAN 72 Jakarta. Pelaku kini sudah menyandang status anak berurusan dengan hukum adalah murid di sekolah tersebut.

Diterbitkan 13 November 2025, 05:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sedikit demi sedikit fakta terungkap di balik ledakan di SMAN 72 Jakarta. Pelaku yang kini sudah menyandang status anak berurusan dengan hukum adalah murid di sekolah tersebut.

Pelaku menjalankan aksinya itu tunggal. Tetapi dalam misinya ini, dia cukup terlatih. Meski bom rakitannya berdaya ledak rendah, namun cukup membahayakan. Terbukti dari banyaknya murid-murid mengalami luka serius dalam peristiwa itu.

Belum banyak keterangan bisa digali dari yang bersangkutan. Sebab, siswa yang identitasnya dirasakan itu masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Pelaku mengalami luka dalam aksi terornya itu. Dia terkena serpihan dari empat bom yang meledak di Jumat (7/11/2025).

 

Dendam Buntut Bullying?

Hasil penyelidikan sementara, pelaku melakukan aksi teror itu karena dendam sering ditindas. Tetapi siapa yang membuat merasa dendam, belum diketahui.

"Bahwa (pelaku) merasa perasaan tertindas, merasa kesepian tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa, lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam,” kata PPID Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya.

Santer kabar, pelaku kerap di-bully selama bersekolah di sana. Pelaku bahka tak terlalu banyak bergaul. Isu itu diperkuat pengakuan seorang siswa inisial S, siswa kelas XI SMAN 72 Jakarta.

"Saya dapat info katanya pelakunya terindikasi siswa. Mungkin karena dia tuh korban bully jadi ingin balas dendam," tutur S di lingkungan SMAN 72 sesaat setelah ledakan terjadi.

Tetapi polisi, enggan berspekulasi terlalu dini. Menggali keterangan banyak pihak termasuk pelibatan ahli terus dilakukan. Termasuk meminta keterangan guru dan murid.

Polisi tak ingin gegabah. Namun dipastikan, seluruh informasi yang berkembang akan didalami kebenarannya.

"Masih pendalaman agar fakta sebenarnya bisa ditemukan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto.

 

Hari-Hari Kesepian Pelaku

Walaupun belum dapat dipastikan pelaku adalah korban bullying, tetapi fakta memilukan terungkap saat proses penyelidikan berjalan. Ternyata, pelaku kerap kesepian saat menjalani hari-harinya. Bahkan, dia tidak punya tempat untuk sekadar berkeluh kesah.

Selama ini, pelaku memang tinggal bersama ayahnya. Sementara ibunda sudah pergi meninggalkannya bekerja sebagai TKI.

Kondisi itulah yang diduga menjadi pemicu utama pelaku berani melakukan teror terhadap sekolah dan teman-temannya sendiri.

"Ada dorongan yang bersangkutan merasa sendiri kemudian merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesah," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin.

Polisi menyakini apa yang dilakukan pelaku bukan seperti aksi teror pada umumnya. Diduga kuat, kekecewaan demi kekecewaan yang dialaminya itulah menjadi pemantik dia nekat meledakkan sekolah.

Dalam kesendiriannya, pelaku juga kerap masuk ke dalam dark website. Aktivitas yang dilakukannya senang melihat ada kematian. Tak hanya itu, pelaku juga kerap menonton video aksi teror di dunia. Bahkan para pelakunya, dianggap sebagai inspirasi.

Hingga kini, pelaku masih dalam perawatan. Data per Rabu 12 November 2025, 68 orang di antaranya telah diperbolehkan pulang. Sedangkan 28 orang lainnya masih menjalani perawatan.

Untuk 28 orang yang masih menjalani perawatan tercatat ada 13 orang di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, satu orang di Rumah Sakit Polri dan 14 orang di Rumah Sakit Yarsi.

"Sedangkan seluruh korban di Rumah Sakit Pertamina, Balai Kesehatan Lantamal dan Puskesmas Kelapa Gading sudah diperbolehkan pulang," kata Asep.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6